
Deg.
Kaylin menatap Edgar tanpa kata, begitu pun sebaliknya. Keduanya saling menatap dengan perasaan yang berbeda, namun bermuara pada satu rasa saling menyayangi.
"Terima kasih Ed," Kaylin memeluk sepupunya.
"Hei ini tidak gratis, kau harus carikan aku kekasih." Candanya sambil tertawa.
"Ck.. bukankah kau sudah memiliki kekasih?" Kaylin mengurai pelukannya dengan kesal.
"Ya, tapi di Jakarta aku tidak punya."
"Sialan kau!" Kaylin mencubit pinggang sepupunya. "Eh tunggu dulu, sepertinya aku punya kandidat yang cocok untukmu."
"Siapa?" Edgar menautkan kedua alisnya.
"Raline Moses..." Ucap Kaylin dengan tertawa keras.
"What? Kau bercanda ya." Edgar menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja aku bercanda, mana mungkin aku memberikan sepupuku yang tampan ini pada wanita licik seperti Raline." Kaylin masih mengingat kebohongan yang dilakukan Raline. Entah sudah berapa banyak kebohongan yang dilakukan wanita itu selama tinggal di mansion Moses.
"Ck, sifat posesif mu itu tidak pernah berubah." Edgar ikut tertawa. Ya, sifat Kaylin yang satu ini sepertinya sudah mendarah daging. Pantas saja jika Kaylin masih tetap bertahan di sisi pria yang dicintainya walaupun pria itu tidak mencintainya.
"Kaylin Meyer..." seru Kaylin, lalu keduanya kembali tertawa.
"Oh ya bagaimana keadaan bayimu?" Edgar mengusap perut Kaylin dengan perasaan campur aduk antara bahagia dan sedih.
Bahagia karena wanita yang dicintainya sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu, dan sedih karena harus menerima kenyataan bayi itu milik pria lain.
"Keadaannya baik." Bagaimana tidak baik dokter selalu datang ke mansion untuk mengontrol kehamilannya. Terhitung satu Minggu sekali dokter kandungan kepercayaan keluarga Moses memeriksa keadaannya juga bayinya.
"Aku senang mendengarnya," Edgar masih terus mengusap perut Kaylin, sampai sebuah tangan dari belakang menghempas dengan sangat kuat.
Edgar pun ikut terkejut, ia tidak menyangka Alexander bisa dengan cepat menemukan keberadaan mereka, itu artinya Alexander memiliki kekuasaan dan kekuatan yang tidak main-main.
"Tidak ada yang boleh menyentuhnya selain aku!" Alex menatap tajam dengan aura membunuh di kedua matanya.
"Oh ayolah aku hanya ingin menyapa keponakanku." Ucap Edgar dengan santai.
Alex semakin emosi hingga rahangnya mengeras menahan amarah.
"Alex kau ada disini?" Kaylin yang tahu pria itu tengah emosi pada Edgar, mencoba mengalihkan atensinya.
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau ada disini? Bukankah sudah aku katakan kau tidak boleh keluar dari Mansion." Sentak Alex dengan emosi karena begitu mengkhawatirkan Kaylin dan kandungannya.
"Jangan membentaknya!" Edgar tidak terima Kaylin di sentak seperti itu.
"Kau..."
"Alex...!" Kaylin dengan segera berdiri di antara suami dan sepupunya, meskipun ia masih terkejut dengan bentakan yang dilakukan Alex, namun Kaylin tidak bisa diam saja saat melihat tangan suaminya yang terkepal terangkat keatas hendak memukul Edgar. "Baby kita ingin jalan-jalan ke taman, jadi aku meminta Edgar untuk mengantarku." Bohong Kaylin.
Emosi di hati Alex mereda setelah mendengar penjelasan Kaylin, apalagi saat melihat Kaylin mengusap perutnya. Jika sudah berhubungan dengan bayi yang ada di dalam kandungan wanitanya Alex tidak bisa berkutik.
"Kay masuk ke mobil, sekarang!"
"Baiklah, ayo Ed!" Kaylin merangkul sepupunya.
"Tunggu! Untuk apa dia ikut?" Alex menahan lengan Kaylin.
"Tentu saja Ed harus ikut, karena dia akan tinggal bersama kita selama di Jakarta."
"Apa?" Alex yang terkejut sampai membelalakkan kedua matanya.