One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 86



Alex tidak menjawab dengan perkataan namun dengan perbuatan, merengkuh tengkuk Kaylin lalu mencium bibir wanitanya dengan sangat menuntut.


"Alex hentikan!" lagi Kaylin mendorong Alex setelah tautan bibir mereka terlepas. Ia tidak mau bercinta dengan Alex walaupun begitu menginginkannya. Karena Kaylin tidak mau melakukan hubungan itu di saat dirinya tahu Alexander kemungkinan besar mencintai Raline.


"Kenapa? Apa kau tidak menginginkannya?"


Kaylin menundukkan kepala. Alex yang mengerti menghela napas kasar sembari melepas pelukannya, kembali menghadap balkon. Walaupun Alex sangat ingin melakukannya, setelah tadi sempat menghubungi dokter kandungan pribadi untuk menanyakan kondisi kandungan Kaylin yang tenyata sudah membaik. Tapi jika wanitanya tidak mau, ia tidak akan memaksa.


"Kunci kamar ada di saku jas, kau turunlah lebih dulu untuk makan malam." Ucap Alex tanpa menatap kebelakang.


Kaylin berjalan menjauh dengan perasaan ragu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali pada Alex dengan memeluk pria itu dari belakang.


"Lakukanlah!" ucapnya tanpa ragu.


"Kau yakin?" Alex membalik badannya kembali.


Kaylin menganggukkan kepalanya, memberanikan diri mencium Alexander lebih dulu. Ya, Kaylin berubah pikiran saat teringat pada Raline. Wanita licik itu saja selalu mencari kesempatan untuk berdekatan dengan Alexander, tapi kenapa dirinya yang berstatus istri sah justru menolak saat Alex menginginkannya.


Walaupun Kaylin sadar Alex belum mencintainya, tapi setidaknya pria itu sudah berjanji hanya dialah wanita satu-satunya di hidup Alex.


Sementara itu dari tempat yang berbeda, atau lebih tepatnya di bawah balkon kamar utama. Edgar dan Raline yang berada di tempat yang sama dengan jarak yang berbeda kini tengah menatap keatas balkon dimana pasangan suami-istri tersebut terlihat sedang berciuman dengan sangat panas.


"Tidak bisa, ini tidak boleh terjadi." Raline mengepalkan kedua tangannya dengan erat, setelah melihat pemandangan yang merusak mata dan hatinya. Apalagi saat melihat Kaylin dan Alex yang kini masuk ke dalam kamar tanpa melepaskan ciuman mereka.


"Kau mau kemana?" Edgar yang menyadari Raline hendak pergi dari tempat tersebut menarik tangan wanita itu. Membuat keduanya kini saling menatap dengan tajam.


"Lepaskan!" Raline ingin menghempaskan tangan Edgar, namun tidak berhasil karena pria itu mencengkram tangannya dengan erat.


"Jangan menganggu mereka!" Ucap Edgar dengan tegas.


"Cih, siapa kau yang berani mengaturku? Lagi pula siapa yang ingin menganggu siapa? Kau itu tidak jelas." Raline menarik lengannya lebih keras hingga terbebas dari cengkraman pria itu.


"Kau tahu benar apa maksudku, jadi jangan pernah berani mengusik mereka!" Edgar berlalu dari tempat tersebut setelah memberikan peringatan pada Raline.


"Hei.. kau mengancam ku?" teriak Raline.


Edgar terus berjalan tanpa mempedulikan Raline. Dia tidak sudi berbicara lebih lama dengan wanita penggoda seperti Raline, karena hanya akan mengingatkan dirinya pada wanita yang melahirkannya ke dunia, wanita yang bersedia menjadi istri kedua hanya demi sebuah harta.


Dan kini dia terjebak di antara perebutan harta keluarga Collins yang membuatnya memilih pergi ke Jakarta untuk mundur sejenak dari kisruh yang terjadi di keluarga besarnya, dan beruntungnya Kaylin kemarin menghubunginya jadi disinilah dia berada untuk membantu Kaylin, sekaligus rehat sejenak dari permasalahan yang ada di Singapura.


"Sial!" umpat Raline saat Edgar pergi berlalu begitu saja tanpa mempedulikannya. "Tidak, aku tidak boleh menyerah." Raline pun memutuskan untuk ke kamar Alexander dengan satu tujuan, yaitu menganggu pasangan suami istri tersebut.