
Kaylin yang merasa bosan menunggu pelayan membawa pesanan mereka, memilih beranjak dari tempat duduknya.
"Aku ke toilet dulu."
"Aku temani." Alex hendak beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu, aku sendiri saja." Kaylin berjalan menjauh menuju toilet, meninggalkan Alex dan Raline yang kini hanya duduk berdua di meja tersebut.
"Apa yang kau katakan pada Kaylin sampai dia mengira aku yang menyuruhmu datang ke kantor?" tanya Alex pada akhirnya setelah menunggu momen dimana mereka hanya berdua, untuk meminta penjelasan tentang percakapan mereka saat di kantor tadi.
Raline menghela napas panjang, ia tahu cepat atau lambat Alex pasti akan bertanya kenapa dia berbohong. "Aku hanya mengatakan kakak menyuruhku datang ke kantor minta ditemani makan, apa salah? Lagi pula aku yang datang sendiri atau kakak yang menyuruhku sama saja bukan?"
Alex terdiam menatap Raline dengan intens. Sementara Kaylin yang kembali ke mejanya karena berubah pikiran ingin ditemani oleh Alex, justru mendengar semua perkataan adik iparnya tersebut.
Ia tak menyangka Raline berbohong kepadanya dengan mengatakan Alex lah yang menyuruh wanita itu datang ke kantor, entah apa tujuan adik iparnya melakukan hal tersebut. Tapi yang jelas Kaylin merasa kesal karena Alex hanya diam saja saat mengetahui kebohongan adiknya, dan justru ikut menutupi kebohongan tersebut. Meskipun kebohongan yang dibuat Raline sesuatu yang sepele, tapi tetap saja aneh bagi dirinya. Kaylin yang sudah tidak bisa menahan emosinya hendak mengumpat kakak beradik itu, namun langkah kakinya terhenti saat mendengar ucapan Alex.
"Jangan lakukan lagi! Aku tidak mau ada kesalahpahaman."
"Kesalahpahaman bagaimana?Jangan katakan kakak ipar cemburu padaku?" Raline tersenyum sinis.
Alex diam tidak menjawab pertanyaan Raline, karena dia tidak ingin membasah masalah kecemburuan Kaylin.
"Oh my God, jadi kakak ipar cemburu padaku?" tebak Raline dengan berpura-pura terkejut saat Alex diam saja, namun dalam hati ia merasa senang jika memang wanita itu cemburu padanya. Padahal apa yang dilakukannya selama ini barulah permulaan, ia belum memberitahu Kaylin status nya yang hanya seorang adik tiri, bisa-bisa wanita itu mati berdiri karena cemburu saat mengetahui kenyataan tersebut. "Oh ayolah kak, aku Adikmu." Raline merajuk dengan manja.
"Menjaga sikap seperti apa kak? Bukankah kita —"
Ehem.
Alex juga Raline langsung terdiam saat mendengar suara berdeham dari belakang.
"Kay..." Alex terkejut melihat wanitanya cepat sekali kembali dari toilet.
"Aku berubah pikiran, temani aku ke toilet," Kaylin menarik tangan suaminya, meninggalkan Raline seorang diri di meja tersebut.
"Sial! Menganggu saja," umpat Raline dengan sangat kesal. Sungguh hari ini benar-benar hari sial bagi seorang Raline, karena rencananya untuk bisa bersama Alex gagal total karena kehadiran Kaylin, ditambah Alex kini mengetahui sisi nya yang lain yaitu bisa berbohong.
Dan selama makan siang itu berlangsung, baik Raline dan Kaylin saling diam tak terlibat pembicaraan sama sekali. Alex sendiri sibuk dengan ponselnya membalas pesan singkat yang dikirim oleh Boby, yang mengabarkan ada masalah yang terjadi di Riau yang mengharuskannya pergi saat ini juga. Jadilah Kaylin dan Raline diantar pulang oleh supir yang yang tadi membawa mereka ke kantor, karena Alex langsung pergi bersama Boby.
Sama seperti saat di restoran, selama di perjalanan menuju mansion baik Kaylin dan Raline masih saling diam tanpa ada yang mau memulai pembicaraan. Terutama Kaylin, setelah mengetahui kebohongan yang dilakukan adik iparnya, ia semakin dibuat kesal saat wanita itu meminta ikut pergi ke luar kota bersama Alex dengan alasan bosan berada di mansion. Beruntung Alex tidak mengijinkan wanita itu ikut, kalau sampai suaminya mengijinkan, Kaylin pun tidak mau kalah akan ikut bersama mereka.
"Nyonya ada tamu yang menunggu Anda," ucap pelayan setelah membuka pintu mobil untuk nyonya Kaylin.
"Tamu? Siapa?" tanya Kaylin sambil masuk ke dalam mansion. Wajahnya terkejut saat mengetahui sosok tamu yang menunggunya.