
Di saat yang bersamaan, Kaylin yang terbaring di atas ranjang pasien baru tersadar dari pingsannya.
"Kay..." Mario segera mendekat pada calon istrinya. "Apa kau baik-baik saja?"
"Aku..." Kaylin yang hendak menjawab, langsung terdiam saat netra nya menatap sosok Alex yang berdiri di belakang Mario, membuat ingatannya kembali pada kejadian saat tak sadarkan diri untuk kedua kalinya. "Aku hamil..." lirihnya sembari menatap perut datarnya yang tertutup pakaian pasien. Entah sejak kapan gaun pernikahannya itu diganti, tapi yang jelas ia tidak peduli karena yang ada di dalam pikirannya saat ini kabar tentang kehamilannya.
"Hamil?" pekik Mario dengan terkejut.
Sementara Alex hanya diam saja, menatap Kaylin yang tengah mengusap perutnya sembari menangis.
"Kay jangan menangis, tenangkan dirimu!" Cleopatra memeluk adik iparnya.
"Kak apa benar aku hamil?" tanya Kaylin di sela tangisnya.
Cleopatra tak menjawab pertanyaan tersebut, ia lebih memilih menenangkan Kaylin agar adik iparnya itu tidak pingsan lagi.
"Kak jawab aku?" Kaylin mengurai pelukan tersebut. "Aku tidak mungkin hamil kan? Karena kami melakukannya hanya satu malam dan dalam keadaan tak sadar," jelas Kaylin tanpa peduli jika Mario akan sakit hati mendengar ucapannya, tentang bagaimana ia berkhianat.
Ya, Kaylin sudah tidak peduli pada apapun termasuk acara pernikahannya dengan Mario yang kemungkinan gagal, mengingat keadaannya saat ini.
"Dokter mengatakan kau sedang hamil, dan usia kandunganmu —"
"Tidak.. tidak, oh My God mana mungkin aku mengandung benihnya!" ucap Kaylin dengan sengit sembari menunjuk pada Alex.
"Memangnya kenapa dengan benihku?" Alex mengetatkan rahangnya, tak terima dengan ucapan Kaylin yang terdengar tidak mau mengandung keturunannya.
Belum sempat Kaylin menjawab, ia dibuat terkejut oleh Mario yang mengenggam tangannya dengan tiba-tiba.
"Ijinkan aku yang bertanggung jawab."
"Apa?" pekik semua orang, termasuk Kenan dan Boy yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Terkecuali Alex yang hanya diam dengan tangan terkepal erat, dan rahang yang mengeras.
"Kau gila, adik iparku tidak akan mungkin menikah denganmu," ucap Cleopatra dengan kesal, karena sejak tadi yang ada di pikiran Mario hanyalah melanjutkan pernikahannya dengan Kaylin, membuat ia curiga dengan alasan dibalik sikap pria itu yang terkesan memaksa.
"Kenapa tidak? Aku mencintainya, dia akan hidup bahagia denganku dari pada hidup bersama pria yang tidak memiliki apa-apa."
"Tapi tetap saja tidak bisa!" Cleopatra kini semakin geram. "Yang harus menikah dengan Kaylin, adalah pria yang sudah memberinya dp di dalam perut."
"Kak..." gerutu Kaylin dengan mengerucutkan bibirnya.
"Istriku benar, kau tidak bisa menikahi Adikku."
"Kenapa tidak bisa? Ayolah Ken, apa kau mau menikahkan Adikmu dengan pria miskin itu?" sindir Mario dengan menatap Alex, menatap pria yang sudah memberikan luka di sekujur tubuhnya terutama pada tangannya.
"Harus mau, dari pada dia menikahkan Adiknya dengan seorang ACDC."
"ACDC?" ucap semua orang yang ada di dalam ruangan dengan kening yang berkerut.
Sementara Mario mulai ketakutan, tangannya gemetar dan keringat dingin mulai tampak di wajahnya yang pucat.
"Apa maksudmu?" tanya Kenan.
"Apa kau tidak mengerti ACDC?" Alex balik bertanya dengan tersenyum sinis. Ia tidak menyangka akan membongkar kebusukan Mario, karena itu sama saja akan membuat Kenan merasa bersalah akan menikahkan Kaylin dengan seorang seperti Mario.
"ACDC itu sama saja dengan Biseksual," ucap Boy dengan tertawa. Akhirnya ia bisa bebas tertawa setelah menahannya cukup lama.
"Tidak mungkin," Kaylin menggelengkan kepalanya.
Sementara Kenan menatap tak percaya pada Mario yang terlihat ketakutan.