One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 104



"Tapi Ken, bukankah dia juga sedang di rawat?" tanya Cleopatra.


"Aku tidak peduli, sudah untung wanita licik itu aku bawa ke jalur hukum kalau tidak sudah aku lenyapkan tak bersisa." Ucap Kenan dengan penuh emosi, sampai membuat Cleopatra bergidik ngeri. Karena memang suaminya itu tidak akan pandang bulu menghadapi musuhnya, mau orang itu pria atau wanita.


*


*


Sementara itu Alex yang sudah tiba di mansion Moses menatap pada tempat dimana Kaylin terjatuh, dadanya terasa begitu sesak saat teringat bagaimana tubuh Kaylin yang tergeletak tak sadarkan diri. Sungguh Alex tak menyangka kejadian buruk itu menimpa keluarga kecilnya, dalam satu hari ia harus kehilangan dua orang yang sangat ia cintai. Calon anaknya yang ia jaga sedemikian rupa kini telah tiada, dan Kaylin yang bersikeras tidak mau ikut pulang bersamanya.


"Tuan Anda baik-baik saja?" tanya Boby saat melihat Alexander dari tadi hanya diam berdiri, menatap keatas lantai dengan tatapan yang sulit diartikan.


Alex yang ditanya hanya diam tak menjawab, ia justru meraih ponselnya yang berdering dimana nama Kakek Moses tertera di layar tersebut.


"Alex apa kau yang membawa masalah ini ke jalur hukum?" tanya Moses to the point setelah sambungannya terhubung. Karena di luar ruangan ada beberapa petugas yang meminta masuk menemui Raline untuk diminta keterangan.


"Tidak. Jika Anda menghubungiku hanya untuk membahas Raline akan aku tutup." Jawab Alex dengan dingin.


"Tunggu Alex! Kakek mohon datanglah kesini karena keadaan Raline sangat memperihatinkan. Sejak tadi dia selalu memanggil namamu, bahkan Raline nekat keluar dari ruang rawat untuk mencarimu."


Alex tidak menjawab permintaan kakek Moses, ia langsung memutus sambungan teleponnya begitu saja karena emosi. Apa kakeknya itu tidak mengerti, dia sudah tidak mau berurusan dengan seorang yang bernama Raline.


"Baik Tuan," jawab Boby.


"Kenapa kau masih di sini? Cepat cari!" Alex menatap geram pada asisten pribadinya itu.


"Sekarang Tuan?" tanya Boby tak percaya, karena tuannya itu menyuruh membeli sebuah mansion seperti sedang menyuruhnya membeli permen.


"Tentu saja sekarang. Cepat pergi! Dan jika pemilik mansion tidak mau menjual, paksa bagaimana pun caranya bila perlu membeli dengan harga tiga kali lipat." Karena Alex akan melakukan apa pun untuk membuat wanitanya itu kembali, atau setidaknya ia bisa berada di dekat Kaylin agar bisa menjaganya.


"Baik Tuan," Boby segera melaksanakan tugas yang diberikan Alexander.


Sementara itu di tempat yang berbeda, lebih tepatnya disebuah ruang rawat seorang wanita, terlihat kakek Moses tengah kewalahan menghadapi sikap Raline yang sejak ditinggal Alex beberapa jam yang lalu selalu berteriak histeris memanggil nama cucunya.


Dan sekarang ia baru bisa bernapas lega saat Raline mulai tertidur setelah dokter menyuntikkan obat penenang. Sungguh ia merasa bingung mengatasi masalah yang terjadi saat ini. Di satu sisi ia merasa sangat marah pada Raline karena sudah membuat keturunan Moses lenyap. Tapi di satu sisi lainnya, ia merasa tidak tega jika meninggalkan Raline begitu saja. Apalagi dulu Moses pernah berjanji pada menantunya untuk selalu menjaga Raline, karena hanya ia dan Alex anggota keluarga yang dimilki Raline.


"Apa yang harus aku lakukan? Apakah di usiaku yang tua ini aku tidak bisa hidup tenang." Gumamnya dalam hati dengan menghela napas lelah.


Entahlah apa yang akan terjadi kedepannya nanti, tapi yang pasti ia akan membawa Raline pulang untuk melakukan pengobatan mentalnya. Moses juga akan membatasi ruang lingkup dan semua fasilitas untuk Raline, agar wanita itu tidak lagi menganggu kehidupan Alexander dan Kaylin.