One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 27



Keesokan harinya.


Kaylin yang tengah tertidur pulas, perlahan membuka ke-dua matanya saat merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuhnya. Mata yang mengantuk itu spontan terbelalak dengan wajah yang terkejut, saat melihat sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya dengan posesif.


"Oh my God, apa yang sudah terjadi?" pekiknya dengan suara tertahan saat menyadari tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun, terlebih saat ia merasakan area intinya yang begitu sakit. "Tidak-tidak, ini pasti hanya mimpi!" Kaylin menutup kedua matanya, berhadap semuanya akan kembali normal setelah ia bangun nanti.


Namun apa yang diharapkannya justru berbanding terbalik dengan yang terjadi, ketika tubuhnya ditarik kebelakang oleh tangan kekar tersebut, hingga dapat ia rasakan punggung polosnya menyentuh tubuh yang berada dibelakangnya. Bahkan kini dapat ia rasakan sesuatu yang keras di bawah sana menekan bagian belakangnya, hingga membuat tubuhnya kaku tanpa berani bergerak sedikitpun.


"Sial! Jadi ini nyata," umpatnya dalam hati tanpa berani menengok kebelakang. Ia takut untuk mengetahui siapa sosok yang tidur di belakangnya, sosok pria yang telah mengambil kehormatan yang telah ia jaga selama ini.


Dalam keadaan panik dan bingung, Kaylin mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi tadi malam. Namun kepalanya yang terasa berat, dan rasa mual di perut membuat ia kesulitan untuk mengingat semuanya.


Kaylin hanya dapat mengingat pada malam itu ia pergi makan malam bersama Mario, lalu pria tersebut mendadak mengajaknya untuk menikah dan berakhir di sebuah club' mewah. Kaylin juga mengingat bagaimana dirinya yang banyak minum, hingga membuatnya mabuk parah.


"Ya Tuhan, aku kan sudah menerima lamaran Mario," ucap Kaylin setelah tersadar sembari merutuki apa yang telah terjadi. "Aku tidak boleh diam saja, aku harus pergi dari sini!"


Ya, Kaylin memutuskan untuk pergi secepatnya sebelum pria itu bangun dan meminta pertanggung jawaban darinya. Karena ia tahu betul jika sedang mabuk pasti melakukan hal yang konyol termasuk menyerahkan diri dengan sukarela pada seorang pria.


"Mau kemana kau?"


Deg.


Mendengar suara yang sangat ia kenali, sontak membuat langkah kakinya terhenti. Kaylin langsung menatap ke belakang, dan yang terjadi selanjutnya hanyalah sebuah teriakan yang menggema ke seluruh ruangan.


"Ka-kau! Ja-jadi kau yang ..." Kaylin menatap Alexander, menatap pria tampan yang bertelanjang dada itu lalu menatap tubuhnya yang langsung ia tutupi dengan kemeja yang ada ditangannya. "Alexander! Berani sekali kau menyentuhku!"


"Ck.. menyentuhmu?" Alex menghela napas sembari mengusap kasar wajahnya. "Kau lah yang menyentuhku duluan!"


"What? Ta-tapi mana mungkin?" ucap Kaylin dengan berbohong, karena ia sudah menebak pasti dirinya yang memulai apalagi pria itu ternyata Alexander. Pria yang pernah ia cintai, bahkan mungkin sampai dengan saat ini. Maka seratus persen Kaylin lah yang memaksa Alexander untuk menyentuhnya.


"Rupanya kau lupa apa terjadi tadi malam?" Alex turun dari atas tempat tidur, menyibak selimut yang menutupi tubuh polosnya.