
Alex, Edgar, Kaylin dan Raline kini duduk berhadapan dengan sosok pria tua yang memegang tongkat di tangannya. Pria tua yang sengaja datang ke Jakarta untuk menemui cucu dan cucu menantunya. Ya, pria tua itu adalah Tuan Moses, kakek dari Alexander Moses.
"Kakek kenapa tidak mengabari jika sudah sampai? Aku pasti akan menjemput di bandara." Ucap Raline dengan raut menyesal.
Moses hanya diam tak menjawab pertanyaan Raline, tatapannya sejak tadi tertuju pada satu sosok yang duduk di samping kanan Alexander. Sosok wanita muda cantik yang berstatus cucu menantunya yang tak segan menatapnya balik bahkan sejak ia duduk.
"Wanita muda siapa namamu?" Moses bertanya meskipun ia sudah tahu siapa nama wanita tersebut.
Semua orang kini menatap pada Kaylin, sementara yang ditanya hanya diam seolah tak mendengar pertanyaan yang diberikan Moses.
"Kay..." Edgar menyenggol lengan sepupunya.
Kaylin yang tersadar dari lamunannya menatap pada Edgar dengan bingung.
"Siapa namamu?" Moses mengulangi pertanyaannya.
"Aku?" Kaylin menunjuk pada dirinya sendiri yang mendapatkan anggukan kepala dari Moses. "Namaku Kaylin Meyer," jawabnya dengan tersenyum.
"Moses, Kaylin Moses." Koreksi Alex tanpa menatap pada wanitanya, karena saat ini tatapan hanya tertuju pada satu orang yaitu Kakek tua yang duduk dihadapannya. "Dan aku rasa Anda sudah mengetahui latar belakang keluarganya." Ucapnya dengan dingin.
"Hei anak muda aku tidak sedang berbicara denganmu." Sindir Moses tak kalah dingin pada cucu lelakinya.
Kaylin dan Edgar saling menatap bingung melihat interaksi dingin antara dua orang pria berbeda generasi itu. Sementara Raline memilih diam tidak berani ikut masuk ke dalam pembicaraan kedua pria yang sama-sama keras kepala dengan ego yang tinggi.
"Ck, sebenarnya apa tujuan Anda datang kemari? Jika ingin membuat masalah lebih baik kembali ke gurun pasir!"
Hahaha
Moses tertawa pelan masih dengan ekspresi dinginnya. Tak dipedulikannya ocehan Alexander yang seringkali tak mengenakan hati jika orang lain yang mendengar, namun bagi mereka hal tersebut sudah biasa.
Kaylin dan Edgar hanya tersenyum kaku, karena merasakan aura tegang di sekeliling mereka.
"Maaf sebenarnya Anda ini siapa?" tanya Kaylin memberanikan diri. Karena tadi Raline memanggil pria tua itu Kakek yang artinya pria itu juga Kakek Alexander, tapi kenapa kedua pria itu tidak seperti kakek dan cucu pada umumnya, justru seperti orang yang saling bermusuhan.
"Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Moses, kakek dari Alexander juga Raline."
"Ah.. jadi Anda benar kakek Alexander, itu artinya kakek juga." Ucap Kaylin dengan tersenyum. "Senang bisa bertemu dengan Anda Kakek Moses."
"Aku juga senang, akhirnya bisa bertemu dengan wanita yang mampu membuat seorang Alexander menukar kebebasannya agar bisa memberikan kemewahan untukmu."
Deg.
Kaylin menatap Alexander lalu menatap kembali pada kakek Moses. "Menukar kebebasan?" tanyanya dengan bingung.
Moses menganggukkan kepalanya dengan tersenyum meski senyuman itu begitu tipis sampai tak terlihat.
"Cucuku ini meninggalkan pekerjaan impiannya, untuk kembali ke keluarga Moses hanya karena ingin memberikan kemewahan untuk wanita yang dinikahinya."
Deg
Lagi-lagi Kaylin terkejut, begitupun dengan Raline yang baru mengetahui hal tersebut.
"Sudah selesai omong kosongnya? Kalau sudah silahkan Anda pergi!" Alex kembali mengusir kakeknya sembari berlalu dari tempat tersebut.
Hahaha
Moses kembali tertawa setelah berhasil melihat ekspresi kesal di wajah Alexander, ekspresi yang jarang ia lihat di wajah cucunya yang selalu datar dan dingin.