One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 93



"Alex kembali ke keluarga Moses dengan melepas pekerjaan impiannya demi aku? Demi hidup mewahku?" tanya Kaylin dalam hati pada dirinya sendiri. "Aku harus bertanya pada Alex." Kaylin pun memutuskan beranjak dari ruangan tersebut untuk menemui dan meminta penjelasan pada Alexander.


"Kau mau kemana?" Moses menatap tajam pada cucu menantunya yang berdiri dari tempat duduknya.


"Aku..."


"Duduklah!" ucap Moses dengan penuh penekanan, hingga membuat Kaylin mau tidak mau duduk kembali di tempatnya. "Kau juga!" Moses menatap Raline yang juga hendak pergi dari tempat tersebut.


Ke empat orang yang kini duduk diruangan tersebut kembali diam dengan segala pemikiran yang ada dibenaknya masing-masing. Terutama Edgar yang merasa tidak nyaman berada di ruangan tersebut, ingin pergi tapi tidak tega jika meninggalkan Kaylin sendirian menghadapi dedengkot Keluarga Moses.


"Tadi aku dengar kata pengusiran, siapa yang diusir dan siapa yang mengusir?" kini tak ada lagi tawa dibibir Moses, yang ada tatapan tajam pada dua wanita muda dihadapannya.


"Kakek..." Raline langsung mendekat pada kakeknya, karena ini kesempatan baginya untuk menghasut kakek agar tidak menyukai Kaylin, kebetulan juga tidak ada Alexander diruangan tersebut. "Kak Alex mengusirku karena dia!" tunjuknya pada Kaylin.


Moses menatap cucu menantunya sembari membenarkan letak kacamatanya. "Kenapa kau mengusir cucuku?"


"Karena aku tidak suka memelihara musuh di rumahku sendiri," ucap Kaylin tanpa rasa takut sedikit pun meski yang dihadapinya saat ini adalah kakek suaminya. Ia justru memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap Raline dengan begitu jelas pada kakek Moses.


"Musuh?" Moses mengerutkan keningnya yang sudah berkerut dimakan usia.


"Lihat kakek dia menganggap aku musuh, padahal aku adik Alexander bagian dari keluarga Moses yang artinya keluarganya juga."


"Apa maksudmu Nak?" walaupun tidak suka dengan ucapan Kaylin pada Raline, namun ia masih ingin mendengarkan penjelasan dari cucu menantunya itu.


"Sebelumnya aku minta maaf kakek, jika yang aku katakan ini akan membuatmu terkejut." Kaylin menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. "Raline mencintai Alexander."


"Tidak kakek, yang dibicarakannya itu bohong. Dia cemburu karena aku dekat dengan kakak itu sebabnya dia membenciku." Raline mulai menangis untuk menarik simpati kakeknya.


Moses menatap Kaylin dan Raline bergantian sembari menghela napas panjang. Inilah yang ia takutkan jika Raline dan Alex tinggal bersama lagi di satu atap yang sama. Namun karena keinginan Raline yang kuat untuk tinggal di Jakarta, akhirnya ia mengijinkan karena berpikir Alexander sudah menikah.


Namun semua sudah terjadi, seandainya saja ia bisa menyogok anak buah Alexander untuk bisa memberikan semua informasi yang terjadi di mansion ini, pasti dirinya akan tahu lebih awal permasalahan yang terjadi di antara cucu dan cucu menantunya.


"Itu tidak mungkin Nak, karena Alexander dan Raline kakak beradik." Sahut Moses tanpa takut cucu menantunya itu sudah mengetahui hubungan Alexander dan Raline yang sebenarnya. Karena semua data tentang Raline sudah di sembunyikan rapat olehnya, kecuali Alexander sendiri yang mengatakan pada wanita itu kalau Raline bukan adik kandungnya.


"Mereka bukan saudara kandung, aku sudah tahu semuanya."


"Kau sudah tahu rupanya." Moses menganggukkan kepalanya dengan perlahan. "Tapi tetap saja kau tidak boleh mengatakan sesuatu tanpa bukti yang jelas, apalagi menuduh Raline seperti itu. Dan sebaiknya kita tidak perlu membahas permasalahan ini lagi." Karena ia tahu Alex lah yang mencintai Raline, tapi Raline sepertinya tidak karena wanita itu sudah memiliki kekasih.


Raline tersenyum dibalik tangisnya, sementara Kaylin menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan Kakek Moses. Kini ia tahu persamaan dari kakek tua itu dengan Alexander, yaitu sama-sama selalu membela Raline.