One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 76



Ck..


Sudah empat kali Raline mendengar Alex berdecak kesal, sejak mereka masuk ke dalam mobil meninggalkan Kaylin berdua bersama sepupunya di mansion Moses.


"Sial, kenapa aku merasa Alex tengah cemburu," umpat Raline dalam hati dengan penuh kekesalan. Apalagi tadi ia sempat mendengar Alex meminta pada anak buahnya untuk menyelidiki identitas Edgar. Sungguh Raline tidak rela pria yang dicintainya mencinta wanita lain. "Kak Alex kau hanya boleh mencintaiku seorang, hanya Raline." Ucapnya hanya berani dalam hati. Karena ia belum berani mengatakannya, terlebih saat ini pria itu terlihat begitu murka.


Ya, Alexander yang biasanya terlihat datar tanpa eskpresi kini terlihat menakutkan dengan rahang yang mengeras dengan aura kemarahan yang begitu ketara. Bahkan begitu menakutkannya raut Alexander sampai membuat Raline tak berani untuk bersuara sedikitpun.


"Ini semua gara-gara Kaylin Meyer." Raline lagi-lagi mengumpat. Ia pun memutuskan mengabaikan Alexander dari pada terkena imbas kemarahan pria itu.


Sementara Alex yang duduk di samping Raline, tidak bisa lagi menahan emosinya saat mengingat kejadian tadi dimana Kaylin mengusirnya, mengusir seorang Alexander Moses.


Flashback on.


Setelah cukup lama saling menatap dengan tajam, jabatan tangan mereka terlepas saat Kaylin menarik tangannya.


"Aku rasa perkenalannya cukup," Kaylin menelan salivanya susah payah saat melihat aura permusuhan yang diperlihatkan Alex dan Edgar. "Ed ini Raline." ia menunjuk pada adik iparnya.


"Raline Moses."


"Edgar."


"Kak ayo berangkat, aku takut nanti terlambat." Raline menarik tangan Alex setelah memperkenalkan dirinya pada pria yang bernama Edgar.


"Kau berangkat dulu! Aku menyusul," Alex tidak akan meninggalkan Kaylin sampai ia yakin pria itu benar-benar sepupu wanitanya.


"Tapi kak..."


"Alex lebih baik sekarang kau pergi, kasihan Raline kalau pergi sendiri." Sahut Kaylin dengan cepat. Ia harus membuat Alex pergi agar dirinya bisa bebas berbicara dengan Edgar.


"Kau mengusirku?" Alex menaikkan kedua alisnya dengan tatapan tak percaya.


"Ish.. mana ada aku mengusirmu, bukankah kau harus berangkat kerja?"


"Hari ini aku tidak berangkat."


"Kak kau tidak boleh seperti itu, walaupun perusahaan tersebut milik keluarga kita tapi kau tidak bisa berbuat sesuka hati." Raline tidak ingin rencananya untuk menghabiskan waktu berdua bersama Alex gagal kembali.


"Raline benar, kau itu seorang pemimpin perusahaan jadi pergilah! Tenang saja ada Edgar yang akan menemaniku, benarkan Ed?" Kaylin menatap sepupunya dengan tersenyum.


"Benar sekali," Edgar mencubit kedua pipi Kaylin dengan gemas.


"Ed.. sakit tahu," Kaylin menggerutu sambil memukul bahu Edgar.


Alex yang melihat bagaimana pipi wanitanya di sentuh merasa tidak terima, ia ingin memperingati pria itu tanpa peduli status ke-duanya yang saudara sepupu. Namun belum sempat ia bertindak, Kaylin sudah lebih dulu mendorongnya masuk ke dalam mobil.


Flashback off.


Dan disinilah Alex berada, di dalam mobil bersama Raline menuju perusahaan Moses, meninggalkan Kaylin berdua bersama pria bernama Edgar yang mengaku sepupu wanitanya. Untung saja ia sudah menempatkan pengawal pribadi di mansion, sehingga Alex bisa sedikit tenang sambil menunggu laporan anak buahnya yang tengah mencari data pribadi milik Edgar.


Setelah sampai di gedung perkantoran miliknya, Alex berjalan memasuki gedung tersebut sambil membaca pesan yang dikirim anak buahnya terkait data pribadi Edgar, lengkap dengan foto pria itu.


"Jadi mereka hanya sepupu jauh," gumam Alex setelah membaca data pribadi milik pria yang bernama Edgar Collins. Tuan Collins orang tua Edgar adalah sepupu dari Tuan Meyer. "Kenapa aku merasa pernah melihatnya, tapi dimana?" Alex mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu Edgar.


Namun suara dering dari ponselnya membuat konsentrasi Alex buyar begitu saja.


"Ada apa?" tanya Alex pada pengawal pribadi yang ia tugaskan menjaga Kaylin.


"Tuan maaf, Nyonya .. Nyonya."


"Kaylin kenapa?" langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu lift.


Raline yang berjalan di samping Alex pun ikut menghentikan langkahnya sambil menyimak apa yang dibicarakan pria itu.


"Nyonya menghilang, kami kehilangan jejaknya."


"Apa?"