One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 107



"Adik bayi siapa yang dimaksud Rex?" tanya Alex setelah keponakan dari istrinya itu keluar dari kamar. Ya, setelah cukup lama membujuk anak kecil yang selalu memanggil Kaylin dengan sebutan Mama, akhirnya Rex mau keluar dari kamar bersama pengasuhnya.


"Tentu saja adik bayi Rex, kau lupa Kak Cleo sedang hamil?" jawab Kaylin setenang mungkin agar Alex tidak menyadari saat ini ia sedang berbohong.


Alex diam menatap Kaylin lagi-lagi dengan tatapan tak terbaca, hingga membuat jantung Kaylin berdetak dengan cepat karena takut kebohongannya terungkap.


"Kapan kau pulang? Aku mengantuk ingin tidur." Usir Kaylin secara halus, karena jika Alex masih berada di ruangannya, pria itu bisa curiga dengan apa yang dikatakannya tadi.


"Kalau begitu tidurlah! Aku tetap disini menjagamu." Alex terus menatap Kaylin dengan intens.


"Ck.. terserah kau saja." Kaylin merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menarik selimut sampai dada lalu tidur dengan membelakangi Alex.


Alexander sendiri masih menatap Kaylin dalam diam, duduk setia ditempatnya entah sampai berapa lama sampai wanita itu terlihat tertidur dengan napas teratur. Setelah yakin Kaylin tertidur dengan pulas baru ia bergerak mendekati wanitanya, mengusap rambut panjang hitam itu dengan perlahan.


"Adik Bayi." Gumam Alex dalam hati.


Ya, sejak tadi pikirannya hanya tertuju pada dua kata tersebut dengan satu harapan yang tidak mungkin terjadi. Harapan jika adik bayi yang dimaksud Rex adalah anak yang ada dalam kandungan Kaylin meskipun kemungkinan tersebut sangat tipis mengingat dokter sudah mengatakan Kaylin keguguran.


Deg.


"Dokter.. ?"


"Tunggu!" ucap Kenan dengan suara beratnya.


Alex yang tengah berjalan menghentikan langkahnya, berbalik menatap Kenan yang tiba-tiba memanggil karena tidak biasanya pria itu mau menyapa. Ya, keadaannya memang seperti itu, meksipun selama tiga Minggu ini Alex diperbolehkan datang ke mansion Meyer tapi mereka berdua tidak pernah saling menyapa jika bertemu.


"Sampaikan pada Tuan Moses, aku tidak akan pernah menarik laporannya apa pun tawaran yang dia berikan. Kami Meyer tidak butuh harta kalian." Kenan berkata dengan penuh penekan di setiap katanya juga dengan tatapan penuh amarah.


Alex menghela napasnya kasar. Entah apa yang kakek tua itu perbuat sampai membuat Kenan sangat marah, tapi yang jelas ia tahu tujuan kakek nya melakukan hal tersebut hanya karena rasa kasihan pada Raline yang sudah dianggap sebagai cucunya sendiri, bukan karena membenarkan perbuatan yang dilakukan Raline. Bagaimana ia bisa tahu? Karena kakeknya sendiri yang mengatakan bahwa dia akan menghukum Raline dengan caranya sendiri, bukan dengan memenjarakannya di kota ini.


"Sampaikan saja langsung padanya." Alex kembali berjalan menuju mobil, karena ia memang tidak mau ikut campur permasalahan yang terjadi antara Kenan dan kakeknya yang berkaitan dengan Raline.


"Wanita licik itu tidak akan pernah bisa keluar dari penjara, aku pastikan itu!" Ucap Kenan lagi.


Alex yang hendak membuka pintu mobil terdiam sesaat, namun segera masuk ke dalam mobil tanpa mempedulikan perkataan Kenan, karena ada hal yang lebih penting yang harus ia kerjakan dari pada membahas tentang Raline.


"Kau lihat itu!" Kenan menunjuk pada Alex yang sudah masuk ke dalam mobil. "Adik ipar yang kau bela itu tidak punya sopan santun pergi begitu saja."


Cleopatra menatap suaminya dengan sedikit kesal. "Yang pertama dia juga adik iparmu, dan yang kedua wajar dia bersikap tidak sopan karena kau sendiri selalu bersikap sinis padanya." Setelah mengatakan hal tersebut Cleopatra bergegas masuk ke dalam mansion, meninggalkan Kenan yang terlihat kesal atas ucapannya.