One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 73



Setelah mengantar Cleopatra pulang, tanpa lupa meminta pada kakak iparnya itu untuk merahasiakan pada Kenan semua pembicaraan mereka terutama apa yang terjadi pada rumah tangganya.


Kaylin memilih mengurung diri di dalam kamar memikirkan bagaimana caranya membalas perbuatan Alex yang tidak jujur dengan status Raline yang hanya seorang adik tiri, terutama membalas perbuatan Raline yang diam-diam sudah mengibarkan bendera perang dengannya. Ya, bendera perang. Karena kini Kaylin yakin Raline mencintai Alex sebagai seorang pria bukan sebagai kakak.


"Kalian tidak tahu sedang berurusan dengan seorang Meyer." Kaylin pun mengambil ponsel miliknya yang tadi diberikan Cleopatra, ponsel yang selama satu bulan ini tidak pernah ia sentuh karena Kenan melarang membawa barang apa pun dari mansion Meyer.


Jika kalian bertanya apakah Alex membelikan ponsel untuknya, jawabannya iya. Tapi ponsel tersebut hampir tidak pernah Kaylin gunakan karena Alex hanya menghubunginya sesekali untuk menanyakan keadaan kandungannya.


Selebihnya Kaylin tidak menggunakan ponsel tersebut karena ia tidak ingat sama sekali nomer ponsel teman-temannya. Jangankan nomer ponsel mereka, nomer ponsel milik Kenan, Cleopatra, dan kerabatnya yang lain pun ia tidak ingat. Salahkan saja otaknya yang malas untuk menghapal angka-angka hingga membuatnya kesulitan untuk menghubungi mereka.


"Edgar..."


Kaylin tersenyum penuh arti saat menatap nomer kontak sepupu yang sudah lama tidak ia temui. Sepupu yang selalu ada untuknya namun mendadak menghilang tanpa kabar. Dan Kaylin yakin hanya pria itu yang bisa membantunya untuk menyelesaikan masalah yang dialaminya. Namun belum sempat ia menghubungi Edgar, suara ketukan pintu dari luar membuatnya mengurungkan niat tersebut.


"Ada apa?" tanya Kaylin pada sang pelayan setelah membuka pintu kamarnya.


"Nyonya, Tuan Alexander berpesan agar Anda mengangkat ponselnya."


Kaylin menghela napas kasar, ia tahu sejak tadi ponselnya berdering menampilkan nama Alexander. Namun karena hatinya masih begitu marah mengetahui ketidakjujuran Alexander, Kaylin pun sengaja tidak mengangkat panggilan tersebut.


"Tuan sejak tadi menghubungi Anda, tetapi tidak diangkat." jelas pelayan kembali.


"Apa ada lagi yang Tuan katakan?" tanya Kaylin tanpa ada niatan untuk mengangkat panggilan dari Alex.


"Tuan.., tadi Tuan mengatakan aku tidak boleh pergi dari kamar Anda sebelum Nyonya mengangkat teleponnya. Jika Anda tidak mengangkatnya, maka Tuan akan segera kembali ke Jakarta." Ucap pelayan dengan menundukkan kepala.


Kaylin menghela napas kembali sembari menatap jam di pergelangan tangannya, dapat ia pastikan Alex sudah sampai di Riau. Jika pria itu kembali pulang tidak jadi masalah untuknya, tapi yang menjadi masalah ia akan ditemani pelayan sampai suaminya itu pulang.


"Tapi Nyonya..."


"Kau lihat ini," Kaylin mengambil ponsel pemberian Alex. "Sekarang pergilah."


"Baik Nyonya."


Setelah melihat pelayan itu pergi dengan menutup pintu kamar, ia pun mengangkat panggilan teleponnya.


"Ha—" belum sempat menyelesaikan ucapannya, sebuah suara dingin dan tegas terdengar di indera pendengarnya.


"Kenapa baru diangkat?"


"Aku tadi ketiduran, jadi..."


"Jangan berbohong Kaylin Moses! Sejak tadi kau duduk diam di dalam kamar."


Deg.


"Bagaimana kau tahu?" Kaylin menatap tajam keseluruh ruangan terutama sudut kamar. "Jangan katakan kau memasang kamera CCTV di kamar kita."


"Tentu saja. Sekarang katakan ada apa Cleopatra datang ke mansion kita? Dan ponsel yang diberikan Cleopatra apa ponsel lama milikmu?"


Untuk kedua kalinya Kaylin terkejut. "Kau memata-matai ku?" tanyanya dengan tak percaya.


"Jawab saja pertanyaanku, ada urusan apa Cleopatra menemuimu? Apa yang dia katakan sampai kau menangis?" Alex mengetahui semuanya dari laporan anak buahnya yang ia tempatkan di setiap sudut mansion, dan tentunya kemanapun Kaylin pergi.