
Merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Kaylin yang berjalan menghampiri Mario menajamkan pandangan matanya. Namun sosok yang dilihatnya itu tertutup oleh tamu undangan lain, hingga membuat Kaylin kesulitan untuk melihat apa benar sosok yang dilihatnya tadi adalah Alexander.
"Sayang kau sangat cantik."
Suara Mario sontak mengalihkan tatapan matanya, yang kini menatap pada calon suaminya.
"Kau juga," jawab Kaylin dengan asal, karena fokus kini kembali pada tempat di mana sosok Alexander berada. "Ternyata bukan dia," gumamnya dalam hati saat melihat dengan jelas sosok pria yang tadi dilihatnya.
"Jadi menurutmu aku juga cantik?" tanya Mario dengan terkekeh geli.
"Eh tidak, maksudku kau juga tampan," ucap Kaylin dengan menutupi kekecewaannya, saat mengetahui orang yang tadi dilihatnya itu bukanlah Alexander.
Tadinya ia berharap Alex bisa hadir di acara pernikahannya, sebagai bentuk dukungan seseorang yang pernah menjadi bagian hidupnya meskipun hanya singkat. Namun Kaylin harus kembali menelan kekecewaannya, karena pria yang diharapkannya itu tidak pernah muncul lagi sejak malam panas yang mereka lewati saat di Dubai.
"Ayo sayang!" Mario mengulurkan tangannya.
Kaylin tersenyum hendak menerima uluran tangan tersebut, sebelum tiba-tiba saja lampu yang ada di dalam ballroom mati bersamaan, membuat seluruh ruangan menjadi gelap selama beberapa menit kemudian kembali terang.
"Dimana Kaylin?" Mario yang menyadari calon mempelainya menghilang, menatap keseluruh ruangan mencari sosok wanitanya.
Kenan yang juga terkejut dengan menghilangnya sang adik, ikut mencari dengan raut wajah yang panik. Membuat suasana di dalam ballroom kini menjadi tegang, karena seluruh tamu undangan pun ikut terkejut dengan menghilangnya sang mempelai wanita yang begitu cepat.
"Dimana Boby?" tanya Kenan dengan emosi, pada semua orang kepercayaannya yang di tugaskan untuk menjaga keamanan selama acara berlangsung.
Beberapa pria bertubuh kekar dengan setelan safari berwarna hitam, saling menatap mencari keberadaan Boby, namun tidak ada satu orang pun yang bisa menjawab dimana keberadaan pria tersebut.
"Baik Tuan," beberapa pria itu bergegas menjalankan perintah tuannya.
"Bram cepat periksa kamera CCTV!" perintah Kenan pada asistennya.
Dengan segera Bram menjalankan perintah tuannya, sementara Kenan berjalan dengan cepat menuju pintu Ballroom.
"Ken kau mau kemana?" tanya Cleopatra dengan cemas, saat melihat suaminya yang terlihat marah dan juga panik.
"Tentu saja mencari Kaylin, aku yakin keberadaannya belum terlalu jauh." Kenan begitu khawatir pada keselamatan adiknya, mengingat kejadian tadi begitu cepat dan sangat rapih.
Dan pastinya sudah terencana, karena adiknya menghilang bertepatan dengan matinya seluruh lampu yang ada di dalam ballroom, menandakan orang yang menculik Kaylin bukanlah orang sembarangan, dan tentu saja sangat ahli di bidangnya.
"Aku ikut!" Mario pun bergegas menyusul Kenan untuk mencari Kaylin.
Cleopatra yang melihat keduanya pergi, hanya bisa menghela napas dengan kasar saat punggung suaminya dan Mario yang menghilang dengan cepat dibalik pintu.
Sementara itu di tempat yang berbeda, namun masih berada di dalam gedung yang sama. Alex membawa tubuh Kaylin masuk ke dalam lift, dengan tujuan ke atas gedung dimana helikopter sudah menunggu kedatangan mereka.
"Kau gila Alex! lepaskan aku!" Kaylin meronta dengan penuh emosi.
Bagaimana tidak emosi, setelah dibuat ketakutan oleh Alex yang tiba-tiba membekap mulut, dan menggendongnya dengan cepat di tengah kegelapan.