One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 123



Seluruh anggota keluarga yang ada di ruangan tersebut pun menatap pada anak-anak mereka yang tengah bermain bersama.


Ada Dewa yang terlihat Bossy dengan wajah lucunya mengatur para sepupu mereka, padahal usianya lebih muda dari Galaxy yang lebih dulu lahir meskipun hanya berbeda hampir dua tahun. Kemudian ada Theo dan Rex yang tidak mau diatur dan terlihat berdebat, sementara yang lainnya memilih diam dengan mengikuti apa yang diinginkan Dewa. Dan para anak perempuan mereka Hawa dan Starla memilih bermain berdua saja tidak bergabung dengan para sepupu mereka yang laki-laki.


"Jangan lupakan yang ini." Tita menyentuh perutnya yang sedang mengandung anak ketiga mereka.


"Ini juga." Cleopatra tak mau kalah.


"Aku juga." Ucap Alena dengan malu-malu.


"Aku.. aku." Kaylin pun ikut bersemangat sambil menyentuh perutnya.


"Sayang kita bukan bagian dari mereka." Ucap Alex dengan menatap pada mantan tuan-tuan nya.


"Kenapa?" Kaylin mengerutkan keningnya dengan bingung.


"Karena mereka keluarga aneh dan ajaib jadi lebih baik kita buat keluarga sendiri." Bisiknya namun sengaja dengan suara yang keras.


"Kami mendengarnya Alexander." Ucap Boy, Agam, dan Mars bersamaan, dan diakhiri dengan tawa dari semua orang.


"Intinya kita semua adalah satu keluarga termasuk yang ada diluar negeri." Ucap Boy lagi. Karena memang ada keluarga Richard juga Venus dan Aries yang kini menatap diluar negeri.


"Ya kau betul B, dan semua orang sudah menikah dan mempunyai anak. Lalu kapan kalian menikah?" Agam kini menatap pada Alana, Aluna dan Alona, membuat semua orang menatap pada ketiga wanita kembar tersebut.


"Ck, bagaimana bisa kami menikah kalau kakak kita yang satu ini belum menikah." Ucap Aluna yang diamini oleh Alona.


Kini semua mata tertuju pada Alana. Sementara yang ditatap hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah.


Dan lagi-lagi Alana hanya bisa menelan salivanya sambil menghela napas dengan lelah. Ini lah yang paling tidak disukai Alana jika berkumpul dengan para sepupunya ataupun berkumpul dengan keluarga besar mereka. Pasti akan ada pertanyaan kapan menikah, kenapa belum menikah, Alena saja sudah mempunyai anak jadi kenapa kau masih sendiri. Tidak tahu kah mereka Alana pun ingin sekali menikah, tapi dengan siapa? Selain takut untuk membuka hatinya kembali setelah hatinya tersakiti oleh Abian, Alana pun takut tidak ada yang mau menerima dirinya apa adanya.


"Kapan-kapan kalau ingat," Jawab Alana seadaanya. "Dan sudah aku katakan berapa kali pada kalian, jika kalian ingin menikah duluan aku tidak apa-apa."


"Kak Alana tidak apa-apa, tapi Mom dan Dad tidak mengijinkan." Gerutu Aluna membuat Alana terdiam.


Suasana di ruangan tersebut yang semula penuh keceriaan, kini sunyi senyap karena semua orang terdiam. Terutama Alena dan Abian yang merasa tidak enak karena secara tidak langsung sudah membuat Alana belum juga menikah sampai detik ini.


Melihat situasi dan kondisi di ruangan tersebut yang mulai tidak nyaman, Alex pun dengan cepat menarik tangan Kaylin untuk keluar dari ruangan agar tidak menyaksikan drama dari keluarga tersebut yang terkadang membuat Alex kesal, marah, dan sekaligus sedih apalagi saat menemani Alena tinggal diluar negeri.


"Kenapa kita keluar?" tanya Kaylin dengan bingung saat Alex membawanya ke halaman belakang mansion.


"Lebih baik kita disini." Alex memeluk pinggang istrinya dari belakang, menyentuh perut Kaylin dengan penuh kasih.


Kaylin sendiri menikmati sentuhan Alex dengan menyentuh punggung tangan suaminya.


"Alex..."


"Em.. kenapa sayang?"


"I love you." Ucap Kaylin dengan tersenyum.


Alex membalik tubuh Kaylin untuk menghadapnya. "Aku juga mencintaimu." Balasnya sambil mencium bibir Kaylin dengan perlahan dan penuh kelembutan.


Lama mereka berciuman menikmati kebersamaan yang terasa indah setelah melewati berbagai masalah yang datang bertubi-tubi di kehidupan mereka sejak berpacaran singkat hingga kini mereka menikah.