
Sementara itu di tempat dan di Negara yang berbeda, pria yang baru saja meletakkan ponselnya di atas meja kini tertawa sembari menggelengkan kepala.
"Dasar anak kurang ajar, tapi boleh juga pilihannya."
Ia menatap foto wanita yang berada di samping Alex, wanita yang berasal dari keluarga terpandang yang memiliki kakak seorang pengusaha sukses, wanita yang ia ketahui bernama Kaylin Meyer.
"Akhirnya kau kembali Alexander Moses."
Kesabarannya menunggu dan memantau selama bertahun-tahun kini terbayar sudah, Alex datang dengan sendirinya demi membahagiakan seorang wanita. Kini hatinya merasa lega tidak lagi memikirkan hubungan Alexander dan Raline.
Bukan karena dia tidak merestui jika mereka bersatu, namun ia merasa nyaman dengan status mereka saat ini dan tak mau merubahnya walaupun kedua orang tua mereka telah tiada, karena bagi Moses, Alexander dan Raline adalah kedua cucu nya, meskipun Raline hanyalah anak bawaan dari istri putranya.
Ya, putranya sempat menikah kembali dengan seorang janda beranak satu, dan anak itu adalah Raline yang usianya terpaut beberapa tahun dengan Alexander. Meskipun Raline tidak memiliki darah seorang Moses, namun ia sudah menganggap wanita muda itu sebagai cucunya sendiri sama seperti Alexander yang merupakan cucu kandung sekaligus sang pewaris perusahaan Moses.
*
*
Keesokan harinya.
Kaylin yang tengah tertidur terusik saat merasakan sesuatu yang basah menyentuh bagian intinya, membuat gelenyar nikmat yang tak bisa ia lukiskan dengan kata-kata, hingga sebuah ******* keluar dari mulutnya, menggambarkan betapa ia terbuai oleh sentuhan dibawah sana.
"Alex apa yang kau..." Kaylin tak dapat berkata-kata, tangannya meremas rambut Alex saat tubuhnya terasa terbakar oleh sentuhan yang semakin liar di bagian intinya, hingga ia menggelepar meledakkan sesuatu yang sejak tadi ditahannya. "Alexander.." jeritnya saat ia mendapatkan pelepasannya. Sesuatu yang sudah sangat lama tidak dirasakannya, kini ia dapatkan kembali hanya dengan permainan yang dilakukan Alexander.
"Tidak sama sekali, sekarang menyingkirlah aku ingin membersihkan diri," bohong Kaylin sembari menatap pada tubuhnya yang entah sejak kapan polos tanpa sehelai benang pun, padahal tadi malam ia mengenakan kemeja milik Alex yang kebesaran.
"Kau ingin pergi disaat aku baru memulainya?" tanpa menunggu jawaban, ia mencium bibir wanitanya dengan menggebu, karena sejak tadi sudah menahan gairahnya mati-matian saat memberikan santunan pada Kaylin.
"Alex tunggu!" Kaylin menahan wajah suaminya saat pria itu hendak menciumnya kembali, sungguh ia sudah tidak berselera merasakan bagaimana rasanya bercinta yang sesungguhnya sejak kejadian tadi malam, lagi pula ia sudah merasakan pelepasannya, sekarang gantian ia yang akan membuat pria itu pusing menahan hasratnya. "Katakan dulu padaku, kau menikahiku karena apa?"
"Tentu saja karena anak ini," Alex mengusap perut rata milik istrinya.
Deg.
Meskipun sudah mengetahui jawabannya akan seperti apa, tapi tetap saja hatinya merasa sakit saat mendengar langsung dari mulut pria itu, terlebih Alex mengatakannya dengan cepat tanpa berpikir dua kali.
"Kalau begitu setelah anak ini lahir, apa kita akan berpisah?"
"Tidak ada kata perpisahan, bukankah aku sudah berjanji akan menjadikan mu wanita satu-satunya," ucap Alex dengan tegas.
"Tapi Alex, pernikahan tanpa cinta—"
"Hentikan omong kosongmu! Sekarang bersiaplah, kita akan pergi!" Alex turun dari atas tempat tidur, mengurungkan niatnya untuk bercinta walaupun hasratnya sudah sangat meninggi.
Kaylin sendiri hanya bisa menahan kekesalannya saat Alex pergi begitu saja dari pada melanjutkan pembicaraan mereka. Sikap Alex ternyata masih sama dengan tiga tahun yang lalu, selalu memilih menghindar dari percakapan mereka yang membahas masalah cinta.