
"Ck, dasar aneh." Umpat Kaylin lalu menatap pada perutnya. "Nanti kalau kau sudah besar jangan aneh seperti Daddy mu, ya?" ucapnya sembari mengusap perut.
Melihat dan mendengar perkataan Kaylin pada Bayi mereka yang ada di dalam kandungan, Alex pun mendekat duduk di samping Kaylin ikut mengusap perut wanitanya.
"Daddy memang aneh, tapi Daddy sangat menyayangimu." Ucap Alex sambil menatap intens wajah Kaylin, hingga membuat keduanya kini saling menatap dalam diam, menyelami ke dalam isi hati masing-masing.
Tapi yang jelas Kaylin tidak bisa dan tidak akan pernah bisa mengerti apa yang sebenarnya ada di dalam hati Alexander. Berbeda dengan dirinya yang begitu mudah untuk di baca apa yang ada di dalam hatinya.
"Katakan Alex, kenapa kau berbohong mengatakan Raline adikmu?" tanya Kaylin setelah mereka cukup lama hanya saling menatap dalam diam.
"Aku tidak berbohong, Raline memang Adikku." Sahut Alex dengan santai dan datar seperti biasanya.
"Adik ketemu gede maksudmu?" sindir Kaylin dengan ketus, membuat Alex terdiam cukup lama.
"Intinya aku tidak bermaksud untuk berbohong atau menyembunyikan status Raline. Karena menurutku hal itu tidak lah penting untuk diceritakan."
"Menurutmu tidak penting, tapi menurutku itu sangat penting Alexander. Aku ini seperti orang bodoh dan menganggap diri ini aneh karena merasa cemburu pada kedekatan kalian yang jelas-jelas Kakak beradik, sementara kau tidak menjelaskan sedikitpun yang sebenarnya kalau kalian bukan saudara kandung." Sahut Kaylin dengan penuh emosi.
"Oke aku salah, aku minta maaf." Alex tidak ingin permasalahan yang menurutnya tidak penting itu berlanjut. Karena ada hal yang lebih penting yang ingin ditanyakan pada Kaylin.
"Mudah sekali kau meminta maaf, apa kau tidak tahu aku—" Kaylin terdiam saat bibirnya tiba-tiba di bungkam oleh bibir Alex.
"Kau sendiri bagaimana?" Alex bertanya setelah melepaskan ciumannya. "Berani sekali kau berpelukan dengan Edgar, di mansion kita?"
"Ck, memangnya kenapa? Tidak salah bukan sepupu saling berpelukan, kau dan Raline yang tidak sedarah saja sering berpelukan, bahkan Raline sering —" Lagi-lagi bibirnya di ciuman dengan tiba-tiba hingga Kaylin tidak dapat meneruskan perkataannya. "Alex aku belum selesai bicara," umpat Kaylin dengan kesal.
"Jangan ulangi? Dan hentikan permainan yang sedang kalian lakukan," ucap Alex setelah mencium bibir Kaylin cukup lama hingga membuat bibir wanitanya bengkak.
"Permainan? Permainan apa yang kau bicarakan?" Kaylin berpura-pura tidak mengerti, padahal ia tahu jelas kemana arah pembicaraan Alex.
"Aku tahu kau mengerti Kaylin Moses," Alex hendak mencium kembali bibir Kaylin, namun wanitanya itu memalingkan wajahnya hingga ciuman itu berlabuh di pipi Kaylin yang kini terlihat chubby begitu menggemaskan.
"Kenapa? Apa kau cemburu? Tapi rasanya tidak mungkin kau cemburu, karena di hati ini tidak ada cinta untuk ku." Kaylin menunjuk dada Alexander.
Untuk kesekian kalinya Alex memilih diam, menatap wajah Kaylin dengan intens.
"Kau tahu Alex, kadang aku berpikir kau dan Raline saling mencintai dan aku berada di antara kalian."
"Pikiran bodoh macam apa itu, kau lupa Raline sudah memiliki kekasih? Dia tidak akan pernah mencintaiku karena baginya aku hanya seorang kakak." Alex berdiri dari tempat duduknya berjalan menuju balkon kamar.