One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 36



Alex menatap foto yang dikirim anak buahnya dengan raut datar dan dingin. Tanpa banyak kata ia berjalan menghampiri seorang pria tua, yang tengah duduk di salah satu ruangan yang ada di mansion luas tersebut.


"Aku akan kembali ke Jakarta."


Pria tua yang tengah membaca berkas di tangannya, menatap pada Alex sembari membenarkan letak kacamatanya.


"Sesuai dengan yang sudah di sepakati, kau tidak boleh pergi sebelum menyelesaikan tugasmu!"


Alex menatap gusar pria tua itu, lalu menghela napas untuk meredakan emosinya. Kalau saja dia tidak ingat dengan tujuannya, dan kalau saja pria yang duduk dihadapannya itu bukanlah seorang yang sudah berumur, tentu dengan senang hati Alex akan menghajarnya.


"Pergilah kalau kau memang ingin pergi, tapi jangan harap kau bisa kembali!" ancamnya saat melihat tangan Alex yang terkepal.


"Ck.. Anda pria tua yang memuakkan!" Alex bergegas pergi dari ruangan tersebut. Namun baru selangkah ia berjalan, kakinya terhenti saat mendengar suara tawa dari pria tua tersebut.


"Tapi sayangnya pria tua memuakkan ini akan terus berurusan denganmu."


Alex kembali mengepalkan kedua tangannya, berjalan keluar dari ruangan tersebut tanpa mempedulikan tawa sinis yang menggema di seluruh ruang kerja itu. Ia terus berjalan hingga tanpa sadar sudah berada di taman belakang yang ada di mansion tersebut, di mana ada seorang gadis cantik yang tengah fokus membaca sebuah novel.


Alex terus menatap gadis cantik itu tanpa berani mendekat, baginya hanya dengan melihat gadis itu dari kejauhan sudahlah cukup. Dia tidak mau perjuangannya selama bertahun-tahun gagal hanya karena dekat dengan gadis itu lagi, gadis yang tidak akan pernah bisa dia miliki.


Lagi pula kini sudah ada Kaylin yang menjadi tanggung jawabnya, dan ia tidak akan menjadi seorang pria brengsek dengan menyimpan nama gadis lain di hatinya.


"Kak Alex..." Raline yang melihat keberadaan Alex, langsung berlari mendekat lalu memeluk tubuh kekar itu.


Alex hanya tersenyum, mengusap rambut panjang gadis cantik yang tengah memeluknya dengan sangat erat.


*


*


"Sepertinya maag ku kambuh?" gumam Kaylin dalam hati, setelah berusaha memuntahkan isi perutnya walaupun yang keluar hanyalah sebuah cairan. Karena memang sejak pagi Kaylin belum memakan apa pun, dan hanya air susu yang masuk ke dalam perutnya.


Setelah membersihkan mulut, Kaylin berjalan keluar dari dalam bathroom lalu merebahkan tubuhnya yang terasa lemas ke atas tempat tidur. Namun suara teriakan yang memekakkan telinga dari seorang anak kecil, membuat tubuh Kaylin kembali menegak.


"Mama belat," Rex keluar dari selimut yang menutupi tubuh kecilnya.


"Ish.. siapa suruh Rex sembunyi di situ?" ucap Kaylin dengan menghela napasnya. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan keponakannya yang usil itu, dan pastinya sifat usil itu diturunkan oleh kakak iparnya.


"Lex ingin mengejutkan Mama, tapi justlu Lex yang telkejut."


"Makanya jangan usil sama Mama," Kaylin dengan gemas menciumi pipi keponakan tampannya itu, lalu menggelitiknya.


"Ampun Mama..." Rex berlari menjauh. Namun karena Mama Kaylin tidak mengejarnya, ia pun kembali mendekat. "Mama kenapa? Mama sakit?"


Kaylin menganggukkan kepalanya. "Kepala Mama pusing, perut Mama juga pusing, eh maksudnya mual."


"Mual?"


"Iya mual, seperti mau muntah tapi tidak ada yang keluar."


Rex mengerutkan keningnya, memperhatikan Mama Kaylin saat teringat pada sesuatu yang pernah di dengarnya.


"Mungkin ada Adik bayi di sini," ucap Rex sembari menyentuh perut Mama Kaylin.


Deg.


Kaylin terdiam, wajahnya seketika itu memucat saat mendengar kata-kata keponakannya.