One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 79



"Apa tadi kau bilang?" Alex yang terkejut mempertanyakan maksud Kaylin.


"Ed akan tinggal di mansion kita." Kaylin mengulangi perkataannya.


"Tidak masuk diakal, memangnya dia tidak punya tempat tinggal di Jakarta." Alex menatap Edgar dengan tajam namun raut wajahnya tetap datar setelah tadi sempat terkejut.


"Tentu saja ada, tapi aku yang meminta Ed untuk menginap di mansion kita." Jelas Kaylin, membuat Alex kembali membelalakkan matanya.


"Tidak bisa! Dia tidak boleh menginap di mansion kita." Ucap Alex dengan tegas tak terbantah.


"Kenapa tidak bisa?"


"Aku tidak mengijinkannya."


"Ya tapi kenapa?" Kaylin mulai kesal.


"Aku tidak mau ada orang asing yang tinggal bersama kita."


"Orang asing?" Kaylin mengerutkan keningnya. Ia terkejut saat Alex menyebut Edgar sebagai orang asing. "Kau lupa dia sepupuku?"


"Hanya sepupu jauh," sahut Alex.


"Hei...!" Edgar yang sejak tadi diam mulai terpancing emosi, kalau saja Kaylin tidak mengusap lengannya mungkin ia sudah mengumpat pria itu.


"Menurutmu Ed orang asing? Lalu bagaimana dengan Raline?


"Memangnya kenapa dengan Raline?" Alex bingung kenapa Kaylin membawa nama Raline di pembahasan mereka.


"Raline juga orang asing." Jawab Kaylin dengan ketus.


"Kau ini bicara apa? Raline itu Adikku bukan orang asing."


"Adik?" Kaylin tersenyum sinis. "Adik tiri lebih tepatnya."


Deg.


"Ba-bagaimana bisa kau tahu?" Alex terkejut Kaylin mengetahui status Raline yang sesungguhnya. Karena setahunya keluarga Moses sudah menutup rapat jati diri Raline agar publik hanya mengetahui dia benar-benar bagian dari keluarga Moses.


"Ck.. tidak penting aku tahu dari mana." Kaylin menarik tangan Edgar menuju mobil sepupunya.


"Bagiku sudah."


"Kaylin Moses!" Alex meninggikan suaranya.


"Ck.. kau itu berisik sekali. Apa kau tidak malu marah-marah di tempat umum." Kaylin menatap ke sekelilingnya dimana banyak pasang mata yang menatap mereka.


Alex pun ikut menatap sekitarnya. "Baik, kita bahas masalah ini di mansion." Ia menarik tangan Kaylin, namun wanitanya sama sekali tidak mau bergerak dari tempatnya.


"Oke, ayo Ed." Kaylin menghempaskan lengan Alex, dia lebih memilih naik mobil Edgar dari pada satu mobil dengan suaminya.


Sementara Edgar hanya diam tanpa mau ikut campur perdebatan suami istri tersebut, karena bukan bagiannya untuk masuk. Edgar yakin Kaylin bisa mengatasi Alexander.


"Dia tidak boleh ikut! Bukankah sudah kukatakan tidak mengijinkan orang asing tinggal ditempat kita." Alex tetap pada pendiriannya.


"Kalau begitu kau harus usir Raline dari mansion, karena dia juga orang asing bukan?" Tantang Kaylin.


"Kay..." Alex kembali meninggikan suaranya.


"Kenapa? Tidak bisakan? Kalau begitu Edgar tetap akan tinggal di mansion kita titik tanpa koma!"


Alex mengepalkan tangannya menahan emosi. "Dasar keras kepala!" ejeknya dengan sengit.


"Dasar egois!" sahut Kaylin lebih sengit.


"Sudahlah lebih baik kita —"


"Diam kau!" ucap Kaylin dan Alexander bersamaan.


"Oke..." Edgar mengangkat kedua tangannya. "Kompak sekali mereka!" gerutunya sambil berlalu dari tempat tersebut, meninggalkan Alex dan Kaylin yang terlihat saling menatap dengan tajam.


"Baik, aku ijinkan sepupumu tinggal di mansion kita." Akhirnya Alex mengalah saat melihat Kaylin yang begitu emosi. Dia tidak ingin kandungan wanitanya kenapa-kenapa, lagi pula Edgar pasti hanya menginap beberapa hari jadi tidak masalah bukan.


"Terima kasih, sampai ketemu di mansion." Kaylin hendak berjalan menuju mobil Edgar, namun ia terkejut saat tiba-tiba tubuhnya diangkat dari belakang. "Alex turunkan aku! Aku ingin pulang bersama Edgar."


Alex menggelengkan kepala. "Aku sudah mengijinkan sepupumu tinggal bersama kita, apa itu tidak cukup? Kenapa masih marah?" tanyanya sambil berjalan membawa Kaylin menuju mobilnya.


"Ck.. pakai tanya lagi?" gerutu Kaylin tanpa mau menatap Alex. Terang saja ia masih marah pada suaminya, karena Alex lebih memilih mengijinkan Edgar menginap dari pada mengusir Raline, membuat pikiran negatif mulai masuk kedalam otaknya. "Jangan katakan Alex juga mencintai Raline?" gumamnya dalam hati, menatap penuh tanya pada Alexander.