
Dua Minggu kemudian.
"Hei! Kenapa kau melamun?" Cleo duduk di samping adik iparnya yang terlihat murung.
"Aku tidak melamun," sahut Kaylin tanpa menoleh pada kakak iparnya. Pandangan matanya lurus menatap kolam ikan yang ada dihadapannya.
"Kay apa kau yakin akan menikah dengan Mario?"
"Tentu saja, memangnya kenapa kak?" Kaylin menatap wajah Cleo yang terlihat serius.
"Tidak apa-apa, hanya saja aku merasa kau tidak akan bahagia dengan pernikahan ini," Cleo balik menatap adik iparnya hingga pandangan mata mereka bertemu. "Kau tidak mencintainya, Kay!"
Kaylin memutus tatapan mereka, menatap kembali pada kolam ikan. "Aku mencintainya, Mario pria yang baik."
"Ya, dia memang pria yang baik. Tapi aku tidak yakin kau benar-benar mencintainya."
Kaylin hanya diam tidak menyahut perkataan kakak iparnya, membuat Cleopatra menghela napas dengan kasar.
"Sekarang jawab pertanyaannya aku dengan jujur, apa kau masih mencintai Alex?"
"Meskipun aku masih mencintainya, tapi kami tidak akan pernah bisa bersama. Karena Alex tidak pernah mencintaiku, Kak. Lagi pula Alex sudah memiliki pasangan, dan seorang anak, jadi—"
"Tunggu dulu! Alex sudah memiliki pasangan dan anak? Kau itu bicara apa? Jangankan memiliki anak, memiliki kekasih pun dia tidak punya," Cleopatra tertawa sembari menggelengkan kepala.
"Tapi Kak, aku pernah melihat foto anak kecil di ponselnya."
"Mungkin itu foto keponakannya. Lagi pula mana mungkin seorang Alexander, yang di otaknya hanya ada pekerjaan memata-matai, mengawasi, dan menjaga seseorang, memiliki kekasih? Bukankah dulu aku pernah mengatakan kalau Alex itu seorang workaholic?"
"Sudahlah jangan membahas Alex lagi, aku ingin fokus pada pernikahanku." Kaylin memilih beranjak dari tempat tersebut. Ia tidak mau mendengar lagi tentang Alex yang hanya akan membuat hatinya goyah. Apalagi hari pernikahannya hanya tinggal satu Minggu lagi, dan semua persiapan sudah hampir sembilan puluh lima persen. Jadi ia tidak mau mengecewakan semua orang, terutama Kenan dan Mario.
"Pikirkan sekali lagi jalan yang akan kau pilih, karena jika kau sudah melangkah tidak akan bisa mundur lagi."
Kaylin terus berjalan tanpa mempedulikan perkataan Cleopatra, ia harus bersiap-siap karena sebentar lagi Mario menjemputnya untuk melakukan fitting terakhir gaun pernikahannya.
Sementara Cleopatra hanya bisa menghela napas dengan panjang, saat Kaylin tetap pada pendiriannya untuk menikah dengan Mario.
"Aku hanya ingin kau bahagia Kaylin Meyer."
Ya, Cleopatra ingin adik ipar nya itu hidup bahagia bersama orang yang dicintainya. Karena ia sangat menyayangi Kaylin layaknya menyayangi adik perempuan sendiri.
*
*
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit, akhirnya Kaylin dan Mario sampai di Boutique langganan keluarga Lawalata. Tempat dimana mereka akan melakukan fitting terakhir gaun yang akan di kenakan Kaylin.
"Bagaimana Tuan? Cantik bukan?"
Mario menatap Kaylin yang kini mengenakan gaun berwarna berwarna putih gading, berlapis renda dengan korset, yang terinspirasi gaya Victoria klasik.
"Cantik," Mario berjalan menghampiri Kaylin, lalu mengecup bibir wanitanya dengan lembut. "Kau sangat cantik sayang."
Kaylin hanya tersenyum, menutupi ketidaknyamanan saat di cium oleh Mario. Entah mengapa setiap kali pria itu mencium bibirnya, debaran yang sempat ia rasakan saat menerima lamaran Mario semakin hari semakin menghilang. Hingga kini tak berbekas sedikitpun.