
"Raline kakek lelah, antar kakek ke kamar." Pinta Moses karena ada yang harus dibicarakan antara mereka berdua hanya empat mata.
"Baik kakek." Raline mengusap air matanya lalu beranjak pergi dari ruangan tersebut bersama Kakek Moses, meninggalkan Kaylin dan Edgar yang masih duduk dalam diam.
"Keluarga yang aneh," Edgar menggelengkan kepalanya. "Seandainya kau menikah denganku, โ"
"Maka aku akan masuk ke dalam keluarga yang lebih aneh, aku akan memiliki dua ibu mertua dan tiga adik ipar tiri." Sahut Kaylin dengan kesal. "Lagi pula kita ini sepupu tidak boleh menikah." Kaylin beranjak dari tempat tersebut ingin menemui Alexander yang pastinya masih berada di mansion.
"Kita sepupu jauh Kay, jadi tidak masalah jika kita menikah." Teriak Edgar dengan tertawa.
Kaylin tidak mempedulikan teriakan Edgar, ia berjalan cepat menuju kamarnya untuk meminta penjelasan pada Alexander atas perkataan kakek Moses.
"Apa Kakek tua itu sudah pergi?" tanya Alex tanpa menatap pada seseorang yang membuka pintu kamarnya.
"Kakek sedang beristirahat," jawab Kaylin singkat, berjalan menghampiri Alexander yang berdiri di balkon kamar. "Alex yang tadi dikatakan Kakek kalau kau โ"
"Jangan kau dengar omong kosong itu." Potong Alex dengan membalik badannya menatap pada Kaylin.
Alex diam lalu memeluk Kaylin dengan erat. Ia tidak tahu harus berkata apa karena Alex sendiri baru tahu apa yang dilakukannya dulu bukan karena semata ingin memberikan kemewahan pada Kaylin. Tapi karena tidak ingin wanita yang dicintainya itu hidup tidak nyaman dan kesusahan. Alex juga tidak ingin Kaylin dan kandungannya berada dalam bahaya, karena pekerjaan yang dilakukannya itu penuh resiko hingga membuatnya banyak memiliki musuh. Ya, semua itu demi wanita yang ia cintai. Cinta yang tumbuh sudah sejak lama namun baru disadarinya.
"Alex jangan seperti ini, kalau kau terus seperti ini aku akan mengira kalau kau mencintaiku."
"Aku memang mencintaimu." Ucap Alex sembari mengurai pelukannya.
"Ka-kau tadi bilang apa?" tanya Kaylin dengan terkejut dan tak percaya, rasanya ia hampir pingsan mendengar kata keramat itu keluar dari bibir Alexander.
"Aku mencintaimu," Alex mengulangi perkataannya sembari mengecup bibir Kaylin dengan singkat lalu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku harus berangkat, dan sebaiknya kau tetap berada di kamar! Jangan pedulikan kakek tua itu." Alex mengambil jas yang tadi ditaruhnya di atas ranjang lalu berjalan keluar dari kamar. Namun baru beberapa langkah kakinya berjalan, ia kembali menghampiri Kaylin untuk mencium perut wanitanya.
Kaylin yang masih terkejut dengan apa yang terjadi, hanya diam berdiri ditempatnya seperti patung setelah mendengar Alex mengatakan cinta, bahkan pria itu mengatakannya cinta padanya sebanyak dua kali.
"Aku sepertinya sedang bermimpi," Kaylin mencubit lengannya sendiri dan merasa kesakitan. "Ini bukan mimpi," gumamnya dengan tersenyum. Namun senyum itu berubah menjadi kesal saat mengingat bagaimana cara pria itu mengatakan rasa cintanya yang terbilang sangat datar tanpa ekspresi apapun. "Alexander Moses, bisa-bisanya kau mengatakan cinta lalu pergi begitu saja!" umpatnya dengan sangat kesal. "Tapi apa benar kau mencintaiku? Lalu tadi malam sebenarnya apa yang terjadi setelah Raline mengatakan cintanya?" Kaylin yang penasaran tidak mau tinggal diam, dengan segera ia berjalan menyusul Alexander.