One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 102



Kaylin yang tengah mengusap perutnya, terkejut saat tubuhnya tiba-tiba dipeluk oleh seseorang.


"Alex.." ia menatap pria itu yang entah sejak kapan berada di dalam kamar, karena memang sedari tadi Kaylin tidak fokus dengan yang ada disekitarnya.


"Are you okay?" tanya Alex masih dengan memeluk erat wanitanya. Sungguh ia merasa sakit saat melihat Kaylin yang ketakutan sampai terbawa mimpi.


Kaylin yang ditanya menggelengkan kepalanya sambil terus menangis, membuat Alex semakin mengeratkan pelukannya.


"Kita pulang sekarang, aku akan menjagamu." Alex mengusap air mata di pipi wanitanya.


"Aku tidak mau," Kaylin kembali menggelengkan kepalanya.


"Kay ini bukan Mansion kita," ucap Alex. "Kita pulang sekarang, oke." Alex hendak menggendong Kaylin namun wanita itu memberontak.


"Aku bilang aku tidak mau," Kaylin mendorong Alexander dengan kasar, membuat pria itu terkejut karena sikapnya.


"Kay aku sudah mengusirnya dari Mansion jika itu yang kau takutkan. Aku jamin Raline tidak akan bisa menyentuhmu bahkan mendekati bayanganmu pun tidak akan bisa." Alexander berusaha meyakinkan Kaylin untuk mau pulang bersamanya.


"Aku tidak mau pulang ke mansion Moses."


Alex berpikir dengan cepat. "Baiklah kita pulang ke apartemen ku yang dulu, sebelum aku membeli mansion baru untukmu." Bujuk Alexander saat ia memahami Kaylin takut atau bisa jadi trauma untuk kembali ke mansion Moses.


Kaylin menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin tinggal di Mansion Meyer." Karena memang hanya di mansion inilah Kaylin merasa aman dan terlindungi.


"Tapi Kay —" Alex bingung harus bagaimana lagi membujuk wanitanya. "Aku tidak mungkin tinggal di mansion ini."


"Aku tidak memintamu untuk ikut tinggal bersamaku."


"Alex kau mencintaiku kan?" tanya Kaylin tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


"Ya, aku mencintaimu." Alex berusaha untuk menunjukkan senyum terbaiknya.


"Kalau begitu jangan temui aku, sebelum aku yang datang padamu."


"Tidak bisa," potong Alex dengan cepat. "Kau ini bicara apa? Siapa yang menyuruhmu untuk berkata seperti itu? Apa Kenan yang sudah mencuci otak mu ini!" sentak nya dengan menahan emosi.


"Bukan Kakakku, tapi ini murni keinginanku sendiri ini keinginanku Alexander." Teriak Kaylin sambil menangis. "Stop menyalahkan orang lain, karena apa yang terjadi padaku sekarang kau turut andil di dalamnya. Jika saja dari dulu kau bersikap tegas dengan memilihku dan tidak mempertahankan Raline, semua tidak akan terjadi dan aku tidak mungkin keguguran."


"Kay..." Alex ingin memeluk wanitanya, namun Kaylin menolak dengan keras.


"Pergilah Alex, karena melihatmu saat ini hanya akan membuat hatiku membencimu."


"Kau tidak bisa membenciku Kay, karena kau mencintaiku." Alex menangkup wajah wanitanya untuk menatap wajahnya.


Kaylin memalingkan tatapannya lebih memilih menatap jendela kamar. "Aku sangat mencintaimu Alex, tapi berada di sisimu membuatku terluka. Aku.. aku tidak ingin semakin terluka. Apalagi ada nyawa yang harus aku jaga," kalimat terakhir itu hanya ia ucapkan dalam hati.


Alexander terduduk lemas sampai tak bisa berkata-kata, semua perkataan Kaylin seperti sebuah tamparan keras betapa selama ini Kaylin menderita berada di sisinya. Karena sikapnya yang bodoh tidak bisa membedakan perasaanya sendiri sudah membuat wanita yang ia cintai terluka begitu dalam. Bahkan apa yang dikatakan Kaylin pun benar, jika saja ia bisa bersikap tegas dengan memilih Kaylin dan mengusir Raline, mungkin wanitanya tidak akan keguguran.


"Aku ingin istirahat, kau pergilah!" Kaylin merebahkan dirinya dengan membalik badan tidak ingin menatap Alexander.


"Aku pergi, tapi aku akan kembali setiap harinya sampai kau mau ikut pulang bersamaku." Alex mencium kening Kaylin lalu keluar dari kamar tersebut.


Dia pergi bukan karena tidak ingin memperjuangkan Kaylin, tapi Alex lebih mengutamakan kesehatan wanita itu lebih dulu sambil memikirkan bagaimana caranya membujuk Kaylin agar mau pulang dan memulai semuanya dari awal.