
Kaylin yang terus memberontak di dalam pelukannya, tentu saja membuat Alex sedikit kewalahan. Andai saja ia tidak mengingat keadaan wanitanya yang kemungkinan besar tengah mengandung bibit unggulnya, tentu saja sudah Alex buat pingsan dengan memberikan obat bius agar lebih mudah membawanya.
"Hentikan Kay!" Alex menjauhkan kepala Kaylin dari bahunya, karena wanita itu baru saja menggigitnya dengan lumayan keras.
"Kau yang hentikan!" sentak Kaylin tak mau kalah. "Sebenarnya apa mau mu Alexander?"
"Mau ku..." Alex mendorong perlahan tubuh Kaylin, menghimpitnya pada dinding lift. "Aku ingin memenuhi keinginanmu."
"Keinginanku? Memangnya apa yang kuinginkan?" Kaylin balik bertanya tanpa berani menatap wajah Alex yang berhadapan langsung dengan wajahnya. Bahkan wajah mereka yang tak berjarak, membuatnya dapat merasakan kehangatan napas pria itu.
"Tentu saja menikah denganku."
"What?" pekik Kaylin dengan sangat terkejut, meskipun di hati kecilnya membenarkan perkataan tersebut. "Maaf Tuan Alexander, kau itu terlalu percaya diri sekali. Aku Kaylin Meyer tidak pernah memiliki keinginan untuk menikah denganmu."
"Benarkah?" Alex semakin mendekat, memangkas jarak diantara mereka hingga hidung keduanya kini saling bersentuhan.
"Te-tentu saja, aku—" ucapannya terhenti saat bibirnya dibungkam oleh sebuah ciuman, ciuman yang terasa begitu menuntut hingga membuatnya kewalahan.
Kaylin yang terus berusaha untuk menolak, tak dapat berbuat banyak saat tengkuknya ditahan hingga membuat ciuman itu semakin dalam dan terasa memabukkan.
"Alexander..." Kaylin mencengkram kemeja yang dikenakan prianya dengan napas naik turun setelah ciuman mereka berakhir. "Ini tidak benar."
Alex mengusap bibir Kaylin yang menjadi bengkak dengan ibu jarinya. "Bagiku semua benar, kau milikku dan apa yang menjadi milikku tidak boleh di sentuh apalagi dimiliki oleh pria lain."
"Aku bukan milikmu!" Kaylin tak terima. Enak saja Alex mengklaim dirinya setelah apa yang diperbuat pria itu selama ini. "Aku milik Mario, karena sebentar lagi kami akan menikah."
"Pernikahan konyol...?" ketus Kaylin dengan emosi. Bagaimana tidak emosi jika acara pernikahannya yang sudah dipersiapkan dengan sedemikian rupa, disebut sebagai pernikahan konyol.
"Kau tidak boleh menikah dengan si brengsek itu!"
"Apa? Kau bilang Mario brengsek? Kaulah yang brengsek! Kau itu hanyalah seorang pria pengecut yang menghilang setelah meniduri ku."
"Tutup mulutmu Kay!" Alex tidak terima dengan perkataan wanitanya. Bayangkan saja sang ketua Delta yang sering berhadapan dengan maut dikatai sebagai seorang pengecut.
"Menculik seorang wanita ditengah kegelapan saat acara pernikahan akan berlangsung, apa namanya jika bukan seorang pengecut? Kalau kau berani, bawa aku pergi secara langsung di depan mata kak Kenan dan calon suamiku."
"Baik jika itu yang kau inginkan," Alex menarik tubuh Kaylin, membawanya ke sisi lain lalu menekan tombol lift di mana lantai ballroom tempat acara pernikahan Kaylin berada.
"Alex apa yang kau lakukan?" tanya Kaylin dengan takut, saat melihat kemarahan di wajah Alexander, apalagi saat menyadari lift yang dinaikinya kini berjalan turun.
"Aku akan membawamu tepat di depan mata Kenan Meyer dan Mario Lawalata."
Ya, Alex membatalkan semua rencana yang sudah disusunnya rapih itu hanya untuk membuktikan dia bukanlah seorang pengecut. Padahal tadinya Alex hanya ingin membawa Kaylin pergi tanpa keributan, untuk menjaga nama baik kedua belah pihak terutama pihak keluarga Meyer. Namun tindakan Kaylin yang memprovokasinya, membuat Alex mau tidak mau mengambil sikap tegas.
"Tidak .. tidak, jangan Alex! Aku mohon jangan membuat keonaran lagi, cukup bebaskan aku dan pergilah!" Kaylin tidak ingin ada keributan, apalagi sampai membuat kakaknya malu di depan para tamu undangan. Sungguh ia menyesal karena sudah memancing kemarahan seorang Alexander.
"Alex aku mohon," Kaylin kembali memohon, bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.
"Sudah terlambat," Alex menarik tengkuk wanitanya, mencium bibir Kaylin saat matanya menangkap sosok Kenan dan Mario yang berjalan kearahnya.