
Sesampainya di Mansion. Kaylin memilih masuk ke dalam kamar setelah mengantar Edgar ke kamar tamu yang akan di tempati sepupunya selama tinggal di mansion Moses. Dan bukan tanpa alasan Kaylin memilih masuk ke dalam kamar meninggalkan Alex, karena saat sampai di mansion ia melihat Raline yang sudah berada di ruang tengah dan pastinya menunggu kedatangan Alex.
Sungguh aneh bukan wanita itu? Tadi pagi ikut pergi bersama suaminya ke kantor, tapi saat ini dia sudah ada di mansion. Melihat sikap Raline yang menyusul Alex, semakin menguatkan dugaannya kalau adik jadi-jadiannya itu memang mencintai Alex, sampai berusaha untuk selalu berada di dekat pria itu.
"Raline sudah pasti mencintai Alex, sekarang yang harus aku pastikan apa Alex juga mencintai Raline." Gumam Kaylin dengan tidak sabaran menunggu Alex masuk ke dalam kamar untuk menjelaskan semuanya.
Namun setengah jam berlalu Alex tidak juga masuk ke kamar, membuat Kaylin kesal dan memutuskan menghampiri pria itu yang pastinya sedang bersama Raline.
"Kemana mereka?" Kaylin menatap kosong, tak ada siapa pun di ruangan tersebut. Netra nya mencari keberadaan Alex dan Raline sembari berjalan menuju halaman belakang. "Dimana Tuan mu?" tanya Kaylin pada pelayan yang tengah membersihkan meja.
"Tuan sudah kembali ke kantornya, Nyonya."
"What?" pekik Kaylin dengan kesal. Bagaimana tidak kesal, setengah jam ia menunggu Alex di dalam kamar tapi pria itu justru sudah kembali ke kantor. Padahal di taman tadi Alex mengatakan akan membahas masalah status Raline yang sudah diketahuinya. Tapi kini pria itu pergi bahkan tidak berpamitan dengannya. "Sial!" umpat Kaylin dalam hati. "Apa Raline juga ikut?"
"Iya Nyonya, Nona Raline ikut pergi bersama Tuan." jawab pelayan tersebut. "Apa Anda membutuhkan sesuatu?"
"Tidak ada." Kaylin memilih kembali masuk ke dalam ruangan, berjalan menunju kamar tamu untuk menemui Edgar.
Baru saja Kaylin hendak mengetuk pintu kamar, Edgar sudah lebih dulu muncul dihadapannya.
"Hai, aku baru saja hendak menemuimu." Edgar membawa masuk Kaylin ke dalam kamar.
Namun baru dua langkah kakinya berjalan, suara seorang pria membuat langkah Edgar dan Kaylin terhenti.
"Maaf Nyonya Kaylin, Anda dilarang masuk ke dalam kamar tamu."
"Kau berani melarangku?" tanya Kaylin dengan tidak suka.
"Maaf Nyonya, tapi ini perintah dari Tuan Alexander."
"Apa?" Kaylin tak percaya itu.
"Sudah Kay, lebih baik kita ke tempat lain." Edgar membawa Kaylin keluar kamar.
"Kau mau apa lagi? Pergilah!" Kaylin geram karena pengawal pribadi yang melarangnya masuk ke dalam kamar tamu, kini mengikuti langkah mereka.
"Maaf Nyonya, tapi Tuan juga menugaskan untuk selalu berada di dekat Anda."
"What?" Kali ini Kaylin betul-betul emosi. Masa di dalam mansion nya sendiri ia di ikuti dan di awasi. "Hubungi Tuan mu sekarang! Aku ingin bicara," perintah Kaylin pada pengawal pribadi tersebut.
"Tapi Nyonya..."
"Hubungi sekarang!" Kaylin yang kesal sampai menatap tajam pria berjas hitam tersebut, membuat pengawal pribadi itu tak bisa berkutik dan mau tidak mau menghubungi ponsel tuan Alexander.
Sementara itu Edgar yang sejak tadi diam, berjalan kesekitar ruangan mewah nan luas tersebut sembari menelisik ke setiap sudut ruangan. Ia tampak terkagum melihat bagaimana ketatnya penjagaan di mansion milik Alexander yang baru disadarinya.
Selain di kelilingi oleh kamera CCTV yang pastinya bisa langsung dilihat oleh Alexander, juga ada orang-orang keamanan yang dapat ia pastikan jumlahnya bertambah tidak sama dengan jumlah tadi pagi sebelum ia membawa Kaylin keluar.
"Alexander benar-benar bukan pria sembarangan." Gumam Edgar dengan tangan mengusap rahang dan kening yang berkerut.