
Keesokan harinya. Seperti yang sudah dibicarakan tadi malam, kini Alex dan Kaylin sudah berada di rumah sakit tempat dimana Raline di rawat.
"Alex turunkan aku, malu dilihat kakek dan bapak petugas keamanan." Bisik Kaylin yang memang saat ini tengah digendong Alexander. Keputusannya untuk tidak mengenakan kursi roda karena keadaannya sudah membaik, justru membuatnya harus berada di dalam gendongan suaminya.
Alex pun menurunkan Kaylin bukan karena malu pada kakeknya ataupun pada kedua petugas yang berjaga, tapi karena memang mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Sedangkan Kakek Moses yang melihat kedatangan cucu dan cucu menantunya yang terlihat harmonis reflek menarik kedua sudut bibirnya.
"Apa kabarmu, Nak?" sapa Moses pada Kaylin.
"Aku baik, kakek bagaimana?" Kaylin bertanya balik setelah memberi salam.
"Kakek tua ini masih bisa bernapas asal suamimu tidak membuat ulah." Jawab Moses dengan bercanda, membuat Kaylin tertawa.
"Sudah cukup basa-basinya, lebih baik kita menjenguk sekarang, agar kau tidak terlalu lama berada di luar Mansion."
Kakek Moses yang tahu betul kekhawatiran Alex pada keadaan Kaylin, membuka pintu ruangan dimana Raline berada.
"Lebih baik kau saja yang masuk, biar Kaylin Kakek yang menjaganya diluar." Moses tidak ingin terjadi kekacauan antara Raline dan Kaylin, apalagi sampai membahayakan keselamatan cucu menantunya lagi.
Alex menatap Kaylin kemudian masuk kedalam ruangan setelah mendapat persetujuan dari istrinya untuk masuk seorang diri. Kini ia berada di dalam ruangan dimana Raline tengah duduk di atas ranjang dengan tatapan yang kosong.
Ada rasa iba dihatinya saat melihat keadaan Raline yang seperti itu, terlebih saat melihat tangan Raline yang diperban yang dapat dipastikan luka sayatan saat wanita itu hendak mencoba bunuh diri.
Alex hanya diam sembari berjalan mendekat pada Raline, duduk dihadapan wanita itu dengan perasaan sedih dan kecewa menjadi satu.
"Berhentilah bersikap seperti ini!"
Raline tersenyum getir menatap wajah Alex, wajah pria yang selama hampir satu bulan ini ia rindukan kini sudah ada dihadapannya, namun tidak bisa ia sentuh seperti dulu karena ada jarak tak kasat mata diantara mereka.
"Lalu aku harus bersikap seperti apa?" tanyanya dengan sinis.
"Bersikaplah berani dengan bertanggung jawab atas kesalahan yang kau perbuat."
Raline tertawa keras. "Apa salahku kak? Membuat Kaylin terjatuh karena rasa cintaku padamu, apa itu sebuah kesalahan? Apakah ingin memilikimu adalah sebuah kesalahan? Aku dan kau saling mencintai apa itu sebuah kesalahan?"
"Ya, semua salah!" jawab Alex dengan singkat dan tegas hingga membuat Raline terdiam. "Aku mohon hentikan tindakan bodoh mu itu! Jangan melukai dirimu lagi setidaknya demi Kakek, dia orang yang sangat menyayangimu dengan tulus meskipun kau bukan cucu kandungnya. Bahkan kakek tua itu memilih berada di sisimu, membelamu meskipun harus berhadapan dengan cucu kandungnya sendiri."
Deg.
"Kakek." Tanpa sadar air mata menetes di kedua pipi Raline mengingat bagaimana kakeknya berjuang untuk mengeluarkannya dari penjara, bahkan menjaganya tanpa rasa lelah sedikit pun.
"Bersikap dewasa, jangan memikirkan diri sendiri karena banyak orang yang terluka karena keegoisan mu!" Alex menepuk bahu Raline sebelum beranjak dari ruangan tersebut.