One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 33



Suara tepuk tangan para tamu undangan, menggema di seluruh taman belakang mansion Meyer, yang sudah di sulap menjadi tempat yang begitu mewah di saat Mario menyematkan sebuah cincin pada Kaylin.


Ya, keduanya kini telah resmi bertunangan dengan disaksikan seluruh keluarga besar Meyer maupun keluarga besar Lawalata. Tidak lupa beberapa rekan bisnis dari kedua belah pihak pun turut hadir, menyaksikan bersatunya dua keluarga pembisnis tersebut.


"Selamat ya Adik ipar ku yang cantik," ucap Cleopatra sembari memeluk Kaylin. "Walaupun sebenarnya aku lebih setuju kau bersama Alexander, tapi aku tetap mengucap syukur. Karena pada akhirnya ada laki-laki yang mau menjadikan kau sebagai calon istrinya," ucapnya lagi dengan berbisik dan menahan tawa.


"Terima kasih atas sanjungannya kakak ipar ku yang menyebalkan," sahut Kaylin dengan senyum terpaksa. Jika saja saat ini bukan ia yang menjadi pemeran utama dalam pesta tersebut, sudah dapat dipastikan Kaylin akan membalas ucapan Cleopatra dengan lebih sengit lagi.


Melihat adik iparnya yang menahan emosi, tentu saja membuat seorang Cleopatra tersenyum bahagia. Karena lagi-lagi ia berhasil mengerjai adik ipar kesayangannya itu. Dan kini Cleo pun beralih pada sosok Mario yang terlihat tampan, dan gagah dengan setelan jas berwarna hitamnya.


"Selamat Mario, aku harap kau tidak menyesal sudah memilih Kaylin Meyer."


"Tentu saja tidak, justru aku sangat bersyukur bisa mendapatkannya," sahut Mario dengan cepat tanpa ada keraguan sedikitpun.


Membuat Kaylin langsung terdiam, setelah sebelumnya hendak membalas perkataan kakak iparnya. Sedangkan Cleo hanya tersenyum, dan berlalu pergi untuk menyapa para sepupunya yang hadir di pesta pertunangan tersebut.


"Kau kenapa?" tanya Mario saat melihat Kaylin diam saja setelah Cleopatra pergi.


"Tidak apa-apa, aku hanya haus ingin minum," bohong Kaylin.


Karena pada kenyataannya ia sedang memikirkan perkataan Cleopatra. Kaylin takut Mario menyesal saat nanti pria itu tahu, bukan dia lah orang yang pertama menyentuhnya. Meskipun di jaman yang modern seperti sekarang ini sudah menjadi hal yang biasa bagi seorang gadis sudah tidak utuh lagi. Tapi tetap saja Kaylin merasa takut kalau nanti Mario kecewa.


"Kalau begitu kau tunggu di sini, aku ambilkan minuman dulu."


Kaylin menganggukkan kepalanya, menatap tubuh tegak Mario yang semakin menjauh dengan perasaan yang menghangat. Betapa baiknya seorang Mario yang selalu mengutamakan kebutuhan dirinya, bahkan untuk mengambil minuman saja pria itu turun tangan langsung. Padahal Mario bisa saja menyuruh pelayan untuk mengambilkannya.


Wanita cantik yang tampak elegan dan anggun dengan dress hitam yang dikenakannya, memutuskan untuk menghampiri tunangannya dari pada menunggu seorang diri.


*


*


Sementara itu di tempat yang berbeda, di sebuah ruang kerja yang di dominasi dengan warna putih dan hitam. Tampak seorang pria tengah duduk bersandar di kursi kerjanya, dengan jari-jemari yang mengetuk di atas meja. Keningnya berkerut dengan tatapan tajam kearah langit-langit ruangan.


Drt.. drt.


Dengan segera pria itu mengangkat panggilan tersebut, setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.


"Bagaimana?"


"Acaranya sedang berlangsung, dan sekarang mereka sudah resmi bertunangan."


Pria tampan tersebut mengetatkan rahangnya. "Terus awasi dan jaga dia sampai aku kembali!"


"Baik Tuan."


Ia pun segera menutup ponselnya setelah mendengar jawaban dari Boby. Anak buah yang di tugaskan untuk menjaga Kaylin sampai hari di mana ia kembali.


Ya, pria itu adalah Alexander yang kini berada di dalam ruang kerjanya. Dia menatap kembali langit-langit ruangan, sampai suara seorang wanita memanggil namanya dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.