One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 61



Melihat istri tuan nya menangis, Boby terkejut sekaligus khawatir. "Nyonya Anda kenapa? Apa ada yang sakit?"


Kaylin menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Aku hanya merindukan keluargaku."


"Kalau Anda merindukan mereka, kenapa tidak datang berkunjung?"


Kaylin lagi-lagi menggelengkan kepalanya tanpa mau menjawab pertanyaan Boby.


"Jangan bilang Anda takut menemui mereka?"


Kaylin menatap Boby dengan tidak suka sembari mengusap air mata yang mengalir di kedua pipinya.


"Aku tidak takut, hanya saja..."


"Anda belum siap jika mendapat penolakan apalagi pengusiran dari Tuan Kenan Meyer?" tebak Boby dengan tepat hingga membuat Kaylin terdiam. "Seorang Kakak marah pada Adiknya yang sudah membuat kecewa itu hal yang wajar, tapi yakinlah kemarahan itu adalah bentuk lain dari kasih sayang seorang kakak yang ingin melindungi Adiknya," jelas Boby panjang lebar.


Bukan tanpa alasan dia mengatakan hal tersebut, karena memang Boby tahu betul Kenan Meyer begitu menyayangi adiknya, sampai ia ditugaskan secara khusus menjaga wanita itu. Ya, dia bukan hanya bekerja pada Tuan Alexander tapi juga bekerja pada Kenan Meyer untuk menjaga, dan memberi informasi apapun tentang Adiknya.


"Sudahlah jangan membahasnya," Kaylin tidak mau membahas masalah keluarganya lagi.


"Kalau Anda tidak mau membahasnya, mari kita masuk ke dalam. Anda pasti belum sarapan?" ajak Boby. Namun bukannya mengikuti apa yang dikatakannya, wanita itu justru kembali menangis bahkan lebih keras dari yang pertama. "Anda kenapa lagi?" Boby menelisik keadaan Kaylin, memastikan wanita itu tidak terluka. Bisa-bisa ia mati ditangan kedua tuannya kalau sampai nyonya itu kenapa-kenapa.


Boby dengan cepat memberikan sapu tangannya pada Nyonya Kaylin. "Memangnya kenapa Anda tidak mau masuk?" untuk ketiga kalinya Kaylin menggelengkan kepala, hingga membuat Boby hampir frustasi melihat sikap ibu hamil tersebut. Namun di detik berikutnya ia mengerti kenapa wanita itu tidak mau masuk ke dalam mansion.


Ya, sedikit banyak ia tahu hubungan tuan Alexander dan nyonya Kaylin tidak berjalan dengan baik bahkan seperti jalan ditempat, karena setiap malamnya tuan Alex lebih memilih lembur kerja, dan baru pulang saat larut malam entah karena apa, belum lagi ditambah dengan kehadiran nona Raline yang sangat posesif, tidak memberikan ruang bagi tuan dan nyonya nya untuk bersama.


"Boby menurutmu salah tidak jika aku cemburu pada Adik iparku sendiri?" ucap Kaylin pada akhirnya setelah berhenti menangis.


"Maksud Anda?" Boby mengerutkan keningnya.


"Apa kau tidak dengar? Aku cemburu pada Adik suamiku sendiri, aneh bukan?" Kaylin tertawa sinis.


"Aku rasa tidak aneh," Boby pun sebenarnya merasa aneh dengan sikap nona Raline pada tuan Alexander yang terlalu berlebihan, tidak seperti sikap seorang adik pada kakaknya jadi wajar jika nyonya nya itu cemburu. "Jangankan pada adik ipar, aku saja kadang cemburu pada Kakakku sendiri karena orang tua kami lebih menyayanginya dari pada aku," candanya.


"Ish kau ini..." Kaylin berdecak kesal sembari tertawa.


Boby pun ikut tertawa sembari menatap intens wajah cantik Nyonya Kaylin. "Nyonya jika Anda merasa cemburu atau tidak menyukai sesuatu, maka katakanlah! Jangan hanya di pendam dalam hati, karena itu tidak akan menyelesaikan sebuah masalah."


Kaylin terdiam, meresapi semua perkataan Boby yang seperti sebuah tamparan untuknya. Boby benar, ia tidak boleh diam saja di saat hatinya merasa sakit dengan kedekatan Raline dan Alex. Walaupun Raline adik suaminya, tapi dia adalah istrinya yang lebih berhak atas Alexander.