
"Wanita adalah makhluk yang sangat aneh dan sulit dimengerti," gumamnya pada diri sendiri sembari menghela napas panjang.
"Anda baru tahu ya Tuan?" Boby tertawa geli, apalagi saat melihat ekspresi tuannya yang biasa datar kini terlihat mengernyitkan keningnya. "Apalagi wanita yang sedang hamil, anehnya dua kali lipat."
"Ya, kau benar," Alex menganggukkan kepalanya sembari menghela napasnya kembali. "Inilah kenapa aku tidak mau terikat pada seorang wanita."
Boby hanya tersenyum tanpa mau menimpali perkataan tuannya, karena ada hal penting yang ingin ia tanyakan sejak beberapa Minggu belakangan ini.
"Tuan, apa boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Boby sembari menatap tuan Alex dari kaca spion mobil yang dikendarainya.
"Em.." Alex hanya bergumam karena fokusnya kini ada pada layar ponselnya, dimana sebuah pesan singkat masuk dari Raline yang mengatakan akan datang ke kantor dengan membawa makanan untuknya.
"Anda dan Nona Raline apa benar bersaudara? Em.. maksudku apa kalian memang Kakak dan Adik?" tanya Boby dengan hati-hati takut tuannya tersinggung, apalagi saat melihat tuan Alexander kini menatapnya dengan tajam.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Ka-karena wajah kalian tidak mirip sama sekali, dan sikap Nona Raline pada Anda bukan seperti seorang Adik pada kakaknya, tapi lebih terlihat seperti seorang wanita pada kekasihnya."
Alex mendesah dengan kasar. "Kau juga ternyata berpikiran seperti Kaylin."
"Aku rasa bukan hanya pemikiran kami, tapi pemikiran semua orang yang melihat interaksi antara Anda dan Nona Raline pasti akan berpikiran yang sama. Jika orang lain yang tidak mengetahui kalian adalah Kakak dan Adik, pasti akan menganggap kalian itu pasangan kekasih."
Alex hanya diam, memilih untuk tidak menggubris perkataan Boby yang menurutnya tidak masuk di akal karena mencurigai dirinya dan Raline. Ya, meskipun mereka bukan saudara kandung tapi Raline sudah memiliki kekasih, dan ia pun sudah menikah dengan Kaylin.
"Jadi bagaimana Tuan, Anda belum menjawab pertanyaanku?" Boby masih menunggu jawaban tentang kecurigaannya selama ini.
"Masih berani kau bertanya?" sentak Alex dengan kesal.
"Ti-tidak Tuan," Boby memilih menyudahi pembicaraan mereka dari pada mendapat kemarahan dari pria yang pernah menjabat sebagai ketua tim Delta itu. "Padahal tinggal dijawab saja, apa susahnya?" gumamnya dalam hati.
"Bob apa kau akan melaporkan kejadian tadi?" tanya Alex dengan dingin setelah mereka terdiam cukup lama.
"Melapor apa Tuan?" Boby balik bertanya dengan gugup, sembari menatap kearah kaca spion mobil untuk melihat ekspresi wajah Alexander. Entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak, apalagi saat melihat betapa dingin dan tajamnya tatapan pria itu.
"Kau pikir aku tidak tahu, kau bekerja pada Kenan Mayer!"
Boby yang terkejut sampai menginjak pedal rem dengan mendadak, hingga membuat Alexander sedikit terhuyung ke depan.
"Tu-tuan, Anda sudah tahu?" saat seperti inilah yang paling ditakuti Boby, yaitu terbongkarnya rahasia yang selama ini di simpannya, kalau ia juga bekerja pada Tuan Kenan Meyer.
"Kau lupa aku ini siapa?" Alex berkata dengan tegas dan penuh penekanan di setiap katanya.
Deg.
Boby semakin ketakutan dengan keringat dingin yang mulai menetes di keningnya. "A-aku minta maaf Tuan, aku dipaksa oleh Tuan Kenan untuk menjaga Nyonya Kaylin dan memberitahunya kabar apa pun yang berkaitan dengan Adiknya. Tapi aku berani bersumpah tidak pernah melaporkan yang tidak-tidak pada Tuan Kenan."
Alex menghela napasnya dengan kasar. "Kejadian tadi saat Kaylin menangis apa kau akan melaporkannya pada Kenan?"
"Tidak Tuan," jawab Boby dengan cepat.
"Jika kau ingin melaporkannya, tak masalah. Lagi pula aku tidak pernah membuat adiknya kesusahan secara materi seperti yang ditakuti pria itu."
Kini gantian Boby yang menghela napasnya dengan kasar. "Anda memang mencukupi semua kebutuhan materi Nyonya, tapi yang dibutuhkan seorang wanita bukan hanya materi. Hal seperti itu saja Anda tidak mengerti."
"Bob..!"
"Maaf Tuan, aku kelepasan bicara." Boby mengumpat dalam hati, bisa-bisanya ia menggurui majikannya sendiri setelah rahasianya ketahun. Lagi pula jika dipikir-pikir untuk apa ia menjelaskan semua pada tuannya, karena mau dijelaskan seperti apa pun pria dingin seperti Alexander yang tidak peka terhadap perasaan wanita tidak akan pernah mengerti.
"Apa pagi ini ada jadwal meeting?" tanya Alex saat teringat pesan singkat yang dikirim Raline.
"Tidak ada Tuan, tapi pukul sepuluh nanti kita ada pertemuan dengan Tuan Gibson."
"Batalkan pertemuan itu!"
"Tapi Tuan..."
"Raline akan datang, jadi aku tidak mungkin meninggalkannya di kantor sendirian."
"Apa?" pekik Boby namun hanya berani dalam hati. "Yang begini ini, yang membuat orang salah paham dan curiga," gumamnya kembali dalam hati sembari menggelengkan kepalanya.