One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 58



"Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Alex mengulang pertanyaannya karena Kaylin hanya diam saja tak bersuara sama sekali, padahal mulut wanita itu selalu tidak bisa diam jika sedang kesal.


"Jadi kau benar-benar orang kaya?" hanya itu yang mampu Kaylin tanyakan karena begitu terkejut mengetahui jati diri Alex yang sesungguhnya.


Alex menghela napas sembari menahan tawanya, dari sekian banyak pertanyaan seperti kenapa selama ini dia menutup jati dirinya, atau kenapa dia lebih memilih menjadi seorang pengawal pribadi dari pada meneruskan perusahaan keluarganya, Kaylin justru menanyakan sesuatu yang tidak penting itu.


Tapi itulah keunikan dari seorang Kaylin Meyer, wanita manja dan keras kepala namun memiliki pemikiran yang sangat simpel, dan karena hal itulah yang membuat Alex merasa nyaman disisi wanitanya, karena Kaylin satu-satunya wanita yang bisa bertahan dengannya tanpa peduli dia siapa dan bagaimana.


"Kay apa kau lapar?" Alex lebih tertarik menanyakan hal tersebut dari pada menjawab pertanyaan Kaylin.


"Em.. sedikit," jawab Kaylin sembari menatap ke seluruh ruang kamar yang begitu luas, ruangan yang di dominasi warna beige dan putih itu membuat netra nya begitu nyaman hingga rasa kantuk mulai melanda.


"Itu bukan sebuah jawaban," Alex menarik Kaylin untuk mendekat, mengusap perut wanita itu dengan sedikit menunduk. "Apa kau lapar?" ucapnya tepat dihadapan perut Kaylin lalu mencium perut datar tersebut.


"Alex geli," Kaylin berusaha menjauhkan kepala pria itu dari perutnya.


"Jawab dulu pertanyaanku!"


"Iya aku lapar."


"Kalau begitu kita makan di luar, kau ingin ganti pakaian dulu atau tidak?" Alex kembali berdiri tegap, netra nya menatap tampilan Kaylin yang mengenakan pakaian yang dibelinya tadi malam.


"Ck.. kau pasti belum melihat isi lemari?" Alex berjalan menuju walk in closet


Kaylin menggelengkan kepalanya, berjalan mengikuti Alex dengan perasaan penuh keraguan, tidak mungkin suaminya itu sudah menyediakan semua pakaian untuknya dalam waktu satu malam.


Namun keraguan di dalam hatinya sirna begitu saja, saat Alex membuka lemari pakaian dimana di dalamnya ada banyak sekali pakaian wanita, dari pakaian santai, pergi, bahkan gaun-gaun cantik pun ada di dalamnya dan pastinya bermerek.


"Ini semua untukku?" tanyanya dengan rasa tak percaya. Ia yang tadinya berpikir akan hidup sederhana bersama Alex, kini dapat dipastikan akan hidup berkecukupan dan tinggal di mansion yang sama mewahnya dengan milik keluarga Meyer.


"Tentu saja," Alex menghela napas kasar, karena lagi-lagi Kaylin mempertanyakan sesuatu yang sudah pasti jawabannya. Tidak mungkin ia membelikan pakaian untuk wanita lain, dan ditaruhnya di dalam lemari pakaian mereka. "Gantilah pakaianmu, aku tunggu di luar!"


"Tunggu Alex!" Kaylin menahan langkah suaminya. "Kau dan Raline benar bersaudara kan? Maksudku kalian kakak beradik?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Alex balik bertanya.


"Aku.. aku hanya ingin memastikan, karena—" Kaylin ragu untuk mengungkapkan apa yang mengganjal dihatinya.


"Kenapa? Jangan bilang kau cemburu dengan Adikku?" Alex menarik pinggang istrinya, mendekatkan tubuh mungil itu hingga menabrak dada bidangnya.


"Aku..." Kaylin menelan salivanya dengan susah payah saat tubuh mereka kini bersentuhan, apa lagi saat melihat wajah Alex dari dekat, wajah tampan yang di penuhi oleh lebam bekas pukulan itu terasa menggoda untuk ia sentuh.