
"Kau benar Boby," Kaylin tersenyum.
Boby pun ikut tersenyum saat melihat kedua mata Kaylin yang tadinya di penuh kesedihan, kini kembali bercahaya dengan penuh semangat, itu artinya ia tidak perlu memberitahu Kenan tentang kesedihan Kaylin, karena tidak mau membuat hubungan kedua tuannya semakin memburuk.
Sementara itu dari kejauhan, Alex yang membawa segelas susu ibu hamil untuk Kaylin, mengepalkan satu tangannya dengan kuat saat melihat Boby yang berdekatan dengan sang istri.
"Cari mati dia!" umpatnya sembari berjalan menghampiri ke-dua orang tersebut. "Minumlah!" ia menyodorkan gelas yang dibawanya.
Kaylin yang tengah tersenyum langsung terdiam saat melihat Alexander yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Ayo diminum!" ucap Alex kembali saat Kaylin diam saja tidak mengambil gelas tersebut. "Atau kau ingin aku—"
Dengan cepat Kaylin mengambil gelas tersebut lalu meminumnya, dari pada Alex memaksanya seperti yang sudah-sudah dengan cara memasukkan minuman susu itu dari mulut ke mulutnya dihadapan Boby.
"Kak kenapa kau pergi? Kita kan belum selesai sarapan." Raline yang menyusul Alex, kini berdiri di samping pria itu.
"Aku sudah kenyang," jawab Alex tanpa mengalihkan tatapannya pada Kaylin, terutama pada kedua mata wanita itu yang terlihat seperti habis menangis.
"Bagaimana mungkin kenyang? Kau tidak memakan apa pun." Karena tadi Alex hanya menemaninya sarapan.
Kaylin yang awalnya tidak mau peduli, langsung menatap pada Alex saat mengetahui pria itu belum makan sama sekali.
"Kalian berdua masuklah, tinggalkan kami berdua!" ucap Alex tanpa menjawab pertanyaan Kaylin.
"Tapi Kak..."
"Mari kita masuk, Nona." Boby mempersilahkan nona Raline, dan mau tidak mau wanita itu pergi bersamanya meninggalkan sepasang suami-istri tersebut.
"Kenapa kau menangis?" tanya Alex setelah mereka hanya berdua ditempat tersebut.
"Menangis? Aku tidak menangis?"
"Jangan berbohong!" Alex mengusap salah satu sudut mata Kaylin yang masih terlihat jejak air mata. "Katakan kenapa kau menangis?"
"Ck.. kau itu benar-benar manusia dingin yang tidak peka sama sekali," umpat Kaylin dengan ketus. "Asal kau tahu, aku menangis karena kau! Karena sikapmu yang tidak mempedulikan aku. Kau sibuk dan selalu pulang larut malam, jika weekend kau justru menghabiskan waktumu bersama Raline," ucap Kaylin dengan menggebu dan tanpa sadar air mata kembali menetes di kedua pipinya. "Dan aku menangis karena kesal, kesal tidak bisa mengatakan kalau aku tidak suka pada Raline! Aku tidak suka melihat sikapnya yang memonopoli dirimu, aku juga tidak suka dengan sikapnya yang terlalu berlebihan memperlakukan mu layaknya seorang wanita pada kekasihnya. Aku cemburu Alexander, aku cemburu pada adikmu. Apa kau mengerti?" teriak Kaylin dengan penuh emosi, namun emosi yang dirasakannya saat itu tiba-tiba menguar begitu saja saat tubuhnya di peluk dengan erat oleh Alexander.
Ya, pria yang selama satu bulan ini tidak mempedulikannya, kini tengah memeluknya dengan erat. Bagaikan bertemu sebuah oase di Padang pasir, itulah yang tengah dirasakan Kaylin. Inilah yang wanita itu butuhkan, hanya sebuah perhatian kecil seperti sebuah pelukan sudah cukup bagi seorang Kaylin Meyer.
"Aku tahu kau tidak mencintaiku, tapi aku mohon jangan mengacuhkan aku," pinta Kaylin dengan sangat.
Alex hanya diam sembari mengurai pelukannya, dan tanpa banyak kata mencium bibir wanitanya yang tengah menangis pilu.