One Night In Dubai

One Night In Dubai
Part 45



Keadaan di dalam ruang rawat menjadi tegang saat Kaylin kembali pingsan, terlebih saat dokter menjelaskan bahwa benar Kaylin tengah hamil, bahkan usia kandungannya sudah lebih dari tujuh Minggu.


Kenan yang begitu marah mengetahui kabar kehamilan tersebut, membawa Alex keluar ruangan dan tanpa ampun memukuli pria itu dengan di bantu para pengawal pribadinya.


Jika saja Boy Arbeto tidak datang tepat waktu, entah akan jadi apa keduanya. Ya, Boy Arbeto datang setelah Cleo menghubunginya saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.


"Pergilah, bila perlu menghilang! Jangan pernah muncul lagi dihadapkan kami terutama Adikku," ucap Kenan dengan tegas dan penuh penekanan di setiap katanya.


"Aku tidak akan pergi, aku akan bertanggung jawab," sahut Alex sembari mengusap sudut bibirnya yang terluka. Entah keadaan wajahnya saat ini seperti apa, tapi yang jelas semua pukulan Kenan tidak membuatnya kewalahan, karena ia pernah pernah mendapatkan yang lebih parah dari yang dialaminya saat ini.


"Ck.. bertanggung jawab? Bertanggung jawab seperti apa yang kau maksud?"


"Aku akan menikahinya."


Kenan langsung tertawa mengejek. "Menikahi Adikku? Apa kau yakin mampu membiayai hidup seorang keturunan Meyer?"


"Kenan...!" Cleo menatap tajam suaminya, ia tidak suka dengan cara bicara Kenan yang terdengar meremehkan.


"Sayang.. apa yang aku katakan itu benar, dengan pekerjaan dia sebagai pengawal pribadi, tidak akan sanggup membiayai hidup Kaylin. Bahkan uang gaji satu tahunannya saja tidak akan sanggup untuk membeli tas mewah Adikku."


"Kenan kau keterlaluan!" Cleopatra yang kesal, memilih masuk ke dalam ruangan Kaylin. Sungguh ia tidak pernah menyangka, suaminya ternyata memiliki pandangan sempit dengan menilai seseorang dari status sosialnya.


Sementara Alex hanya tersenyum sinis mendengar hinaan yang dilontarkan Kenan, karena semua yang dikatakan pria itu memang benar adanya. Itulah mengapa dari dulu ia tidak pernah mau menjalin hubungan dengan para wanita kaya, terutama Kaylin. Karena status sosial mereka yang jauh berbeda, membuat hubungan itu tidak akan mungkin berjalan dengan baik.


"Dengan atau tanpa ijinmu, aku akan tetap menikahi Kaylin."


"Kau..."


"Tahan Brother!" Boy yang sejak tadi diam, dengan cepat menahan Kenan saat pria itu hendak memukul Alex. "Kita bisa membicarakan ini dengan baik-baik, dan aku rasa keputusan sepenuhnya ada di tangan Kaylin."


"Tidak perlu menunggu keputusan Kaylin, aku kakaknya berhak memutuskan yang terbaik untuknya," ucap Kenan dengan berapi-api.


"Aku juga berhak atasnya, karena Kaylin sedang mengandung keturunanku."


"Kau..."


Lagi-lagi Boy yang menjadi penengah diantara kedua pria keras kepala yang merasa memiliki hak atas Kaylin. Padahal saat ini ia ingin sekali tertawa, melihat bagaimana Alex yang tidak pernah dekat dengan wanita kecuali untuk bersenang-senang, begitu bersemangat ingin menikah.


"Ken di mana Kaylin?"


Kedatangan Mario membuat ketiga pria tampan itu terdiam dengan raut wajah yang berbeda. Jika Alex menatap Mario dengan dingin, Kenan menatap calon adik iparnya itu dengan malas. Sementara Boy menahan tawanya, saat melihat kondisi pria yang berjalan kearah mereka. Ia yakin, yang membuat pria itu babak belur pastilah Alexander jika dilihat dari pola bekas pukulannya.


"Kaylin di dalam."


Dengan cepat Mario masuk ke dalam ruangan, begitu pun dengan Alex yang ikut masuk meskipun sempat dihalangi oleh Kenan.