
"Lepas Kay! Sebelum semuanya terlambat," pinta Alex dengan suara seraknya, saat kabut gairah di dalam tubuhnya semakin tak terkendali.
"Tidak mau, kau tidak boleh pergi!" Kaylin semakin menarik Alex hingga bibir mereka kini saling menyentuh.
Alex menutup kedua matanya dengan geraman rendah. "Kau yang memintanya Kay! Jadi jangan salahkan aku," dengan cepat ia mencium bibir wanitanya yang sedikit terbuka.
Sungguh Alex sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi, saat jelas-jelas apa yang sangat diinginkan miliknya sudah berada di depan mata. Ciuman yang awalnya perlahan kini sangat menuntut saat lidahnya masuk dan membelai langit-langit milik wanitanya, saling membelit dan bertukar saliva.
Tangannya pun tidak tinggal diam meraba punggung putih tersebut dan tanpa ampun merobek dress yang dikenakan Kaylin. Hingga hanya menyisakan segitiga yang menutupi area sensitif wanitanya.
"Alex..." satu ******* kembali lolos dari bibir Kaylin saat Alex semakin liar menyentuh area sensitifnya, membelai dan menurunkan satu-satunya penutup yang menempel di tubuhnya.
"Kau menikmatinya?" Alex menatap tubuh polos yang ada di bawahnya, sembari membuka apa yang dikenakannya tanpa sisa sedikitpun.
Membuat kedua mata Kaylin semakin terbuka lebar, menatap sesuatu yang tiga tahun lalu selalu ia rasakan walau hanya dengan tangan.
"Aku tanya kau menikmatinya?" Alex kembali bertanya dengan menahan tubuh wanitanya, hingga dapat ia rasakan kulit tubuh mereka saling bersentuhan dan tentunya kedua milik mereka juga.
Kaylin menganggukkan kepalanya tanpa menjawab, bahkan keduanya tangannya memeluk erat punggung Alexander, saat merasakan dibawah sana milik mereka saling bergesekan.
"Apa kau yakin ingin melakukannya?"
Lagi-lagi Kaylin hanya menganggukkan kepalanya, saat tangan Alex dengan lihainya bermain dibawah sana. Membuat kedua lututnya terasa lemas, bahkan perutnya terasa menegang.
"Persetan dengan semua itu," Alex yang sudah terbakar oleh gairah yang sejak tadi ditahannya, membuka lebar kaki wanitanya dan dengan perlahan namun pasti mulai menyatukan diri dengan wanitanya.
"Aw.. sakit!" teriak Kaylin dengan mencakar punggung Alex saat merasakan sakit yang luar biasa di bawah sana, rasanya seperti terbelah menjadi dua bagian.
"Tahan Kay!" Alex berhenti untuk masuk lebih dalam, lalu mencium bibir Kaylin untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan wanitanya.
"Hentikan Alex!" pinta Kaylin saat tautan bibir mereka terlepas.
"What?" pekik Alex dengan wajah tak percaya. Tidak mungkin ia menghentikan saat hasratnya sedang meninggi.
"Sakit! Aku tidak mau," rengek Kaylin sembari memukul dada bidang Alexander. "Kalau kau tidak melepaskannya aku akan adukan pada Kak..." belum sempat ia meneruskan perkataannya, Alex lebih dulu membungkam bibirnya dengan ciuman yang sangat menuntut.
Hingga ia kembali terbuai oleh gairah yang membakar sisi liarnya. Namun itu hanya sesaat karena di detik berikutnya Kaylin kembali merasakan sakit saat sesuatu yang sejak tadi mengganjal dibawah sana semakin masuk.
"Kau milikku Kaylin Meyer," bisiknya saat ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkan nya, menatap wajah cantik Kaylin yang terlihat pucat dengan air mata di kedua sudut matanya. "Aku janji akan perlahan." ucapnya sembari mulai bergerak dengan perlahan. Rasa panas yang membakar tubuhnya sejak tadi, kini berangsur padam seiring hentakan yang ia lakukan pada tubuh wanitanya.
Tidak berbeda jauh dengan apa yang dirasakan Alex. Rasa sakit yang dirasakan Kaylin kini berganti oleh rasa nikmat yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata saat pria diatasnya terus bergerak.
Alex pun semakin menambah tempo nya saat merasakan tubuh Kaylin yang sudah menerima dengan baik miliknya. Hingga membuat ruangan dikamar tersebut terasa panas, saat kedua insan yang tengah mereguk kenikmatan itu semakin mencari kepuasan, saling memberi dan menerima hingga melupakan apa yang akan terjadi kedepannya saat mereka melangkah terlalu jauh.