
"Dia yang mengundurkan diri," jawab Kenan dengan tatapan menyelidik. "Kenapa kau bertanya tentang Alex?"
"Ish.. memangnya aku tidak boleh bertanya tentang Alex?"
"Tidak boleh! Kau tidak boleh bertanya, atau memikirkan pria lain selain aku!" Kenan mendekat pada istrinya tanpa melepaskan tatapan mereka.
"Ya.. ya.. ya.." ujar Cleo dengan malas. "Eh.. kau mau apa?" dengan cepat ia menahan tubuh sang suami yang mendekat.
"Aku ingin menyapa putri kita."
"Putri?" Cleo menautkan kedua alisnya dengan wajah yang bingung.
"Ya putri kita," Kenan mengusap perut istrinya.
Sedangkan Cleo hanya bisa menghela napas dengan kasar, saat suaminya mengatakan dengan sangat yakin jenis kelamin anak kedua mereka. Padahal usia kandungannya saja baru beberapa Minggu.
"Boleh?" Kenan kembali mendekat.
"Kalau aku mengatakan tidak boleh, kau tetap melakukannya bukan? Jadi untuk apa bertanya?"
Kenan menarik kedua sudut bibirnya, kembali mendekat hendak mencium bibir sang istri sebelum telinganya mendengar suara teriakan anak kecil.
"Kalian melupakan aku lagi?" protes Rex dengan kedua tangan berkacak pinggang.
"Rex..." ucap Cleo dan Kenan bersamaan, saat menyadari kebodohan mereka yang selalu melupakan Rex di saat keinginan untuk bercinta sedang menggebu.
Dan yang terjadi selanjutnya bukan sesi pergulatan panas antara suami istri tersebut, melainkan pergulatan suami dan putra mereka yang tengah marah karena sempat tidak dipedulikan.
Sementara itu Cleo yang menyaksikan bagaimana putranya memukuli Kenan, langsung terdiam saat mengingat kembali adik iparnya. Sikap aneh Kaylin yang lebih banyak diam, dan sering mengurung diri di dalam kamar setelah pulang dari Dubai.
Dan kini bertambah pula kebingungannya saat mengetahui Alex yang tak pernah kembali ke mansion Meyer setelah dari Dubai, bahkan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pengawal pribadi Kaylin.
*
*
The Wedding.
Kaylin berjalan bolak-balik dengan raut gelisah dan gugup, di dalam sebuah kamar hotel berbintang lima milik keluarga Arbeto.
"Sepertinya kau sudah tidak sabar menjadi seorang istri Mario Lawalata?" Cleopatra menggoda adik iparnya.
Membuat para wanita yang ada di dalam ruangan tertawa.
"Kak..." Kaylin menatap kakak iparnya dengan kesal. Bisa-bisanya Cleopatra bercanda di saat suasana tegang yang tengah ia rasakan. Bagaimana tidak tegang, karena dalam beberapa menit ke depan statusnya akan berubah menjadi seorang Nyonya Lawalata.
"Ayo sayang!" Merry menggandeng calon menantunya untuk keluar dari kamar, karena sebentar lagi acara akan dimulai.
Kaylin pun berjalan dengan di dampingi Cleopatra. Ya, hanya kakak iparnya yang mendampingi karena Mom Sofia sudah meninggal setahun yang lalu. Ia terus melangkah menuju Ballroom dengan memantapkan hatinya, bahwa apa yang dipilihnya sudahlah tepat mengingat semua sikap baik Mario selama ini.
Sementara itu di dalam ballroom, Mario yang tengah gugup menunggu kedatangan Kaylin, menarik kedua sudut bibirnya saat melihat wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya itu tengah berjalan memasuki ruangan dengan begitu anggun.
Ke-dua matanya bahkan terpukau dengan tatapan memuja, saat melihat Kaylin yang begitu cantik dengan riasan serba nude yang membuat tampilannya begitu glowing.
Jika saja Mario tidak mengingat banyaknya para tamu undangan yang hadir, sudah sejak tadi ia menarik tangan Kaylin untuk mempercepat acara pernikahan mereka.
Tidak berbeda jauh dengan Mario, Kaylin yang menjadi pusat perhatian para tamu undangan menjadi semakin gugup, bahkan tangannya terasa dingin saat melihat sosok yang berdiri dengan tampan dan gagah yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Karena tidak ingin semakin gugup, Kaylin pun mengalihkan tatapan matanya pada sekitar ruangan, menatap satu persatu para tamu undangan dengan senyum dibibirnya. Namun senyum itu langsung menghilang saat kedua matanya menatap sosok yang selama ini menghilang tanpa jejak, sosok yang pernah menyatu di hati dan tubuhnya.
"Alexander...."