
Setelah menunggu Alex menyelesaikan semua pekerjaannya, mereka bertiga pun pergi untuk makan siang bersama. Ya, acara yang awalnya menemani pria itu sarapan di kantor diganti dengan makan siang di sebuah restoran yang dipilih oleh Raline.
Dengan mengendarai kendaraan milik Alexander yang di kemudikan Boby, Kaylin memilih duduk di depan bersama pria itu dari pada duduk di belakang bersama Raline dan Alex. Apakah suaminya itu menyetujui dirinya duduk di depan, jawabannya iya setelah Kaylin mengatakan merasa mual jika duduk di belakang.
Padahal yang sebenarnya ia merasa tidak nyaman berada di antara keduanya setelah pembicaraan mereka yang terakhir. Entah mengapa Kaylin masih merasa curiga pada Alex dan Raline, dan selama di perjalanan menuju restoran Kaylin pun lebih memilih berbincang dengan Boby, sementara di kursi belakang ia hanya mendengar suara Raline yang terus bercerita yang hanya ditanggapi Alex dengan singkat atau hanya sekedar berdeham.
"Bob kau pergilah!" ucap Alex dengan dingin setelah keluar dari mobil.
"Tapi tuan?" Boby bingung kenapa tiba-tiba tuannya mengusir padahal mereka baru sampai di depan restoran. "Siapa nanti yang mengemudi?"
"Aku!" Alex meminta kunci mobilnya.
Boby yang masih bingung tetap memberikan kunci tersebut, dan ia semakin bingung saat Alexander memberinya beberapa lembar uang.
"Pakailah uang itu untuk makan siang, walaupun aku tahu kau tidak membutuhkannya karena memiliki doubel salary," sindir Alex sembari berlalu dari tempat tersebut, meninggalkan Boby yang menelan salivanya dengan susah payah karena sindiran tersebut.
"Kenapa kau menyuruh Boby pergi?" tanya Kaylin yang sempat mendengar percakapan Alex dengan asistennya.
"Aku tidak suka wanita ku duduk di samping pria lain," bisik Alex dengan jujur. Ia sengaja menyuruh Boby pergi agar Kaylin duduk di sampingnya saat pulang nanti. Kalau pun tadi Alex mengijinkan Kaylin duduk di depan semata-mata karena tidak tega melihat wanitanya mual.
"Maksudmu?" Kaylin mengerutkan keningnya dengan bingung, namun belum sempat ia mendengar penjelasan dari suaminya. Raline sudah lebih dulu menarik Alexander berjalan berdua, hingga ia hanya bisa menghela napasnya berjalan di belakang mereka.
"Kau ingin apa?" tanya Alex pada Kaylin, setelah mereka duduk di meja yang sudah di pesan sebelumnya.
"Aku tidak lapar kalian saja yang pesan."
Kaylin yang tersadar sejak pagi perutnya hanya diisi segelas susu dan cheesecake yang tadi di belinya dan itu pun hanya beberapa gigit, sedangkan semua roti yang tadi di belinya ia bagikan untuk para karyawan yang ada di kantor suaminya.
"Kau saja yang pilihkan untukku."
Alex menganggukkan kepalanya, menatap pada daftar menu mencari makanan kesukaan Kaylin.
"Aku juga, pilihankan untukku kak."
Alex menatap pada Raline, menatap wajah adiknya yang tengah tersenyum. Sementara Kaylin menghela napasnya dengan kesal saat lagi-lagi Raline bersikap seperti tidak mau kalah darinya.
"Kami pesan Chicken teriyaki and veggie."
Deg.
"Dia masih mengingat makanan favorit ku," hati Kaylin yang sempat kesal kini bahagia saat Alexander masih mengingat apa yang disukainya.
"Beef steak nya dua porsi," ucap Alex kembali pada pelayan restoran.
"Wah .. aku senang kakak masih mengingat makanan favorit ku," Raline tersenyum sembari menyentuh tangan Alexander.
"Jelas Alex mengingatnya, kau kan adiknya," Kaylin meraih tangan suaminya dengan menyingkirkan tangan adik iparnya.
Membuat senyum di bibir Raline menghilang berganti dengan kekesalan, sementara Alex hanya diam menatap keduanya tanpa mau berkomentar sedikit pun.