
Alex dan Edgar menatap Kaylin dengan aneh, karena wanita itu memakan sarapan paginya dengan begitu lahap dan cepat. Sangat berbeda dengan Raline yang tampak enggan makan dan hanya mengacak-ngacak makanannya yang ada di atas piring.
"Kay pelan-pelan, kau itu seperti orang yang kelaparan tidak makan satu Minggu." Edgar tertawa sembari menggelengkan kepala.
"Aku memang kelaparan, karena tadi malam ada seseorang yang lupa membawakan makan malam untukku." Sindir Kaylin tanpa mau menatap pada Alex.
"Tadi malam kau sudah tidur, jadi aku tidak tega membangunkanmu," Alex menjawab sindiran Kaylin dengan raut datar seperti biasanya.
"Tidak tega atau kau terlalu asik bersama Raline," ucap Kaylin namun hanya dalam hati. "Aku selesai," ia pun beranjak dari ruangan meskipun makanannya belum habis. Karena selera makannya hilang begitu saja setelah mendengar kebohongan Alexandre.
"Aku juga," Raline pun ikut beranjak dari tempat tersebut karena hatinya masih kesal dengan penolakan yang dilakukan Alex tadi malam. Tapi ia tidak akan menyerah, apalagi ada seseorang yang akan datang yang bisa ia manfaatkan untuk mendapatkan Alexander kembali.
Melihat Kaylin dan Raline yang kompak meninggalkan ruang makan dengan wajah yang ditekuk, Alex pun hanya bisa menghela napasnya dengan kasar.
Sementara Edgar justru tertawa dengan lepas saat melihat wajah Alex yang terlihat pusing.
"Kenapa kau tertawa?" Alex menatap tajam pada sepupu istrinya.
"Tidak ada, aku hanya ingin tertawa saja," jawab Edgar masih dengan tawa dibibirnya.
'Sekali lagi kau tertawa, out dari mansion ku!" Ancam Alex sampai membuat Edgar langsung terdiam. "Berapa hari kau akan tinggal di mansionku?"
"Entahlah," Edgar mengangkat kedua bahunya dengan acuh. "Mungkin tiga hari, satu Minggu, atau satu bulan."
"Ck, kau kira Mansion ku ini tempat penampungan yang bisa sesuka hati kau tinggali!"
"Loh.. bukankah mansion ini memang tempat penampungan?" Ejek Edgar dengan membalas tatapan Alex tak kalah tajamnya. "Buktinya kau menampung Raline di mansion ini, padahal wanita itu tidak ada hubungan darah sama sekali dengan Keluarga Moses," sindirnya dengan sinis.
"Ck, dari pada kau sibuk mengancam lebih baik jaga Kaylin dengan benar, karena lengah sedikit aku akan membawanya pergi." Edgar pun beranjak dari ruangan tersebut.
"Kau benar-benar cari mati!" Alex memberikan kode pada anak buahnya yang berdiri di sudut ruangan untuk menyingkirkan Edgar.
Pengawal pribadi itu segera menjalankan perintah tuan Alex dengan berjalan di belakang target, membekap dan membawa pria itu keluar dari mansion. Namun ternyata targetnya itu melawan sampai membuatnya kewalahan.
"Kay.. Kaylin..." Edgar berteriak saat melihat sepupunya hendak menuruni anak tangga. "Kaylin..." Edgar kembali berteriak saat diseret semakin menjauh dari ruangan.
"Seperti suara Edgar," Kaylin menatap ke kiri dan kanan mencari sepupunya itu.
"Kau mencari siapa?" Alex berjalan menghampiri Kaylin yang terlihat bingung.
"Ck, bukan urusanmu." Kaylin yang masih kesal ingin beranjak dari tempat tersebut, namun suara teriakan seseorang menahan langkahnya.
"Kay tolong aku..." teriak Edgar lebih kencang sembari mengintip dari balik dinding.
Ya, sebenarnya ia sudah berhasil membuat anak buah Alex jatuh ke atas lantai dengan pukulannya. Namun karena ingin mengerjai Alexander ia pun berpura-pura meminta tolong pada Kaylin.
"Edgar..." Kaylin yang khawatir berjalan menuju ruang utama.
"Biarkan dia!" Alex menahan langkah Kaylin. Sungguh ia tidak suka melihat wanitanya mencemaskan pria lain.
"Lepas Alex! Edgar butuh bantuanku." Kaylin mendorong Alex, berjalan cepat menemui Edgar.
Alex pun tidak tinggal diam, ia mengikuti Kaylin dengan cemas saat wanitanya berjalan dengan cepat bahkan tadi hampir berlari kalau tidak ia tahan.