
Sementara itu Alexander yang berada di dalam mobil bersama Boby yang mengemudikan kendaraannya, berusaha menghubungi nomer seseorang yang ia yakini bisa memberikan jawaban dari semua kecurigaannya.
"Sial! Tidak diangkat." Alex kembali mencoba menghubungi, namun lagi-lagi panggilannya tidak diangkat oleh orang tersebut.
"Bob lebih cepat lagi!" karena Alex sudah tidak sabar mengetahui kebenarannya.
"Baik Tuan." Boby menambah kecepatan mobil yang dikendarainya.
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di tempat yang dituju. Segera Alex masuk ke dalam mansion mewah yang sudah lama tidak ia kunjungi, mansion luas dan paling megah yang ada di Indonesia.
Ya, saat ini Alex berada di mansion utama. Di tempat seseorang yang bisa memberikan jawaban dari kecurigaannya. Karena percuma ia bertanya pada dokter yang menangani Kaylin saat itu, apalagi pada Kenan dan Cleopatra. Jadilah satu-satunya orang yang bisa ia tanyakan adalah pemilik rumah sakit tempat Kaylin di rawat, yaitu Boy Arbeto.
"Alex..."
Alexander menatap wanita cantik yang berjalan dengan perut yang sedikit buncit. ia mengerutkan keningnya karena baru mengetahui wanita itu sedang hamil.
"Kau pasti ingin bertemu B?" tanya Tita dengan tersenyum.
"Ya Nona," jawab Alex masih dengan tatapan tak percaya wanita dihadapannya itu sedang mengandung lagi. Karena yang ia tahu Boy Arbeto sudah memiliki dua anak laki-laki. Lalu sekarang hamil lagi, cepat sekali mantan pimpinannya itu memproduksi anak.
"Panggil Tita saja, kau kan sudah bukan anak buah B."
Alex hanya tersenyum. "Anda sedang hamil anak ketiga?" tanya Alex dengan spontan.
"Oh ini.." Tita mengusap perutnya dengan tersenyum. "Aku hanya masuk angin, makanya terlihat agak besar."
"Oh.. aku kira Anda sedang hamil."
"Ck, tentu saja aku hamil, mana ada masuk angin seperti ini." Tita menunjuk perutnya dengan kesal. "B ada di ruang kerjanya pergi sana!" usir Tita.
Alex yang bingung kenapa tiba-tiba Tita kesal padahal semula begitu ramah bahkan tersenyum, memilih segera pergi menuju ruang kerja Boy Arbeto dari pada terkena amarah dari wanita tersebut.
*
*
"Anda pasti sudah tahu tujuanku datang kemari, Tuan pemilik rumah sakit Internasional." Jawab Alex dengan raut wajah yang serius. Ya, sesuatu yang dilewatkannya selama ini adalah rumah sakit tempat Kaylin di rawat adalah milik keluarga Arbeto, dan kemungkinan besar dokter itu sudah memberikan laporan palsu atas seijin Boy Arbeto. Karena jika hanya mendapat tekanan dari seorang Kenan Meyer, dokter tersebut tidak akan berani melakukan hal tersebut.
Boy tersenyum lebar. "Ya, istrimu memang tidak keguguran." Sahut Boy to the point.
Alex mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Bukan karena marah pada Boy Arbeto, tapi sebagai bentuk rasa bahagia, lega, dan kecewa yang datang bersamaan. Bahagia karena miliknya masih ada di dalam kandungan Kaylin, dan kecewa karena istrinya termasuk Boy Arbeto menyembunyikan hal tersebut.
"Kenapa Tuan, kenapa Anda membantu Kenan sampai sejauh ini? Tidak tahu kah Anda, setiap hari aku selalu dibayang-bayangi oleh perasaan bersalah sampai tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa mengulang waktu." Ucap Alex dengan menahan emosi.
Boy menghela napasnya. "Aku membantu Kenan, demi kebaikan dan keselamatan istrimu dan bayi kalian."
"Dengan cara membohongiku?"
"Ya, karena jika kau tahu istrimu tidak keguguran pasti kau akan memaksa wanita itu untuk tinggal bersama. Sedangkan istrimu itu mengalami trauma hebat, jika dipaksakan tinggal bersama kami khawatir Kaylin akan setres. Sedangkan dokter menyarankan Istrimu harus bed rest total dan hanya di mansion Meyer Kaylin merasa aman dan nyaman untuk memulihkan kesehatannya."
Alex menghela napas panjang. Perkataan Boy Arbeto seperti sebuah tamparan keras untuknya, bahwa Kaylin tidak merasa aman dan nyaman berada di dekatnya.
"Tapi kenapa Anda tidak memberitahuku lebih awal?"
"Kau saja yang lambat menyadarinya. Tidak ku kira mantan ketua tim Delta menjadi lemah seperti ini. Bahkan butuh waktu tiga Minggu untuk kau datang kemari," ejek Boy.
Lagi-lagi Alex menghela napasnya, namun kali ini menghela dengan kasar. Ia memang menyadari semenjak sibuk dengan urusan pekerjaan kantor, keterampilan dan keahliannya dulu mulai memudar.
"Hei kau mau kemana?" tanya Boy saat melihat Alex berjalan menuju pintu keluar.
"Tentu saja pulang." Jawab Alex dengan datar.
"Siapa yang mengijinkan mu pulang? Kau disini saja temani aku." Karena Boy butuh alasan untuk mengindari Tita yang akhir-akhir ini selalu marah-marah tidak jelas sejak kehamilan ketiganya.
"Ck, lain kali saja Tuan." Lebih baik Alex menemani Kaylin dari pada menemani Boy Arbeto.
"Hei berani kau menolak perintahku!" teriak Boy dengan kesal karena kesempatan terbebas dari Tita hilang sudah.
"Untuk kali ini saja, besok-besok aku akan mematuhi perintah Anda." Alex terus berjalan keluar dari ruang kerja Boy Arbeto. Ya, walaupun ia sudah bukan ketua Delta tapi Alex berkomitmen tetap menganggap Boy Arbeto atasannya karena hubungan mereka memang sedekat itu.