
Suasana tiba-tiba menjadi hening dan canggung, hanya terdengar jantung masing-masing
Karena Clara tidak tahan dengan keheningan mencekam, Clara segera mengajak berbincang Josh.
"Josh gimana kondisimu sekarang?"
"Puji Tuhan sudah sangat baik my princess, berkat kamu" jawab Josh sambil menyisipkan rambut Clara dibelakang telinga Clara dan jangan lupa tatapan memuja Josh.
"Yee....itu mah berkat Tuhan dan semangat hidup kamu Josh, my superhero" ujar Clara sambil memeluk lengan Josh manja.
"Hahahaha kamu itu makin hari makin gemesin"ujar Josh sambil mencubit hidung Clara.
Semua itu tidak luput dari pandangan Aron dan Sebastian, dua pria dengan pemikiran yang berbeda
Sebastian yang akhirnya melihat kasih sayang Josh sangat tulus kepada putrinya, sebenarnya dia sudah akan memberikan restu jika pada akhirnya Josh menikahi putrinya. Tetapi dia dibuat bingung saat muncul bule sontoloyo baru yang membuat putrinya bisa sembuh dari ketakutan akan hujan, dan dia melihat sebuah cincin sudah melingkar di jari manis putrinya.
Sedangkan Aron yang memandang itu semua memilih diam tidak mengatakan apa-apa, lebih tepatnya dia tidak mau membuat dirinya semakin dibenci keluarga mertuanya, meski hatinya mendidih.
Setelah memahami situasi, Lena yang sejak tadi terdiam akhirnya membuka mulutnya dan mulai bicara
"Josh, bisakah kamu ajak Rara pulang, kamu, Bella dan dr Emma kalian tidur dirumah keluarga Wiguna saja selama di Indonesia, kamar sudah tante sediakan"
Josh mengerutkan keningnya bingung, sedangkan Clara tercengang sambil menatap tantenya
"Tan...."
Sebelum Clara menyelesaikan ucapannya, Lena sudah memotongya
"Tante dan papimu mau bicara dengan bosmu" ujar Lena to the point, suaranya pelan tetapi bernada tegas. "Tolong ya Josh"
Clara hanya menghela nafas panjang setelah mendengar ucapan tantenya.
"Baik tan, Rara ambil tas baju dan barang-barang Rara terlebih dahulu" ujar Clara kemudian menuju ke kamarnya sebelumnya menatap Ben yang terlihat duduk diam.
Clara diikuti Emma dan Mumun yang akan membantunya membereskan baju, barusan Clara mengambil peralatan mandinya, tante Lena sudah masuk ke kamar meneliti kamar
"Ra...kalian sudah tidur bareng yah?"
Glodaaag.....
Semua peralatan mandi yang dibawa Clara pada berjatuhan karena terkejut mendapat pertanyaan frontal tantenya.
"Eeh...anu...anu tante" cicit Clara kebingungan harus jawab bagaimana.
"Udah gak usah kamu jelasin, biar Ben yang menjelaskan semua termasuk cincin dan gelang couple yang kalian pake"
"Udah buruan...." desak Lena supaya Clara segera pergi bersama Josh pulang.
Sedangkan di ruang tengah, Sebastian sedang membahas urusan pekerjaan karena tadi mendapatkan telepon dari rekanannya
Tinggal Josh berhadapan langsung dengan Aron.
"Akhirnya kamu muncul juga Ben....aku pikir hanya berani sembunyi-sembunyi mendekati Clara"
"Aku tidak sepengecut itu Josh"
"Kamu mencintai princessku?"
"Kenapa????....... masalah buat kamu?"
"Iya jika kamu mempermainkannya, maka aku tak segan-segan menghabisimu saat ini juga......ingat itu!" ujar Josh dengan nada mengintimidasi ke Aron.
Tetapi bukannya Aron ketakutan, malah tersenyum lebar.
"Sudah saatnya kamu mulai menjauhi Istriku Josh" ujar Aron sambil menunjukan cincin yang sama dengan cincin Clara.
"Jooosh, tante minta tolong ya"
"Siap tante" jawab Josh sambil menatap Aron dengan senyum samar.
"Kami pergi dulu ya tan, pamitkan ke papi" pamit Josh, Isabel dan Emma lalu beranjak keluar menggiring Clara yang masih menatap Aron dan tampak ekspresi muram diwajahnya, dan entah kenapa tatapan Aron sangat mengganggunya dan Clara tenggelam dalam pikirannya sehingga sepanjang perjalanan dia hanya terdiam.
^^^
Setelah memastikan Clara sudah pergi, senyum lembut di bibir Lena seketika memudar, Lena segera memutarkan badannya dan menatap Aron galak, sikapnya sudah tidak seramah tadi.
"Jadi benar kamu bosnya Clara?"
"Iya benar tante saya Aron Benim Ulker, bosnya Clara" ujar Aron yang kembali memperkenalkan namanya dan kedudukannya secara lengkap
"Pantas aja dirimu selalu membelanya" ujar Lena dengan ketus.
"Ternyata bosnya adalah dirimu sendiri"
Aron menundukkan kepalannya, dia tidak mengira sikap jahilnya mengerjai Clara ternyata berimbas dia dibenci calon mertuanya, ini benar-benar buruk. Tidak ada yang lebih buruk dibandingkan dibenci oleh calon mertuanya, bisa-bisa nanti dia tidak bisa menikahi Clara, dimana yang antri ingin menjadi suami Clara sudah berjajar, tangan Aron terkepal...ini tidak boleh terjadi, bagaimanapun dia harus bisa menikahi istrinya.
"Maafkan saya tante dan papi" ujar Aron pada akhirnya penuh penyesalan.
"Tante dan papi, saya tidak bermaksud untuk berbohong"
Lena dan Sebastian yang mendengar ucapan Aron hanya mengangkat alisnya dan masih mengatupkan bibirnya.
Aron menatap Lena dan Sebastian dengan mata serius.
"Kalau tante dan papi mau, kalian boleh bejek-bejek muka saya"
Sudut bibir Lena terangkat dan menatap Aron sinis.
"Yakin kamu???..... seorang tuan muda Ulker yang sangat terpandang di seantaro dunia mau dibejek-bejek tante?"
Aron menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Iya saya yakin, selama itu bisa menghilangkan rasa benci tante dan papi kepada saya" ujar Aron sambil menatap lurus ke arah Lena dan Sebastian menandakan keseriusannya berbanding terbalik dalam batin Aron yang sebenarnya ngeri, tetapi demi istri seksinya Aron pasrah menerima nasib.
'Gini-gini amat yah nasibku ya Tuhan, dulu mati tertembak sekarang dapat mertua barbar' batin Aron.
"Tadinya tante pikir bosnya Clara sudah tua dan jelek, makanya mau tante dan om bejek. Tapi ternyata bosnya itu kamu, masih muda dan ganteng" gumam Lena yang masih terdengar Aron "Yah daripada di bejek, mending dijadikan kandidat calon mantunya keluarga Wiguna"
"K----kandidat calon mantu tan?" tanya Aron terkejut, sambil memastikan apa yang didengarnya.
"Tapi ...bukannya tante dan papi benci saya ya?"
Lena dan Sebastian serentak menganggukkan kepalanya.
"Iya pada awalnya, tetapi setelah melihatmu, ternyata tidak buruk juga"
Aron langsung bernafas lega seolah beban berat di batinnya telah terangkat. Dia tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. Tante Clara baru saja menyebut dirinya bahwa dirinya adalah kandidat menantu Wiguna, bukankah itu berarti dirinya sudah mendapatkan lampu hijau dari kanjeng papi dan kanjeng putri.
'Eeeh ....tapi tunggu-tunggu .........kandidat?? berarti tidak hanya dirinya dong!! duuuh kok perasaanku jadi tidak enak yah' batin Aron yang membuat senyum lebarnya kembali menguncup (wkwkwk dasar titisan burap, emang bunga pake kuncup segala🙈😳😩* Author POV)
"Sekarang gantian papi yang ngomong, Len sekarang gantian kamu diem" ujar Sebastian yang sudah tidak sabar untuk ngomong.
"Jangan senang dulu kamu, aku belum memberikan restu kepadamu, ada hal yang masih mengganjal dihati papi"
"Iya pi, Ben harus melakukan apa supaya papi memberi restu...silahkan papi bicara saja" ujar Aron cemas melihat ekspresi datar papinya Clara.
"Papi mau kamu menunjukkan bahwa kamu adalah pria yang kuat, karena sebagai kepala rumah tangga papi mau putri papi didampingi seorang pria tangguh dan kuat karena kamu pasti tahu saingan bisnis papi dan sainganmu pasti satu atau dua yang memakai cara licik memakai kekerasan"
"Meski papi tahu kamu mampu membayar ratusan bodyguard bahkan menjadikan putri kesayangan papi menjadi bodyguardmu tetapi aku mau kamu juga mampu beladiri sendiri"
" Baik pi, Ben siap...mau mulai kapan pi?"
"Mulai besok kamu bersiap, bukannya meremehkan kamu yang hanya pengusaha perkebunan, tetapi dibandingkan kandidat yang lain kamu yang paling meragukan" jawab Sebastian sambil menatap Aron dengan tanpa ekspresi.
'Nah kan benar, ada kandidat lain' ujar Aron dalam hati.
"Lalu apa rencanamu kedepannya terhadap putriku?" tanya Sebastian to the point.
"Saya mau melamar secara resmi ke papi, tadi saya sudah melamar Clara ke makam papa dan mama"
"Jadi kamu sudah diajak Clara ke makam papa dan mamanya?" tanya Sebastian terkejut karena baik Josh dan Lino tidak satupun diajak Clara kesana. Padahal tanpa setau Sebastian Aron ke sana karena nekat menyusul tanpa seijin Clara🙈😁
"Iya pi, tadi kita kesana dan kehujanan disana" jawab Aron.
Mendengar ucapan Aron, Sebastian hanya mengangguk-anggukan kepala
"Apakah kamu juga yang menemukan Clara dan membawanya ke rumah sakit dulu itu?"
"Iya pi, Benlah yang menemukan Clara yang terluka dari situlah Ben mulai jatuh cinta terhadapnya" jawab Aron yang ditanggapi Sebastian dengan menganggukkan kepalanya.
"Len....ayo pulang, aku sudah selesai" ujar Sebastian lalu beranjak berdiri.
"Eeh....anu pi, tante Ben boleh ikut pulang?masak Ben disini terus?" tanya Aron dengan memasang muka memelas.
Sebastian yang ingin mengucapkan ucapan sadisnya langsung dicegah Lena.
"Buruan ambil tas kamu dalam 5menit tidak selesai, kita tinggal!!"
"Siap tan, sebentar!!" seru Aron langsung ngibrit ke kamar dan segera memasukkan barangnya asal-asalan ke koper.
Ampuun dah punya calon mertua kok ya gini-gini amat yah hiicks....untung sayang banget sama Clara.
Saat Aron sedang kalang kabut, diluar Sebastian mengomeli adiknya.
"Ngapain kamu ngijinin si kutu kupret, bule sontoloyo itu ikut....diakan bisa tinggal di hotel ataupun disini"
"Mas diem aja dech, dia kan gak bisa tidur kalau nggak dekat sama Rara.........kaya mas gak pernah muda loo!!"
"Dasaaar bule edyaan, jadi mereka sudah tidur bareng!!!" pekik Sebastian emosi.
"Massss...ngapain marah-marah, dia kan sudah tanggung jawab melamar Clara, mas aja pake aneh-aneh ngetes dia" bentak Lena kesal.
"Mas boleh marah kalau dia nggak bertanggung jawab...dasar aneh kamu mas!" ucap Lena mencibir kakaknya.
Sebastian mengusap wajahnya frustasi, dan menatap tajam kearah Aron yang berlari-lari menggeret kopernya.
Aron yang mendapat tatapan tajam dari papi mertuanya malah bingung, perasaan belum lima menit dech, 'Yaah terserah papi ajalah pokoknya dia bisa tidur bareng Clara' batin Aron ........ ya kali si Aron berani ngomong gitu, bakalan wajah tampan sempurna di bejek-bejek bos macan aka calon papi mertuanya.
Setelah melewatkan beberapa waktu perjalanan menuju ke rumah Sebastian akhirnya sampailah mereka di rumah keluarga Wiguna yang mengusung desain arsitektur jawa tradisional atau tepatnya rumah joglo mewah dengan halaman yang super luas.
Setelah masuk ke dalam rumah, Sebastian segera menuju ke kamarnya, meninggalkan Aron yang masih mengagumi rumahnya Sebastian bersama Lena.
"Ikut tante Ben!" ujar Lena lalu berjalan ke arah belakang rumah sambil menjelaskan bagian-bagian dari rumah tersebut sampai di bagian rumah yang merupakan tempat privasi Clara.
"Kamar Clara disebelah kiri, pesan tante segeralah kamu nikahi Clara....papinya Clara orang jawa yang masih menjunjung adat ketimuran jadi karena kamu sudah tidur bersama dengan Clara maka kamu harus bertanggung jawab untuk menikahinya, kamu paham?"
"Sangat paham tante, jangan khawatir Ben akan berjuang tante" jawab Ben dengan nada yakin.
"Bagus!!! tante tinggal dulu...istirahatlah besok masih panjang menghadapi tes papinya Clara!"
"Baik tan, terimakasih dan selamat beristirahat" ucap Aron sopan.
Aron kemudian masuk ke dalam ruangan Clara, dan terlihat Clara belum tidur sedang selesai mandi dan hanya memakai daster tanpa lengan, karena kamar Clara tidak memakai ac meskipun begitu tidak panas karena banyaknya jendela diruang tersebut.
"Beeen!!! gimana tadi sama papi dan tante hmm?" tanya Clara lalu berjalan mendekati Aron yang masih terbengong mengagumi istrinya yang sangat cantik, dan si Arthur yang sudah mulai bangun di sangkarnya.
"Been!!! woiiii!" ujar Clara sambil melambaikan tangannya di depan wajah Aron.
"Oooo...eeh, nanti aja ceritanya...aku laper Cla masakin makanan dong ntar sambil aku ceritain dech" rajuk Aron
"Izz baiklah, sana mandi dulu nanti kita makan bareng ya" ujar Aron sambil mendorong kamar mandi diujung kamarnya.
Tak beberapa lama Aron sudah selesai mandi, lalu mereka berdua kemudian menuju ke dapur sambil Aron menceritakan kejadian disana membuat Clara tertawa karena membayangkan si bos laronnya yang biasanya ingin menangan sendiri akhirnya bisa juga merasakan terintimidasi dan panik.
"Yaa....ya...terus aja nistain diriku" ujar Aron lebay membuat Clara semakin keras tertawanya.
"Claa...masakin nasi goreng dong, laper banget ini..."
"Iya...kamu bisa buat telur mata sapi?"
"Itu mah kecil...sini aku yang buatin"
"Niigh lihat telur mata sapiku sempurna kan?" ujar Aron sombong.
"Waaah....waah kamu memang suami yang bisa diandalkan kok nak Ben, istrimu kelaparan yah malam-malam? memang ibu hamil muda itu kalau malam-malam selalu kelaparan, yang sabar ya nak" ujar Pakde Joyo yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang mereka.
"Pakdee???! kapan datang?" tanya Clara dan Aron berbarengan karena sangat terkejut.
Belum selesai rasa terkejut mereka berdua kembali dikejutkan oleh suara menggelegar.
"Siapa yang hamil mas Joyo?!!! jangan katakan bahwa Clara yang hamil!!!"
Mendengar teriakan Sebastian sontak membuat Clara dan Ben saling pandang dan berkeringat dingin.
"Kali ini mukaku yang sempurna ini bakalan kena bejek-bejek Cla" cicit Aron sambil mengusap mukanya yang berkeringat.
...***...
...TBC...
...Selamat hari Minggu, mian ya kemarin kena setrap anakku untuk mbantuin tugas sekolah🙏😳😢...