
"Been, ngapain kamu kemari?kan tadi kamu sudah ngijinin aku berpamitan baik-baik sama abang"
"Laa kan sudah, kamu boleh ketemuan"
"Tapi kenapa kamu menyusul kemari?"
"Akukan sudah bilang aku lapar, aku ingin makan dengan istriku, emang gak boleh?" tanya Aron dengan wajah yang ingin sekali Clara cium ....eeeh, otak polos Clara setelah bersuamikan Ben benar-benar terkontaminasi duch!!
"Bilang aja kamu gak percaya sama Claa, suami apaan tuch gak percaya sama istri sendiri" omel Clara sambil memasang muka cemberut
"Siapa bilang aku gak percaya sama istriku sendiri, aku nggak percayanya sama tuuuch cowok muka pucat itu" ujar Aron sambil menunjuk Lino yang barusan keluar dari kamar dan sudah berganti baju dengan kaos santai
"Siapa dik tamunya? kok tidak kamu suruh masuk?" tanya Lino lalu berjalan mendekati Clara
Ketika Lino melihat siapa datang, sempat dia terkejut tetapi hanya sepersekian detik, selanjutnya Lino kembali tenang.
"Mari masuk tuan...." ajak Lino yang tidak tahu nama Aron
"Perkenalkan nama saya Aron Ulker, panggil Aron saja" ucap Aron sambil mengulurkan tangannya yang kemudian di sambut oleh Lino yang kemudian mereka saling berjabat tangan.
Aronpun masuk kedalam apartemen dan segera mengekorii istrinya ke dapur tanpa memperdulikan tatapan Lino yang tidak bisa diartikan dengan kata-kata.
Meja bundar mungil di apartemen minimalis Lino semakin sempit, karena kehadiran Aron yang memiliki tubuh jangkung ( Ya jelas jangkung Cla, orang masih ada turunan bulenya *author POV) Clara duduk diapit kedua pria dengan sebelah kanan Aron dan sebelah kirinya Lino.
Posisi Clara diantara dua pria yang mengeluarkan aura yang berbeda, Ben suaminya seperti naga es yang menyemburkan aura sedingin es sedangkan Lino seperti burung Elang penguasa udara yang selalu damai tetapi tetap waspada.
"Ini apa Claa? terus cara makannya gimana kok banyak banget pernik-perniknya?"
Kemudian matanya mengerling tajam ke arah Lino " Jadi ini makanan favorit kamu? makanya kamu ribet, orang makanan favoritnya aja yang model ribet gini"
Clara yang mendengarnya langsung melirik Aron sewot
" Ngak usah banyak cing cong sini Claa ambilin!!" ujar Clara sambil menyiapkan nasi dan soto buat Lino, setelahnya kemudian lontong soto untuk Aron, lalu menyodorkan ke arah kedua pria tersebut.
'Punya suami kok ya gini-gini amat yah, udah ribuan reinkarnasi tapi sifatnya kagak berubah bahkan makin menjadi' gumam Clara dalam hati sambil menghela nafas panjang.
"Tapi Claa .....ini cuman sedikit, mana kenyang aku"
"Itu ada ayam goreng dan perkedel, emangnya masih kurang?" Clara tau Ben kalau makan masakan Clara terutama menu Indonesia makannya seperti kuli bangunan, maka dari itu dia harus merelakan lontong dan ayam gorengnya untuk Ben, terlebih Clara sangat tahu Ben tidak bisa makan nasi banyak karena nanti pasti sakit perut.
Meski istrinya terlihat kesal karena harus berbagi ayam goreng dan lontongnya tapi Aron tahu dia sudah berhasil menarik perhatian Clara dan itu pastinya membuat Lino cemburu bukan main.
"Diih kelihatannya saja orang kaya, tapi makannya seperti kuli, lagipula bukannya tadi bilang ini makanan ribet eh" ujar Lino meski dengan nada dan ekspresi tenang tapi tetap aja menyentil emosi si Laron.
"Emang...tapi karena yang masak yayangku ini jadi aku suka, masalah buat Loe?" jawab Aron dengan songong dan jangan lupakan ekspresi Aron yang membuat orang yang melihat pasti pingin nampol.
"Uuuuhuuuk...." mendengar dia dipanggil Yayang dan Aron bisa memakai kata-kata loe segala membuat Clara tersedak.
Perasaan Clara tidak mengajari Aron, dasar nich bule adaaa... ajah tingkah ajibnya, yang bikin Clara mengusap dadanya sambil merapalkan kata-kata sabaar.....sabaar berkali-kali.
Abang juga kenapa sekarang jadi nyinyir seperti netizen warga +62 sich.
Melihat Clara tersedak dua pria itu langsung berlomba memberikan segelas air untuk Clara, tetapi Clara refleks spontan mengambil gelas dari Aron karena posisinya tepat disebelah kanan.
Kedua pria tersebut saling bertatapan bedanya ada senyum puas disalah satu wajah, ya jelas siapa lagi kalo bukan wajah Laron bin Uler aka Burap yang sayangnya Clara cintai.
"Nggak usah kebanyakan nggombal, nggak cocok kalo Ben ngomong nggombal tapi mukanya lempeng kaya pipa ledeng gitu"tukas Clara jengah.
Lino terkekeh mendengarnya, tindakan ini jelas membuat Aron sewot.
"Lucu?" sebelah alisnya menukik tinggi. Kilatan permusuhan semakin kental dikedua mata Aron dan Lino
"Dasar muka pucat tidak sopan"
"Hiiiiih!!!"
Plaakkkk.......
Ben meringis kesakitan saat lengannya dipukul keras oleh Clara
"Kok Ben dipukul?"
"Lagian juga mau makan saja, ribut terus... "
"Aku nggak tenang Claa kalo ada dia disini" ujar Ben sambil menunjuk Lino dengan garpunya tanpa sudi mau melirik Lino"
"Cla yang lebih gak tenang kalo Ben begitu" Clara berdecak keki.
"Lagipula inikan rumahnya abang, kalo Ben nggak suka sama abang, maka Ben aja yang pulang sana!"
Merasa kalah akhirnya Ben diam dan mulai sibuk dengan makanan miliknya.
Jika ada yang berpikir bahwa persaingan ini sulit dimenangkan oleh Ben itu salah besar, karena meski Clara mengeluarkan segala emosi kearah negatif ke Ben, seperti marah, mengomel dan membentak.
Namun Lino menyadari bahwa disitulah peluang dirinya sangatlah kecil, dengan keburukan Ben Clara lebih perhatian terhadap Ben.
Sejak saat makan berlangsung seluruh perhatian dan yang diajak bicara Clara hanya tertuju ke arah Ben, meskipun hal tersebut mengarah ke mengomel dan menggertu seperti saat Ben menjatuhkan ayam gorengnya dimeja,Clara memakinya lalu menjatuhkan air dari gelasnya ke lantai, Clara menceramahinya, bahkan saat cara makan Ben yang sangat tidak rapi dan kikuk Clara membantunya meski dengan mengomel-ngomel.
Mungkin jika ada orang melihat pasti tidak akan mungkin karena mereka seperti kucing dan tikus, tetapi dimata Lino mereka terlihat sangat akrab.
Setelah selesai makan, Clara membereskan semua piring kotor dan membersihkan meja makan, dibantu Lino sedangkan Ben harus menerima telepon.
Lino segera mengeluarkan tomat dan wortel kemudian dia kupas dan segera dimasukkan ke mesin juice, setelah selesai segera dia tuangkan ke gelas dan menyerahkan ke Clara yang tampak gerah setelah selesai beberes.
"Minumlah dulu Dik, jus kesukaanmu" ujar Lino sambil melihat Clara yang langsung menghabiskan jus buatannya
"Gimana enak dik?"
"Nggak pernah tidak enak kalo jus buatan abang dari dulu" puji Clara sungguh-sungguh.
Eye smile terbit karenanya, lagi dan lagi Lino sangat senang saat dirinya tampak sempurna di mata Clara.
"Senang rasanya jika kamu menyukainya dik"
"Kelihatannya tidak hanya aku saja dech bang kalo jus buatan abang tidak ada duanya, bahkan jus buatanku tidak bisa seenak buatan abang, sekarang abang buat jus jambu kesukaan abang dech" ujar Clara
"Ooo iya ya....yang suka jus jam itu Ben, dia tuch bisa loo bang minum jus jambu 3 jar sendiri" celetuk Clara polos tanpa menyadari raut wajah Lino mulai mendung.
Lino mulai menyadari bahwa Clara lebih memperhatikan Ben disaat dirinya memberikan perhatian kepadanya, rasanya sakit meski beberapa kali Lino berusaha tutupi dan logikanya sudah membisikan untuk segera menyerah.
"Dik....boleh abang mengatakan sesuatu yang penting?"
"Eeh....? apa?" tanya Clara sambil menelengkan kepalanya.
"Rileks dik, abang nggak gigit kok" gurau Lino saat melihat punggung Clara tampak kaku dan kedua matanya tidak dapat menipu bahwa terdapat kilatan kekhawatiran tengah menguasainya.
"Dik abang cemburu dengan Ben, abang takut kehilangan adik"
Clara bergeming, tetapi tidak tahu harus berkata apa, disaat Clara ingin berkata sesuatu mulutnya sudah ditutup oleh telunjuk jari Lino sebagai tanda supaya Clara diam dulu
"Do you ever love me dik?"
Lagi Clara kembali membisu, tetapi itu tidak berlangsung lama saat Clara dengan yakin menjawab pertanyaan sederhana dari Lino.
"Adik sayang sama abang"
"Kalo dengan Ben ataupun si Aron itu?"tanya Lino sambil memperhatikan gestur tubuh Clara yang terkejut dan kesulitan menjawab pertanyaannya.
"Abang rubah pertanyaannya, jika abang tidak melakukan kesalahan fatal tersebut apakah adik bisa mencintai dan mau menikah dengan abang?" sekali lagi tidak ada intonasi tajam yang keluar dari mulut Lino, tetapi hal tersebut terdengar sangat menyakitkan ditelinga Clara.
"Bukan begitu bang....."jawab Clara membalas kepiluan dari pertanyaan Lino sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu apa dik?" tanya Lino yang berharap Clara akan menjawab sesuai dengan harapannya.
Dan tidak, ......Clara lagi dan lagi membatu ditempat, sampai setitik air mulai berjatuhan di pipi mulus Clara.
Lino terkejut dan segera turun dari kursinya dan bersimpuh di samping Clara "Lho kok nangis dik, abang menyinggung adik ya? Maaf-----"
"Adik sayang banget sama abang, susah untuk membenci abang tetapi....." Clara menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya di sela-sela isak tangisnya.
"Kejadian itu benar-benar terjadi bang, meski adik sudah memaafkan keteledoran abang dan tetap menyayangi abang, tetapi adik bukan malaikat ataupun Tuhan sehingga bisa menerima abang menjadi suami adik, adik gak bisa hidup disamping seorang pria yang sudah membunuh papa....sakit bang disini, sakit banget" ujar Clara sambil menunjukkan dadanya.
Segera Lino menarik tubuh Clara dalam dekapannya.
"Shhh.....tenang dik, maafkan abang ya yang tidak tahu diri masih bertanya pertanyaan yang tidak mungkin terjadi"
Kemudian Lino menarik diri dan menghapus air mata Clara lalu menakup wajah cantik Clara.
"Dengan kamu kasih tahu begini abang menjadi tahu posisi abang disini"
"P-posisi?" ujar Clara membeo bingung.
Lino mengangguk singkat
"Meski agak sakit---ralat sakit banget saat tahu, tapi ya udahlah abang percaya bahwa jodoh sudah diatur oleh Tuhan"
"Meski baru dua kali bertemu dengan Ben, menurut pandangan abang Ben sangat menyayangi kamu dik" Lino berusaha mengabaikan rasa sakit di ulu hatinya.
" Mungkin dia bukan orang yang mudah untuk menunjukkan perhatiannya, dia itu nyebelin bahkan sangat... abang akui itu. Kadang suka memaksa, suka sembarangan dan semaunya sendiri. Tapi abang menjadi sadar, justru dengan begitu berarti dia nyaman dengan kamu dik"
Mau tidak mau Lino menyadari bahwa dirinya keliru, bahwa selalu menjadi sosok pria sempurna dihadapan Clara adalah bahagianya, kehadiran Ben dengan perilakunya yang absurb hari ini beberapa kali telah menamparnya.
Ben begitu apa adanya, ia diterima Clara bersama kekurangan. Sedangkan Lino? terlalu takut menunjukkan celanya dihadapan Clara, yang diterima Clara adalah kesempurnaan darinya, bukankah tidak mungkin jika sampai ke jenjang pernikahan perasaan Clara akan memudar dengan berjalannya waktu karena mengetahui bahwa dirinya tidak sempurna.
"Apakah abang tidak nyaman dengan adik?"
"Sulit dijelaskan dik, tapi perlu adik tahu bahwa abang selalu menjadi diri abang dihadapan adik, tetapi dalam versi terbaik dan selalu baik"
"Aku iri terhadap Ben yang bisa membuatmu merasakan berjuta emosi perasaan.Nggak kaya saat kamu bersamaku monoton" Lino menghembuskan nafasnya, dia pikir Clara bisa menerima apa adanya, sayangnya Clara belum mengetahui kekurangannya.
Lino dihadapan Clara selalu damai dan tenang, seolah dirinya tidak pernah dihinggapi oleh perasaan marah dan hal lainnya, padahal ia juga manusia biasa, bukankah kedepannya sepasang kekasih harus saling mengetahui sikap dan kebiasaan masing-masing saat dihadapkan dengan berbagai emosi negatif, tidak hanya positifnya saja.
Hari ini Lino mengakui kekalahannya, harusnya dia sudah menyadari saat melihat tahi lalat dileher Ben, dan disaat dia mendengar Clara memanggil nama Ben saat dirinya di penjara kemarin, tetapi dirinya selalu menyangkalnya.
Sekarang dia tidak akan menampik kenyataan tersebut, benar kata sebuah pendapat bahwa seseorang yang bisa membuat diri kita tersenyum adalah sosok orang yang kita kagumi. Sedangkan yang bisa membuat kita menangis adalah sosok yang kita cintai
Hati Clara bukan untuk dirinya meskipun Lino sangat mencintainya.
Tanpa mereka sadari Aron sudah berdiri dibelakang mereka dan mendengar semuanya, membuat dirinya mengeluarkan smirk andalannya.
'Muka Pucat Eliminated!!' ujar Aron dalam hatinya.
"Schatje ayo kita pulang, jangan terlalu capek, tinggal dua hari lagi acara kita" ujar Aron yang mengejutkan Clara dan Lino.
"Bang adik pamit,....... maaf ya bang" ucapan Clara lalu memeluk Lino.
"Bukan salahmu dik, semoga kamu bahagia jika dia menyakitimu cari abang, abang selalu menunggumu" ucap Lino sambil melirik tajam kearah Lino.
"Mimpii!!!!udah lepasin tanganmu dari tubuh istriku muka pucat" ujar Aron dengan nada ketus.
Lino melepaskan pelukannya dan tubuh Clara langsung direngkuh Aron posesif.
"Nanti di perjalanan kita beli bunga 7 rupa ya Claa!"
"Haah? buat apa?" tanya Clara bingung sama suami bulenya yang somplak.
"Buat mandi dengan bunga 7rupa" ujar Aron dengan muka serius.
Bukankah mandi bunga 7 rupa itu buat melet orang atau buat ngilangin jampi-jampi yaah?
Duuch gini nich akibat ikut mendengar setengah-setengah saat Sean belajar adat jawa, yang merupakan syarat mutlak dari pakde jika mencintai mbak Galuh.
"Buat ngilangi aroma parfum si muka pucat dari tubuhmu ayoo" sindir Aron sambil tersenyum sinis ke arah Lino.
"Bagus donk, kalo tubuh adik ada aroma tubuhku jadi kalau kangen tinggal nyiumi baju nya"
"Woiiii banguuun woiii ini masih siang kalo ngimpi jangan terlalu tinggi, kalau jatuh..... sakit"
"Heran gue nggak belajar dari pengalaman, sudah ribuan reinkarnasi teteup aja ngejar-ngejar istri orang padahal udah tau bakalan gagal, makanya cari si Daisy duck" ujar Aron sambil membawa Clara yang terbengong dan takjub atas keajiban suaminya ini, dan meninggalkan Lino yang kebingungan dengan ucapan Aron.
...***...
...TBC...