
"Beeeen turuniiin, akuu marah tau!!"teriak Clara karena Ben masih tertawa dan menggendong Clara masuk dalam rumah
"Darimana kalian haaah!!! seharian tidak pulang, tidak masuk kerja eeeh pulang-pulang pake acara mesra-mesran pula" ujar Harry sewot sambil melipat tangannya di dada
"Ucuuuup!!!" teriak Ben dan Clara bersamaan
"Ngapain kamu masih disini? kenapa gak pulang" tanya Ben
"Kebiasaan yaa kalian tuch, aku tanya bukannya dijawab malah balik tanya"
"Kalian tahu tadi di markas bahkan di kota terjadi kehebohan....pagi tadi di rumah penginapan jendral Van de Chord ditemukan mayat, dan menurut Jan itu anak buah Elenor, dan ada bekas cekikkan di leher Elenor yang berusaha ditutupinya, sekarang Elonor entah pergi kemana, yang jelas sudah tidak di Mataram"
"Apa kamu tadi menghilang bareng Peppos karena takut Elonor menyakiti Peppos ya?"
"Clara takut ama dedemit itu gak akan mungkin"
"Hahaha iya Pos aku percaya, lihat kamu semalam....ngalahin Elonor mah kecil....tapi yang perlu kamu tahu, dia itu cewek licik seperti ayahnya lebih baik kamu menghindar berseteru dengannya, takutnya dia menggunakan cara licik membunuhmu"
"Tadi malam adalah peringatan buatmu, jadi lebih baik berhati-hati"
"Cuup jangan nakutin istri aku kenapa?"
"Aku gak nakutin ya, kalo Peppos tidak tahu musuhnya, nantinya dia gak siap menghadapi si bengis Elonor, kamu mau seperti itu?" seru Harry
"Ras ....tadi waktu di Societeit Concordia (club tempat para hollander mencari hiburan malam) mayat-mayat tersebut adalah Karto dan anak buahnya yang tadi malam menyerang kita"
"Haah....tapi waktu kita tinggal mereka masih hidup hanya terluka yang tidak menyebabkan kematian"ujar Clara dengan keheranan
"Kamu yakin Fi?"
"Kata orang-orang disana iya Ras, kan Karto centeng terkenal bengis, jadi berita kematiannya membuat banyak orang senang"
"Bukankah yang terakhir mereka bersama si gundul?"
"Aaaah....iyaa ada lagi nich mengenai si Phil, dia sering datang ke tempat kerjaku bersama temannya bernama Chick eeh chuck apalah lupa, naah tapi si Phil disana hanya minum dan tidak ngapa-ngapain padahal kalian tau buat apa pria dewasa datang ke Societeit Concordia jika tidak bermain wanita"
"Setiap didekatin para wanita dia langsung berubah sadis, dengan menampar atau mendorong para wanita penghibur, tetapi semalam dia berbuat baik dan lembut denganmu Ras"
" Kamu hati-hati Ras, mukanya saja tenang tapi aslinya sadis" ujar Steffi memperingatkan Raras.
"Tuuch dengerin Ras...jangan mudah tertipu sikap lembut dari pria asing, mending kaya aku, udah baik, apa adanya, tampan pula" ujar Ben mulai kumat penyakit narsisnya membuat Clara geleng-geleng kepala
"Oyaa Pos....kamu sudah bersiap? kitakan mau pindah Batavia"
"Ben?? kita ke Batavia?kapan?" tanya Clara dengan mata berbinar-binar
"Satu minggu lagi, maaf baru kasih tahu kamu" ujar Ben sambil mengusap rambut Clara lembut membuat Harry terkejut
"Ben...kamu baik-baik ajakan?apa karena kemaren malam kepalamu dipukul terlalu keras ya" tanya Harry dengan muka khawatir
"Emang napa? kenapa sich pada bilang kepalaku gak bener, salah emang baik-baikin istri sendiri" ucap Ben dengan ketus lalu beranjak ke kamar ngambek
"Pos ...kamu memang hebat!!! bikin temanku yang kaku jadi berubah gini" ujar Harry sambil mengacungkan jempolnya dengan tersenyum lebar membuat Clara jengah lalu menyusul Ben dikamar.
Selama satu minggu, Clara menyiapkan segalanya untuk ikut pindah ke Batavia mengikuti Ben, dibantu simbok yang sering nangis karena sedih ditinggal Nyainya yang sangat baik dan ramah
Ketika harinya tiba, dari pagi Ben sudah riweh dengan Harry dan Steffi yang membawa barang seperti pindahan rumah membuat Clara berjalan mengelilingi rumah yang sudah dia tinggali selama 3bulan, iyaah tak terasa Clara sudah berada di jaman purba ini selama 3 bulan
Banyak kenangan yang Clara berusaha menyimpannya didalam hatinya, meski Clara ingin sekali pulang kembali di jamannya, berkali-kali Clara secara sembunyi-sembunyi pergi ke sumur tetapi tetap saja Clara tidak bisa menemukan bagaimana caranya untuk kembali, akhirnya Clara berusaha menerima takdirnya untuk tinggal di jaman ini.
Ben POV
'Clara dimana sih? sudah waktunya pergi malah menghilang....pasti baru tangis-tangisan sama simbok dech' batin Ben sambil mencari disekeliling rumah
Sampai dimana terlihat Clara dengan kebaya putih memakai sarung batik berwarna coklat, rambut terurai rapi hanya dijepit kecil dibelakang, memejamkan matanya menikmati tiupan udara pagi hari ini
Wajah cantiknya membuat Ben tidak pernah bosan menatapnya, wanita yang sering cerewet, keras kepala, galaknya minta ampun, kadang sadis bilang berhadapan dengan para penjahat tetapi bisa juga sangat lembut saat menjadi seorang dokter, satu-satunya wanita yang membuat Ben nyaman berdekatan dengannya selama tiga bulan ini.
Meskipun begitu Ben sangat paham Clara, meski tubuhnya berada disisinya tetapi hatinya tetap terkunci satu nama pria yang selalu disebut Clara saat mengigau dan saat phobia hujannya kambuh, meskipun nyeri Ben tetap berusaha tetap mempunyai harapan suatu hari nanti Clara akan menerima dirinya dan mencintai dirinya apa adanya.
Ben POV end
Greeep....Ben memeluk Clara dari belakang, dan tercium aroma vanila lembut di hidung Ben
"Ngalamunin apa hmm....." tanya Ben sambil memasang sebuah cincin emas sangat sederhana sama seperti yang dia pakai di tangan kanannya
"Dipakai ya, jangan pernah dilepas" ujar Ben singkat membuat Clara membalikkan badannya dan menatap Ben penuh tanya
"Memangnya cowok di jaman ini gak pake cara lamaran romantis gitu?"
"Ntar kalo aku romantis dikatain kepalaku kejedot, lagi pula aku tidak pandai merangkai kata romantis seperti Ucup...."
"Tetapi selama tiga bulan ini aku nyaman didekatmu, dan aku ingin selalu bersamamu sampai di nafasku yang terakhir nanti" ucap Ben dengan muka memerah dan menatap Clara tulus.
"Ben kalo menikah di jaman ini hanya mencatatkan diri di kantor pernikahan aja ya?gak ada acara ya?"tanya Clara
"Biasanya ada pesta sich, memangnya kamu mau ngadain pesta pernikahan Cla?' tanya Ben
"Ndaak....tidak ada perwakilan dari keluargaku buat apa pesta" gumam Clara lirih
'Yaa ampuun Claa....ngenes banget nasibmu, gadis titisan Raline Shah nikah di jaman kuno gini, dapat suami kagak ada romantisnya, masih untung sekarang agak berkurang tingkah anehnya' ujar Clara dalam hati
"Kita tunggu Priester Frans untuk menikahkan kita secara gereja, kamu mau Cla?" tanya Ben penuh harap
"Beri aku waktu ya Ben...." jawab Clara pelan karena takut memberi harapan terlalu besar untuk Ben, dimana di hatinya ada satu nama tersimpan rapi.
"Ya udah ayo kita berangkat" ujar Ben yang tiba-tiba merubah raut wajahnya kembali datar, sambil menggandeng tangan Clara erat
Acara pamitan antara simbok dan Clara penuh drama membuat Harry dan Steffi geleng-geleng
"Makanya cocok ama Ben yaah, sama-sama anehnya" bisik Steffi sambil terkikik
"Uciiiip....gak usah ikut-ikutan si Ucup ngatain kita aneh, kalian juga aneh"
"Kita aneh apaan Ben? kamu tuch yang aneh sama Peppos, kadang mesra kadang saling sewot diiiih dasar aneh" omel Harry
"Setidaknya kita nikah resmi....laah kalian kumpul sapi, nikah kagak gulat iyaah" ejek Ben
"Kok kumpul sapi sih Ben?" tanya Steffi bingung
"Iyaa...itu loo orang pribumi bilang kalo bersama tanpa nikah namanya KUMPUL SAPI" terang Ben sok tahu
Ctaaaak....."Been jangan malu-maluin kenapa!! bukan kumpul sapi tapi kumpul kebo" omel Clara sambil menyentil paha Ben
"Emang kebo ama sapi lain ya?" tanya Ben watados
"YAA LAIIIIN!!!! "ucap yang lainnya serempak membuat Ben mengangguk-angguk gengsi mengakui kesalahannya.
Akhirnya sampailah mereka di Staatssporwegen Lempuyangan (Stasiun kereta Lempuyangan)
Saat turun dari mobil, Clara membantu Steffi yang ribet dengan baju ala little missynya, lalu membukakan payung nya
"Ras...kamu berpayungan denganku, nanti kena sinar matahari item loo" ujar Steffi dengan genit
"Udah tahu panas, kamu pake baju kek gini Fi"
"Trus aku pakai baju seperti kamu Ras?bisa jatuh tengkurep ntar aku pakai sarung sempit seperti kamu"
"Hahaha aku sebenarnya ya malas Fi, enak tuch pake kaos dan celana, tapi pasti dimarahi bule aneh itu" ucap Clara sambil menunjuk kearah Ben dengan dagunya membuat Steffi terkikik geli
"Kalian tuch ditungguin juga, lama banget sich" omel Harry
"Heeh Cup...dari pada kebanyakan protes, coba kalian gantian pakai baju kita, kalo bisa jalan cepet, aku masakin sebulan!!"
"Diiih ogah Pos....aku cowok normal yaa, masak disuruh pakai baju cewek"omel Harry
"Kalo ogah ya udah gak usah berisik, jadi cowok kok cerewet banget sih kamu" ujar Ben lalu segera merengkuh tubuh Clara karena banyak orang yang mulai menatap Clara penuh kekaguman
"Yaaaah....dasar teman laknat kamu, setelah punya peppos aja aku dilupain" ucap Harry lebay membuat Steffi melotot
"Katanya cowok normal kamu Har??!!! hiiii...." pekik Steffi sambil bergidik meninggalkan Harry
"Fii....elaaah masih ragu juga kamu padahal kan kita sering iya...iyaa" seru Harry tanpa filter mengejar Steffi.
"Nyaiiii....Nyaii Raraskan?!!" teriak seorang bule bermata biru yang berjalan mendekati rombongan Ben dengan senyum menawannya, membuat Ben semakin erat memeluk tubuh Clara
...***...
...TBC...
...Mianhae yaa, baru up sore hari tadi seharian harus mengikuti pelatihan 🙏😁😁...
...Ini malam aku up lagi karena untuk Sabtu dan Minggu Thoor harus dinas keluar kota soo jangan pada mewek dan unjuk rasa ya 🙏😜...