
Clara dan Ben digiring untuk masuk sel bersama para pe***r, Ben yang marah-marah karena tidak dipercaya akhirnya terdiam setelah ditenangkan Clara
Mereka duduk di sel penjara berdesakan, dan banyak perempuan itu mulai bergenit ria menggoda Ben, membuat Clara akhirnya menempatkan Ben di pojokan sehingga tidak di colek-colek para perempuan genit itu
"Ngapain senyum-senyum? senengkan di colek-colek cewek?!" ujar Clara sinis
Alih-alih menjawab Ben malah memeluk tubuh Clara dan dengan manja berbisik di telinga Clara
"Udah nggak usah cemburu, Tenang aja tubuhku ini hanya untuk istriku, bukankah sudah aku bilang aku tidak tertarik dengan wanita lain" ujar Ben dngan tersenyum geli melihat Clara yang protektif menjaganya dengan muka garang
Belum sempat Clara menjawab, beberapa perempuan berceloteh
"Heeh ....indo jangan berlagak kamu, kamu tuch sama juga dengan kami tidak ada harganya, meski kulitmu putih tapi tidak pernah bisa diterima kaum Hollander, makanya kamu turun ke jalan menjebak meneer ganteng inikan?"
"Sini kasihkan bulemu kepada kami, jangan sok loe!!"
"Dia suamiku sah..sampai kalian berani menyentuhnya, kalian akan merasakan akibatnya" ujar Clara dingin
"Daripada kalian mengajakku bertengkar, himpun tenaga kalian untuk menerima nasib kita besok pagi!" ujar Clara lagi, membuat para perempuan itu langsung terdiam dan menyadari nasib mereka tidak jelas.
Ben tersenyum lebar, 'akhirnya kamu mulai mencintaiku Cla....'
"Sini Cla..kamu tidur dulu, istirahat lah hmm..." ujar Ben sambil mengarahkan kepala Clara ke bahunya
"Ben, kamu kok tenang sich"
"Besok pasti dari pasukanku akan mengeluarkan kita, jangan kuatir tak kan kubiarkan istriku diapa-apain" ujar Ben menenangkan kegelisahan Clara.
Jujur Clara takut, bukannya takut wajah para tentara, tetapi karena kondisi jaman ini Clara tidak mempunyai kuasa tidak seperti di jamannya, siapa sich tidak mengenal nama besar Sebastian Wiguna papinya, jika dia ada permasalahan dengan hukum, pasti pasukan pengacara keluarga langsung turun.
Di jaman ini Clara posisi dia lemah karena dia pribumi di mana penjajah Belanda yang berkuasa sangat menindas para pribumi terutama kaum wanita nya, meskipun dia adalah istri seorang tentara Belanda, tetapi tetap selalu dipandang hina.
Karena terlalu capai akhirnya Clara tertidur di bahu lebar Ben, dan Ben ikut tertidur bersama Clara sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.
^^^
"Bangun!!!!banguuun!!" teriak para tentara membangunkan para tahanan
Clara dan Benpun ikut terbangun dan disuruh berdiri berjajar dan digiring untuk berjajar dilapangan.
Saat keluar dilapangan tampak Harry membawa pasukan beserta komandan batalyonnya untuk membebaskan Ben dan Clara
Ben dan Clara segera digiring ke kantor komisaris Polisi
"Overste dan nyainya tidak bisa dibebaskan karena terbukti menjalin kerjasama dengan utusan delegasi Inggris dan seorang pangeran pribumi untuk mengadakan pemberontakan terlebih istri overste adalah seorang pribumi"
"Apa maksudmu komandan, kami hanya mendapatkan satu bilik yang sama dalam satu gerbang....itu tidak membuktikan kami mempunyai hubungan untuk mengadakan pemberontakan." ujar Ben
"Komisaris itu benar, overste adalah prajurit terbaik yang kita punya, sudah berkali-kali memimpin pasukan kita di beberapa pertempuran membasmi pemberontakan para pribumi, aku bisa jamin integritasnya"
"Haah....lalu kenapa mereka selama perjalan bisa makan bersama, bercanda bersama?"
"Kami hanya menawarkan bekal kita, apa salah kita hanya menawarkan makanan kepada teman satu perjalanan? tidak ada perbincangan menjurus untuk kerja sama."
"Itu nanti kita buktikan di persidangan, dua bulan lagi...untuk saat ini kalian ini tetap kita tahan"
"Komisaris boleh menahanku, tapi bebaskan istriku...kasihan dia tidak ada hubungan dengan ini"
"Ben...." sela Clara
"Claa....ikut Harry dulu yah, percayalah segalanya akan baik-baik saja" bujuk Ben
"Aku mau berpisah dari kamu Ban, kita hadapi bersama yah" ujar Clara yang mulai ketakutan, Clara sudah kehilangan segalanya, disini yang dia punya hanya Ben, maka Clara akan bersikeras untuk mempertahankan apa yang dia punya
"Dasar gadis bodoh, siapa yang akan memisahkan kita, kamu adalah istriku selamanya, kita hanya berjauhan sampai urusan ini selesai hmm...." ujar Ben sambil mencium kening Clara gemas.
"Eheeem....eheem....Overste, Nyai tidak bisa bebas...dia juga tetap masuk sel khusus wanita"
"Apa maksudmu, dia hanya wanita lemah tidak mengerti apapun, jangan libatkan istriku"
"Maaf Overste tetapi semua akan diputuskan di pengadilan" ujar komisaris polisi kekeuh
"Beeen....." seru Clara yang tiba-tiba di seret oleh salah satu tentara untuk di pindahkan ke sel wanita dengan naik truk bersama para pelacur wanita lainnya
"Jangan ngasarin istriku, sampai tergores sedikit saja, aku buat perhitungan kalian" teriak Ben sambil meronta-ronta melihat istrinya yang tiba-tiba diseret pergi
"Ben....kamu tenang, kita akan bantu kalian, jangan bikin ulah yang akan memberatkan kalian, mengerti kamu!!" bentak komandan atasan Ben
"Tapi Major....istriku!"
"Tenanglah, akan aku urus untuk menjaga istrimu, mereka tidak akan berani bertindak semena-mena kepada seorang istri seorang Overste KNIL"
"Terimakasih Major....terimakasih" ujar Ben yang kemudian juga dibawa ke sel tahanan kembali.
.
.
.
Truk yang mengangkut Clara membawa ke sebuah gedung Belanda besar, yang mungkin untuk masa sekarang dikenal sebagai gedung museum Fatahillah
Mereka diturunkan dan dibariskan berjajar dibawah ancaman senapan para tentara kepolisian kota.
"Waaaah....ada yang sangat cantik ini"
"Dia pasti indo, tidak mungkin seorang pribumi seputih dan setinggi ini" ujar para tentara yang kemudian langsung mengrumuni Clara
"Jangan sentuh diaa!!!!dia istri seorang istri Overste!!" ujar seorang polisi yang memiliki jabatan lebih tinggi mengingatkan bawahannya yang ingin berbuat kurang ajar ke Clara
"Bawa Nyai itu ke penjara atas!! sedangkan yang lain ke penjara wanita bawah tanah!" perintah Letnan Waltman.
"Baik...Letnan!!" ujar para polisi tadi
"Ciih sayang, dia seorang istri tentara...kita tidak bisa menyentuhnya." umpat para tentara polisi kurang ajar tersebut
Clara menghembuskan nafasnya lega, meski dia tetap dalam posisi siaga penuh, karena saat ini dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri sampai nantinya kembali berkumpul dengan Ben.
Clara di bawa ke sebuah sel penjara yang terdapat 3 nonik Belanda juga sudah berada di situ
Saat masuk ke sel, para nonik memandangnya sangat meremehkan dan terlihat jijik ke Clara
"Kenapa kalian menjadikan seorang hore pribumi atau indo ini di sel yang khusus untuk wanita Hollander?"
"Gak usah ribut, ini istri seorang Overste KNIL bukan hore, jangan berani kalian menyentuhnya!" ancam Polisi yang mengantar Clara masuk.
Meski sudah diperingatkan, tetapi sikap mereka tidak berubah ke Clara, meskipun mereka tidak berani bikin masalah dengan Clara
Clara hanya mendapat sepotong roti keras dan air putih untuk makan. Untung Clara sebelumnya sudah pernah ditempa hidup keras di hutan untuk makan seadanya, sehingga menerima keadaan ini Clara tidak merasa tersiksa.
Clara hanya disuruh tidur dibagian paling pojok jauh dari para tawanan nonik, karena mereka tidak mau berdekatan oleh orang Indo maupun pribumi ( jadi saat itu ada kelas-kelas dalam masyarakat, kelas 1 itu kaum Belanda murni, lalu kelas kedua itu indo itu peranakan belanda dan pribumi, kelas ke 3 kaum pribumi bangsawan, kelas 3 kaum pribumi pejabat pemerintahan/pribumi yang bekerja di perusahaan pemerintah Belanda dan kelas 4 pribumi pedagang dan kelas ke 5 pribumi jelata)
Saat tengah malam, ketika semua sudah terlelap tidur. Clara dibangunkan dan di seret ke sebuah ruangan dalam ancaman senapan para pilisi-polisi berbadan besar.
Clara diikat dan di dudukkan di sebuah ruangan dengan sebuah pelita kecil yang menerangi ruangan tersebut.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Clara tetap tenang dan menatap tajam ke arah depan, dimana telah duduk dengan arogan seorang bule yang menatap Clara penuh kebencian
...***...
...TBC...
...Maaf ya kemren tidak up, anakku baru rewel karena badannya tidak enak...
...Malam ini aku usahain double yess๐๐...
...Hayooo tebak siapa bule itu?...