Nyai Raras

Nyai Raras
Episode 97 De Javu



"Kita langsung pulang ke apartemen nak Rara?" tanya om Hidayat yang duduk di depan bersama sopirnya


"Rara kangen papa om, bisa ke tempat papa om?" jawab Clara


"Baiklah mari kita kesana...." ucapnya lalu memberitahukan sopir arah ke makam keluarga Wiguna yang berada di Jakarta Utara


Selama perjalanan Clara hanya terbungkam sambil menatap keluar jendela mobil, sedangkan om Hidayat berbincang dengan Aron dan menjelaskan bagaimana prosedur jalannya persidangan militer.


Setelah sampai di tanah pemakaman, Clara segera turun dari mobil


" Kalian dimobil saja ya, Clara cuman sebentar saja kok"


"Lama juga tidak papa Ra, om tunggu lagipula om hari ini memang sengaja mengosongkan jadwal untuk menemanimu" ujar Hidayat dengan lembut.


"Terimakasih ya om" jawab Clara sambil tersenyum


Clara segera masuk ke area makam, Hidayat yang menyaksikan putri kesayangan sahabatnya yang sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, memandang ke langit.


"Bram...lihatlah putrimu, dia mewarisi sifat tegas dan berhati baik, kamu pasti bangga disana" gumam Hidayat sambil tersenyum.


Clara duduk bersimpuh didepan makam papa dan mamahnya.


"Pa....apakah tindakan Cla sudah benar dengan memaafkan mereka?" ujar Clara sambil terisak dan memeluk nisan papanya.


Setelah Clara terlihat mulai tenang, Aron ikut bersimpuh disamping Clara.


"Hallo papa dan mama mertua, perkenalkan saya Aron Benim Ulker saya meminta restu untuk menikahi putri kalian, saya tau saya jauh dari kata sempurna untuk menjadi kriteria menantu idaman, tetapi saya berjanji sepanjang kehidupan saya, saya akan selalu menjaga kebahagiaan Clara dan cucu-cucu anda nantinya"


Clara segera mengulurkan tangannya, lalu kemudian berusaha menyentuh kening Aron apakah panas atau tidaknya dia. Pasalnya tiada angin dan tiada hujan tiba-tiba Aron titisan Laron ini berbicara seperti itu membuat Clara bingung.


"Nggak panas, tetapi kenapa Ben berbicara ngawur?" ujar Clara sambil menurunkan uluran tangannya sambil menatap Aron bingung.


"Atau jangan-jangan pagi tadi Ben salah minum obat?"


Aron mendengus seraya melonggarkan dasinya.


"Kamu.....kamu ngeledek aku?" tanya Aron mulai tersulut emosi sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Clara.


"Aku serius melamarmu didepan orang tuamu, kamu malah meledekku!"


Clara tersenyum masam 'Melamar katanya? masa melamar seorang gadis dihadapan orang tuanya kok dengan ekspresi datar gitu, kaya gak ikhlas banget' batin Clara menggerutu kesal.


"Clara gak meledek Ben kok, cuman nggak percaya saja Ben serius melamar Clara"


Aron segera menatap Clara sambil melipat tangannya didada.


"Terus mau kamu apa?" ujar Aron dengan intonasi pelan.


"Apa yang harus aku lakuin supaya kamu percaya?"


"Apa ya...?Clara menggantung ucapannya sambil menaruh tangannya di dagu seolah sedang berpikir dan sedetik kemudian Clara tersenyum licik.


Aron mendengus " Ngapain senyum-senyum" cibir Aron ketus terkesan tidak sabaran.


"Apa yang lagi kamu pikirin, buruan ngomong"


Clara mendelik kesal "Clara ingin membuat kesepakatan dengan Ben" tukas Clara tegas.


"Kesepakatan apa? jangan aneh-aneh deh!" sahut Aron kesal.


'Idiiiih....perasaan yang suka aneh-anehkan dirinya, bukan gue' dengus Clara dalam hati.


"Nggak aneh-aneh kok Ben, Clara cuman minta Ben tidak nyuruh-nyuruh Clara seperti jongos lagi, lalu jangan dikit-dikit suka ngancem memecat si Mumun lagi, terus jangan suka main nyium bibir Clara sembarangan dan seenaknya lagi" cerocos Clara panjang lebar sambil tersenyum manis.


"Gampangkan Ben?"


Aron melototkan matanya tak terima.


"Nggak saya menolak keras, kesepakatan apa ini, Aneh!!"


Aneh katanya? dirinya tidak berkaca apa gimana?Bahkan lebih aneh perjanjian yang dibuat dirinya sebelumnya, dibanding kesepakatan sederhana yang diminta Clara.


"Ya sudah terserah Ben, kan bener Bener itu orang yang gak bisa dipercaya" jawab Clara datar lalu ngloyor pergi meninggalkan Aron


Aron berdecak kesal, kemudian menarik tangan Clara untuk berhenti. Tanpa Aron sadari sudut bibir Clara terangkat.


"Oke....oke aku setuju, puas kamu?" ujar Aron setengah tidak rela.


Sambil mengangguk-anggukan kepalanya semangat Clara menjawab sambil tersenyum lebar.


"Sangat puas Ben"


Aron mendengus dingin, kemudian tiba-tiba hujan mulai turun, memang sedari pagi langit Jakarta sudah berawan.


"Claa...kesepakatan baru akan kulakukan jika kamu bisa lebih dahulu sampai dimobil dibandingkan aku" seru Ben kemudian berlari menerjang hujan.


Clara yang melihat kecurangan Aron langsung mengindahkan derasnya hujan langsung berlari mengejar Aron tidak terima terlebih selama berlari dirinya diejekin kakinya pendeklah, siputlah.


Clara jadi teringat dulu waktu sekolah dia masuk menjadi atlet lari yang selalu mewakili sekolahnya jika lomba-lomba, sehingga dengan mudah dia berhasil mengejar Aron dan gantian mengejek Aron.


Aron yang melihat istrinya kembali tertawa-tawa kembali membuatnya dia tersenyum puas, kemudian langsung mengerahkan kemampuan sesungguhnya berlari mengejar Clara dan mengangkat tubuh mungil Clara dalam gendongannya sambil tertawa terbahak-bahak melihat istrinya berteriak-teriak tidak terima.


Saat mereka berdua sampai di mobil om Hidayat sudah menyambut pasangan suami istri gesrek yang berlari-lari dengan badan basah karena hujan.


"Kenapa kalian tidak bersabar dan berteduh di joglo dalam dulu sich!! paman sudah bersiap membawakan kalian payung ini, lihat badan kalian basah semua" omel Hidayat yang malah ditanggapi mereka berdua dengan cekikikan.


"Hahaha gak papa paman, istriku ini minta bermain hujan, pinjam handuk dan selimut saja kalau ada" ujar Aron dengan tersenyum lebar


"Untung paman itu selalu membawa kaos kering dan handuk, buruan kalian berganti baju didalam, paman dan Amir keluar dulu" ujar Hidayat sambil menunjuk baju yang berada di jok belakang


Clara dan Aron segera masuk ke dalam mobil dan segera melepas baju mereka dengan saling berpunggungan


"Ben awas kalau mengintip! dan perjanjian tadi aku yang menang!" ancam Clara kepada Aron.


"Iya...iya...buat apa mengintip juga, nantinya juga aku akan melihat semuanya, udah buruan kamu lepas gaunmu itu" jawab Aron tenang membuat Clara semakin merucutkan mulutnya sebal.


Setelah selesai berganti baju, Clara hanya memakai kaos Hidayat yang oversize karena Hidayat memiliki tubuh tinggi gemuk, sehingga seperti memakai rok pendek, sedangkan Aron hanya memakai kaos kebesaran dan bercelana boxer miliknya saja yang untung tidak basah.


"Oom sudah" teriak Clara yang memberitahukan Hidayat dan sopirnya pak Amir untuk kembali masuk dan melanjutkan perjalanan.


Selama perjalanan Aron memeluk erat tubuh Clara untuk mengurangi rasa kedinginan keduanya, Clara hanya menurut saja meringkuk dalam pelukan Aron sambil melihat ke jendela derasnya hujan.


Kenapa rasa-rasanya seperti de javu saat bermain hujan dengan Bennya yah? 'haizzx...ingat Claa Benjamin Von Trapp itu tidak nyata ' gumam Clara dalam hati dengan tersenyum miris.


Radio dimobil sedang memutarkan sebuah lagu dari Josh Groban "Remember when it rained" lagu yang seakan-akan mewakili perasaan yang Clara alami saat ini


...Wash away the thoughts inside...


...That keep my mind away from you...


...And thoughts are all I have to do...


...Ooo ooh, remember when it rained...


...I felt the ground and looked up high and called your name...


...Ooo ooh, remember when it rained...


...In the darkness I remain...


...Tears of hope run down my skin...


...Tears for you that will not dry...


...They magnify the one within...


...And let the outside slowly die...


...Ooo ooh, remember when it rained...


...I felt the ground and looked up high and called your name...


...Ooo ooh, remember when it rained...


...In the water I remain...


...Running down...


...Running down...


...Running down...


...Running down...


...Running down...


...Running down...


...Running down...


...Ahh ahh ahh na na...


...Na na na...


...Ohh ohh ahh na na...


...Running down...


Mendengar lagu itu membuat Clara semakin menyerukkan kepalanya kedalam pelukan Aron, Aron hanya mengusap-ngusap punggung Clara seakan tahu kegelisahan yang dialami oleh Clara, tak lama terdengar ditelinga Aron dengkuran halus Clara karena terlalu lelah fisik dan hati Clara akhirnya tertidur.


"Apakah Rara tidur nak Aron?" tanya Hidayat


"Iya paman, my sleeping beauty princess sudah tertidur karena terlalu lelah" jawab Aron sambil mengecup ujung kepala Clara


" Rara adalah gadis kecil yang sangat tangguh saat di usianya 12 tahun dengan saat tenang mewakili ayahnya menyelesaikan masalah pembayaran pinalty dalam rapat pemegang saham dan dengan lapang dada kehilangan dan menyerahkan semua hartanya untuk melindungi semua pegawai papanya supaya tidak menderita karena di PHK"


"Sejak itu Rara yang dulunya adalah putri genit, manja dan ceria kesayangan Abraham berubah 180° Rara menjadi gadis tanpa ekspresi dan pendiam, terakhir paman bertemu saat dia menjual rumahnya untuk biaya sekolahnya di US"


"Karena itulah paman senang saat dia menelpon dan meminta tolong paman, gadis kecil Abraham sudah tumbuh menjadi seorang dokter muda yang sangat cantik, dan paman sangat kagum saat akhirnya dia mengampuni pembunuh ayahnya bahkan membantunya supaya tidak hancur hidup mereka"


"Terimakasih ya nak Aron sudah mau mendampingi dan membuat gadis cantik ini kembali bisa tertawa lepas, tolong jaga dia selalu ya nak" ucap Hidayat penuh rasa terimakasih ke Aron.


"Sama-sama paman, tentu saja paman Aron akan selalu menjaga istri dan anak-anakku nantinya, paman jangan khawatir" jawab Aron sambil menatap Clara yang masih tertidur dalam pelukannya dengan iba, ternyata gadis bandel ini telah melewati banyak penderitaan.


'Tenanglah Schatje mulai sekarang aku akan berusaha membuat kita berbahagia bersama' janji Aron dalam hati.


Hidayat mengantarkan mereka ke apartemen, sebelumnya Hidayat bertanya.


"Apakah Sebastian sudah tau pernikahan kalian?"


"Belum om" jawab Clara yang sudah terbangun dari tidurnya saat mengetahui sudah sampai didepan apartemennya.


"Nak Aron, Sebastian adalah pria tua keras kepala menyebalkan, jadi kamu harus bersiap menghadapinya yah...perlu bantuan paman? karena nanti pasti dia berulah mempersulit hubungan kalian" tanya Hidayat yang mengkhawatirkan Aron dan Clara.


"Tidak perlu paman, nanti kita berdua mencari cara menghadapi papi dengan baik-baik" jawab Aron untuk menenangkan Hidayat.


"Ra...janji sama paman yah, jika papimu mempersulitmu bilang paman, ingat pamanmu ini juga sahabat papamu yang siap membantumu" ucap Hidayat tegas membuat Clara tersenyum penuh syukur.


"Terimakasih om, Rara janji akan menghubungi om jika Rara membutuhkan bantuan om yah" ujar Clara sambil memeluk Hidayat.


Setelah Hidayat pergi, Clara dan Aron segera mulai naik ke kamar mereka di lantai 8, dimana sepanjang lobby mereka dipandang heran dengan kostum yang mereka pakai, tetapi dasar pasangan gesrek mereka dengan super cueknya berjalan menuju ke lift dan sepanjang perjalanan di lorong menuju apartemen ada saja tingkah Aron yang membuat Clara kesal sekaligus geli.


Saat didepan pintu, Clara segera memencet pasword didepan tetapi karena keusilan Aron membuat Clara kesusahan mengingat nomer pasword sehingga membutuhkan beberapa waktu.


"Kenapa sih kamu ngeselin banget dari tadi" omel Clara lalu berjalan masuk terlebih dahulu.


"Salah sendiri kamu kecil seperti boneka" jawab Aron dengan senyum mengejek.


"Enak aja kecil, kamu tuch yang badannya kaya tiang listrik" ujar Clara dengan kesal menginjak kaki Aron sekuat tenaga membuat Aron teriak kesakitan.


"Berani-beraninya kamu menginjak kaki sempurnaku ini yah" teriak Ben kesakitan.


Heleeh tadi ganteng sempurna, sekarang kakinya yang sempurna entah besok apalagi yang dia puji sempurna lagi, memang benar yah kata orang kalo jadi orang terlalu narsis itu kewarasannya agak diragukan contohnya ya ini nich Laron bin Uler didepannya ini


"Yaa beranilah orang tinggal nginjek doang" jawab Clara sambil menjulurkan lidahnya mengejek Aron


Aron yang kesal lalu langsung mengangkat tubuh mungil Clara dan segera Aron panggul seperti orang memanggul karung beras sambil menggelitik pinggang Clara.


"Beeeen geliii, hentikan hahahaha"


"Bilang kapoook dulu!!"


"Iyaaa....iyaa....ampuuun gak nginjek kaki sempurna dari yang mulia Ben" seru Clara sambil masih tertawa kegelian.


Tetapi tawa Clara langsung berhenti seketika berganti dengan memucatnya wajahnya saat didepannya tampak 3 orang yang memandang adegan dirinya dan Ben dengan tatapan horor dan shock.


"Olivia Clara Maharani Wiguna apa yang kamu lakukan!!!" serunya dengan suara mengglegar membuat Ben menurunkan tubuh Clara dan segera membalikkan badannya dan melihat siapakah gerangan yang barusan berteriak penuh emosi.


"Gleeeg....Matilah kita Claa...." cicit Aron dengan susah menelan ludahnya.


...***...


...TBC...


...Hayoo tebak siapakah mereka???😳😮😱...


...Mianhae ya baru sempat Up, kemarin waktu istirahat malah tertidur didepan kompi hihihi🙈😁✌...