
Sean keluar dari kamar Clara sambil tertawa terbahak-bahak sambil mendorong tubuh Galuh untuk ikut keluar
Berbanding terbalik dengan pasangan yang dalam edisi nanggung ini, mereka segera memakai bajunya kembali menggerutu sedangkan si Arthur auto nyut-nyut, itulah yang membuat Aron emosi, kemudian mereka segera menemui tamu lucnut yang sayangnya adalah kakak sepupu dari istrinya dan sahabatnya sendiri.
Diruang tamu tampak dua orang penganggu yang tidak merasa bersalah sedikitpun, malah berbincang santai
"Mbak ada apa malam-malam nyari Rara?" tanya Clara to the point jangan lupakan muka Clara yang sudah seperti kain kusut
"Kong ...ngapain malam-malam nyari aku, bukankah harusnya kamu masih di Oregon mewakili aku di perusahaan bersama dengan Sam?" ucap Aron ketus
"Karena itulah aku harus terbang kesini bareng dik Galuh sama pakde karena ada hal penting yang harus perlu kamu handle sendiri, tetapi sebelumnya dik Galuh mau ngomong sesuatu" ucap Sean yang bertingkah mencurigakan.
"Dik???!!!heeh uncle kingkong orong-orong sejak kapan kamu manggil kakak aku dik heh?" ujar Clara sambil menatap Sean curiga.
"Kong kamu main dengan cewek-cewek sapi murahan, aku tidak pernah melarang, tapi...... jangan dengan kakak iparku dong, dia cewek baik-baik" ujar Ben marah.
" Yaelah Ar...Dwarf, aku gak sebejat itu kali dan apa tidak boleh aku serius dengan dik Galuh" ucap Sean sambil menggaruk tengkuknya dan tidak lupa cengiran khas si kingkong.
"Tidak boleh!!!!" jawab Clara dan Aron serempak.
"Mbak apa sih yang mbak sukai dari kingkong orong-orong satu ini, kagak ada bagus-bagusnya nich kingkong....jangan mudah tergoda dan terlena rayuan iblis dari kingkong ini" cerocos Clara berusaha membujuk kakak sepupunya.
"Yaaa....dwarf aku tidak senista itu, aku gak mungkin ya mempermainkan wanita selembut dan seanggun dik Galuh ini" ujar Aron sambil menatap lembut wanita disampingnya yang menatap balik ke Sean penuh kekaguman dengan senyuman yang membuat siapapun adem.
"Diiik jangan bilang gitu mas Sean selama ini selalu santun dan baik sama mbak kok, bantuin mbak untuk mbujuk ke romo yah"
"Mbaak...mbaak pikir dulu yang matang, Rara gak berani mbantu mbak, kalau cowoknya bukan si kingkong Rara dan Ben mau bantu dech"
"Dwarf percayalah aku sangat serius mencintai kakakmu, apa yang harus kubuktikan supaya kamu percaya denganku" ujar Sean dengan sikap memohon.
"Untuk masalah ini pembuktian bukan ke aku Kong, tapi langsung ke pakde jika kamu benar-benar mencintai mbak Galuh....tapi kalian harus ingat dan siap dengan resiko yang kalian hadapi, ingat mbak yang terjadi pada papa aku bisa juga terjadi dengan kalian" ujar Clara.
"Dibuang dari keluarga itu berat mbak, bukan hanya bagi kalian berdua tetapi ke anak kalian, belum lagi perbedaan kalian sangat jauh dari agama, budaya dan gaya hidup pikirkan itu baik-baik mbak, jangan hanya mengandalkan cinta semata"
"Rara bisa ngomong gitu karena Rara tau bagaimana rasanya terbuang" ujar Clara yang lalu dipeluk Aron untuk menenangkan.
Sean dan Galuh segera terdiam setelah mendengar ucapan Clara.
"Kong benar kata istriku, ini bukan main-main jika kamu benar-benar sudah mantap tunjukkan kesungguhanmu terhadap pakde, beliau seorang raja modern yang bijaksana jadi bisa mengambil tindakan yang terbaik buat kalian"
"Kalau sudah, silahkan kalian pergi kami sudah lelah" usir Aron tegas
"Eeeh tunggu dulu, kamu harus melihat berkas ini sekarang kita bahas masalah perusahaan terlebih dahulu, dan ini tidak bisa ditunda Ar" ujar Sean dengan nada paksaan.
Meski dengan berat hati akhirnya Aron mulai membahas bersama dengan Sean yang ternyata tidak hanya semenit dua menit saja melainkan berjam-jam sehingga Clara tertidur di pangkuan Aron sedangkan Galuh tertidur di sofa didekat Sean.
Setelah akhirnya selesai Aron segera menggendong istrinya masuk kamar sedangkan Sean tidur di bawah sofa tempat Galuh tidur karena Sean tidak berani menggendong Galuh yang sangat taat dengan agamanya yaitu tidak boleh menyentuh secara fisik jika belum menjadi muhrimnya.
Setelah kejadian itu, rumah keluarga Wiguna disibukkan persiapan pernikahan Clara, sedangkan Sean mulai aksinya dengan melakukan pedekate ala-ala kingkong ke pakde, bahkan sampai rela dijadikan jongos sama pakde ( buseeet si kingkong sudah takluk dan bucin oleh pesona putri Solo 😂😂*author POV)
'Rasain loe Kong, emang enak' guman Clara dalam hati sambil tersenyum puas banget melihat penderitaan si kingkong.
^^^
Disaat Clara sedang disibukkan masalah pernikahan persidangan kasus malpraktek keluarga Pradipta yang dilakukan secara tertutup mulai berjalan lancar terlebih sikap kooperaratif dari pihak tersangka dan bukti-bukti sudah lengkap.
Maka hakim sudah memutuskan untuk Wisnu, Anton dan Lino selama satu tahun ijin prakteknya ditahan sementara waktu mengingat sikap baik dan jasa yang telah mereka lakukan dibantu pengacara handal dari Clara sehingga ketiga pria Pradipta diberi kesempatan oleh pihak perijinan praktek kedokteran meski dengan evaluasi dan masa percobaan yang ketat tetapi dengan catatan mereka dilarang untuk praktek di rumah sakit Gatot Subroto.
Sedangkan dr Rukmono dijatuhi hukuman 5 tahun penjara, dicabutnya ijin praktek dan dikeluarkan secara tidak hormat dari militer karena selain kelalaian dan kecerobohannya yang mengakibatkan dua orang kehilangan nyawanya, Rukmono terkena pasal berlapis terkait usaha pemerasan yang dia lakukan kepada keluarga Pradipta.
Pada saat keluarga Pradipta selesai sidang dan akhirnya bisa bebas tidak ditahan di penjara.
Tampak Clara sudah menunggu Lino diluar kantor kehakiman militer sambil membawakan masakan untuk dimakan Lino nantinya.
Setelah semua penyelesaian urusan administrasi selesai tampak ketiga pria Pradipta berjalan keluar diiringi pengacaranya untuk segera pulang.
"Kak, itu sudah ditunggu Clara" ujar Anton saat melihat Clara yang berdiri disamping mobil menunggu mereka keluar.
Lino yang yang sudah berhari-hari bolak-balik menjalani sidang yang melelahkan, melihat Clara yang menunggu dirinya terbit rasa bahagia dihati dan segera berjalan cepat menuju ke arah Clara dengan tersenyum lebar.
"Adik sudah lama disini?ada apa ya ?" tanya Lino.
"Ini dimakan dulu" ujar Clara sambil menyodorkan tahu ke arah mulut Lino.
"Makan tahu? biar apa dik?" tanya Lino bingung.
"Udah abang makan aja satu gigitan aja, biar kelak abang gak mengalami masalah lagi seperti ini" jelas Clara.
"Iya...di drakor yang adik liat, kalo keluar dari penjara harus makan tahu biar besok-besok tidak kembali masuk penjara lagi" ujar Clara membuat Lino melotot terkejut.
"Ya ampun dik, kamu tuch kebanyakan nonton drakor dech" ujar Lino sambil mengacak rambut Clara sambil tersenyum geli membuat Clara cemberut.
"Udah yuk kita ke apartemen abang, sudah adik buatin soto ayam, perkedel dan ayam goreng kesukaan abang" ucap Clara lalu membuka pintu mobilnya dan masuk kedalam.
"Ayo bang jangan bengong ntar kesambet wowo penunggu sini" teriak Clara.
'Apakah masih ada harapan buat aku dik?' gumam Lino dalam hati.
Didalam mobil Lino terheran nggak biasanya Clara dianter sopir biasanya sama adiknya ataupun menyopir sendiri.
"Adik kok pake sopir, adik sakit ya?"
"Nggak, sekarang dilarang papi nyopir sendiri bang, sedangkan Raksa baru keluar kota karena ada proyek yang harus dia tangani sendiri."
"Ooo ya sudah" jawab Lino singkat dan kembali diam.
"Bang....maaf ya adik belum bisa menyapa papa abang" ujar Clara lirih sambil menunduk.
"Adik sudah mau ngomong, mau jemput dan mau masakin buat abang saja, abang sudah berterimakasih dik, terlebih kesa...." belum selesai Lino ngomong sudah dibungkam dengan tangan Clara.
"Kita ndak usah membahas itu lagi yah" ucap Clara dengan tatapan memohon
"Dik tadi habis masak belum cuci tangan ya?tangannya masih bau bawang" ujar Lino.
"Eeeeh....iyakah? perasaan tadi setelah masak adik dah mandi dan sudah pakai handcream dech" ujar Clara sambil menciumi telapak tangannya
"Hahaha....abang bohong dik, kamu tuch ya, insecure banget kalau masalah bau-bauan"
"Abaaaaang tuuuch yaa, tadi itu Clara lagi serius malah diketawain!!" pekik Clara sambil memukuli Lino yang masih tertawa.
"Udah ndak usah cemberut ntar mukanya jadi jelek loo" goda Lino sambil menoel-noel pipi Clara.
"Bodo bang...."
Melihat Clara yang marah membuat Lino mengalah "Ya udah abang minta maaf ya, berhenti marahnya ya"
Clara mencebikkan bibirnya, sambil menghembuskan nafasnya lalu kembali menatap Lino.
"Bang....habis ini rencana abang mau ngapain?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Lino terdiam karena terus terang dirinya mau ngapain selama satu tahun tanpa bekerja sebagai dokter.
"Terus terang abang bingung dan belum ada rencana dik"
"Naaah kalau gitu abang mau dong mbantuin Clara, gini bang dulu papa selalu menjadi pen donor tetap sebuah panti asuhan di kota Solo, karena masalah dana panti asuhan tersebut terancam tutup."
" Kemarin Raksa dan adik membeli panti asuhan tersebut dibawah naungan yayasan keluarga Wiguna."
"Terus?abang bisa bantuin apa dik?"
"Abang nanti bantuin adik mengelola panti itu sekalian bisa menjaga kesehatan anak-anak disana, gimana abang mau?" tanya Clara.
"Adik yang mengelola, sudah nggak praktek dokter dik?"
"Masih nanti di klinik dr Barlow di New York bang, tapi nanti masih bolak balik ke Indonesia."
"Baiklah aku terima dik, terimakasih adik sudah memberiku kesempatan" ujar Lino sambil tersenyum lebar.
Setelah sampai di apartemen Lino, Lino membersihkan apartemennya, Clara sibuk menyiapkan makanan di dapur.
Ting....tong....
"Dik tolong bukain dulu, abang mau mandi bentar gerah!!" teriak Lino.
"Iyaaa!!!" sahut Clara kemudian membukakan pintu, dan Clara dibuat terkejut melihat siapa pria di depannya.
"Aku laper!! aku ikut makan siang disini!!" ujarnya dengan wajah datar andalannya.
...****...
...TBC...
...Hayooo itu siapa yang datang???...