Nyai Raras

Nyai Raras
Episode 95 Saatnya Pulang



Waaa....ini nich si tukang modus, dari tadi clap clup clap clup cium-cium Clara mulu.


Sam kemudian menyodorkan surat-surat nikah mereka ke pakde.


"Lalu rencana kalian menikah di gereja kapan?meski pakde berbeda keyakinan dengan kalian, tetapi menurut pakde semua mengajarkan hal yang sama, bahwa kita harus menghadirkan Tuhan di pernikahan kita sehingga pernikahan kita akan langgeng dan dalam perlindungan Tuhan, terlebih istrimu sedang hamil nak Aron"


"Rencana kami akan menikah secara gereja saat kami pulang nanti pakde" jelas Aron sambil menceritakan apa yang telah Clara alami.


"Butuh bantuan pakde tidak nak Aron, karena papinya Clara itu keras wataknya, terlebih dia sangat membanggakan calonnya yang dokter itu" tawar pakde.


"Tidak perlu pakde, kami akan hadapi berdua" ujar Aron dengan tersenyum.


"Kamu memang benar-benar pria sejati, memang harus begitu untuk mendapatkan wanita yang dicintainya, seorang pria harus berjuang mendapat restu orangtua dan keluarga sehingga kelak rumah tangganya damai sejahtera sempai kakek nenek" ujar Pakde sambil tersenyum puas.


"Ya udah kalian pasti sudah capek terlebih kamu Cla, baru hamil muda masih rentan...udah sana bobo, pakde juga mau istirahat capek banget"


Clara hanya bisa tersenyum kaku dan sedih karena harus menipu pakdenya.


"Eeh iya pakde monggo sugeng sare (selamat tidur)pakde"ujar Clara sambil menunduk hormat.


"Iyo cah ayu, kamu makin cantik dan terlihat bahagia sekarang, makasih ya nak Aron sudah membahagiakan ponakanku ini, meski anaknya terlihat kuat tapi dia aslinya rapuh dan butuh seorang pria kuat di sisinya" ujar pakde Joyo dengan mata berkaca-kaca membuat Clara ikut terharu.


"Pakde........bikin Clara ingin menangis karena kangen papa" ujar Clara manja sambil memeluk pakdenya dengan menangis


"Jangan menangis udah punya suami juga, nanti anakmu jadi anak cengeng loo" ujar Pakde Joyo sambil mengusap punggung Clara penuh kasih.


"Nak Aron, bawa istrimu beristirahat gih"


"Baik pakde, ayo sayang" ujar Aron sambil merengkuh Clara dan membawanya ke kamar.


"Loo Ben ini bukan kamar aku, jangan macam-macam kamu" ujar Clara lirih


"Sekarang ini kamar kita, tidakkah kamu lihat tadi surat nikah kita tadi...kita sudah resmi nikah secara sipil di dua negara" ucap Aron sambil tersenyum lebar.


"Itu beneran bukan rekayasamu untuk mendukung drama kita Ben?memangnya kapan aku tanda tangan?"


Tiba-tiba Clara ingat waktu dia menandatangani surat kontrak kerja, ada satu kertas yang belum sempat dia baca karena pada waktu itu pesawat sudah mulai take off...."Jangan katakan aku tanda tangan waktu itu?!" pekik Clara sambil membungkam mulutnya sambil melotot kearah Aron yang ditanggapi Aron dengan dengan cengiran menyebalkan miliknya.


Saat Clara ingin menerjang Aron untuk menghajarnya tiba-tiba hpnya berbunyi nyaring.


Clara segera mengangkat telponnya belum sempat Clara bilang Hallo sudah langsung diomelin Raksa dari ujung sana dengan 1001 kata sampai Clara menjauhkan telponnya dari telinganya.


"Buruan lihat link yang aku WA dan segera pulang, ini penting!!" ujar Raksa kemudian langsung menutup telpon sebelum Clara sempat berbicara satu patah kata.


"Wooo Dasar adik lucnut gak ada sopannya langsung main tutup telpon saja" gerutu Clara, kemudian ke kamar mandi terlebih dahulu karena sudah kegerahan dan berganti dengan baju piyama.


Setelah itu menyalakan komputer dan melihat apa yang disuruh Raksa lihat, sesaat kemudian Clara melihat tayangan berita mengenai kejadian di rumah sakit dan tampak tiga pria keluarga Pradipta sedang melakukan konferensi pers mengungkapkan kejadian 12tahun yang lalu.


Setelah satu minggu lebih dia di Amerika, Clara menyadari bahwa dirinya tidak bisa memungkiri perasaannya yang menyayangi Lino, karena itulah dia merasakan rasa sakit saat tahu bahwa pelaku malpraktik papanya adalah Lino bukannya dr Wisnu maupun dr Anton seperti dugaannya selama ini.


"Kenapa jadi begini? Kenapa kamu memilih jalan ini?aku tidak ingin seperti ini, lagi-lagi keadaan berubah berlawanan dengan harapanku" isak tangis Clara kemudian membuka jendela kamarnya dan menangis di teras depan kamarnya.


Aron yang baru selesai mandi dikamar lainnya, masuk ke kamarnya untuk mencari istrinya tetapi istrinya, tetapi kamar tampak kosong dan tampak komputer milik istrinya menyala.


Saat Aron mau menutup komputer Aron melihat rivalnya sedang melakukan konferensi pers, membuatnya terusik untuk melihat apa yang telah terjadi dengan ekspresi tak terbaca.


Sambil menghela nafas panjang, Aron segera menyambar jaket kemudian dia keluar ke teras kamarnya, setelah mendengar isakan tangis wanita yang dia cintai.


Dan sesuai dugaannya bahwa istrinya sedang berdiri menatap salju turun sambil menangis.


"Pakai jaket, nanti sakit hmm..." ujar Aron sambil memakaikan jaket ke tubuh Clara.


"Tatap aku Clara...." seru Aron sambil mencengkram ke dua lengan Clara membuat Clara kemudian menatap Aron.


"Olivia Clara Maharani Mahendra...aku mungkin akan mengatakan kata-kata yang kamu benci jika aku mengucapkannya. Maafkan Anton, maafkan Lino dan ayahnya, maafkan mereka yang sudah menyebabkan kesusahan dalam hidupmu. Mereka sadar telah melakukan kekhilafan besar ditambah keegoisan mereka telah menghancurkan perasaanmu."


" Tidak ada kata dan perbuatan yang mampu mereka perbuat untuk menebus kesalahan ini. Tidak ada yang bisa membayar rasa sakit mu ini kecuali Tuhan. Keputusan untuk menerima permintaan maaf mereka ada dihatimu, aku tidak akan memaksamu, apapun keputusanmu itu tidak akan merubah perasaan dan pandanganku terhadapmu. Aku akan selalu disisimu, tentukan yang terbaik kamu bebas memilih tetapi jangan lari dan menghindar, masalah ini harus diakhiri Claa tuntas, adil dan baik" ujar Aron lembut.


"Aku tahu ini sangat berat, karena akupun mengalami dan merasakan apa yang kamu alami saat ini, rasanya sangat lega setelah tahu pembunuh ayahku malam ini tadi, bahkan pelakunya juga sudah dipenjara, dan aku ingin melupakan rasa dendamku ini dengan menatap masa depan yang baru tanpa rasa dendam lagi. Aku harap kamupun demikian Cla" ujar Aron sambil menatap Clara lembut.


Air mata Clara semakin menjadi setelah mendengar ucapan Aron, seakan setiap kata menorehkan goresan yang sangat sakit.


"Aku bingung...sangat bingung, rasanya hampa, gelap dan dingin, apa yang harus kulakukan Ben?" ucap Clara sambil menangis di dada Aron.


Aron hanya bisa memeluk erat tubuh istrinya yang sedang dirundung kesedihan, mengecup ubun-ubun Clara lalu menyandarkan dagunya samping kepala Clara.



"Bolehkah aku pulang ke Indonesia besok Ben?" bisik Clara lirih.


"Iya..kita pulang, aku akan selalu disisimu dan tidak akan meninggalkan dirimu lagi" jawab Aron.


"Terima kasih Ben....terima kasih" bisik Clara lagi.


...***...


...TBC...


...Sudah triple up ya kesayangan Thor...


...Yeaaay😊💪💖💖...