Nyai Raras

Nyai Raras
Episode 27 Ranjang ooh Ranjang



"Ras.....bangun, duuh malah panas badannya" ucap Ben saat memegang kening dan pipi Clara


Ben langsung berusaha mencari kain dan mengompres Clara semalaman


"Pa...jangan tinggalin Clara sendirian, Clara nanti sama siapa?" ujar Clara mengigau dan menangis tersedu.


"Clara?...bukannya namamu Raras?kejadian apa yang telah kamu alami Ras sampai kamu ketakutan dan bermimpi buruk" gumam Ben sambil mengusap kening Clara yang berkerut.


"Aku disini Ras...tenang yah" ujar Ben sambil mengusap kening Clara, sehingga Clara kembali tenang.


Tak beberapa.. kembali Clara mengigau karena badannya kembali panas


"Bang....maafin Clara, maafin Clara yaah"


"Ras....disini ada aku bukan si muka pucat itu" ucap Ben kesal.


"Apa sih kehebatan dia Ras dibanding aku" gerutu Ben.


Semalaman Ben menjaga Clara sampai tidak terasa pagipun datang menyapa kedua insan yang tertidur lelap sambil berpelukkan.


"Aah sudah pagi " ujar Ben sambil meregangkan badannya yang kaku dan pegal karena tangannya menjadi bantal tidur Clara.


"Syukurlah sudah tidak sepanas tadi malam" ujar Ben lalu mengangkat semua tas Clara dan dimasukkan ke mobil, lalu kembali lagi menggendong Clara dan membawanya ke mobil


Dengan perlahan Ben melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.


Saat sampai dirumah Ben sudah disambut pak Darto dan Simbok


"Mbok buatin bubur dan teh hangat, Raras sakit" ujar Ben lalu menggendong Raras ala bridal style


"Baik Meneer" ucap simbok


"Pak tolong angkatin tas Clara, masukkan ke kamarku"


"Baik meneer....meneer sudah benar!" ujar pak Darto sambil mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar.


Ben membawa Clara ke kamarnya Clara, dan menidurkannya ke ranjang dan ikut tidur kembali bersama Clara sambil memeluk Clara erat.


Sayup-sayup Clara merasakan hembusan udara hangat mengenai wajah ya dan debaran jantung seseorang.


Perlahan dia mulai membuka matanya Dan alangkah terkejunya Clara saat melihat wajah Ben terpampang jelas di depan matanya, dia mengerjapkan matanya beberapa Kali.


Ah tidak....ini pasti mimpi benarkan?tidak mungkin Burap tidur satu ranjang dengannya


"Oooh kamu sudah bangun rupanya?" Ujar Ben sambil tersenyum lebar


Alih-alih menjawab Clara malah mengulurkan tangannya Dan tanpa diduga Ben, Clara malah mencubit pipi Ben dengan sekeras mungkin


"Arrrrgggh....sakit Ras...kamu kenapa cubit pipi aku sich?!"protes Ben kesakitan sembari menunduk menatap Clara. Namun hal itu tidak bertahan lama, Ben seketika memasang ekpresi songongnya "Iya aku tahu kok, aku memang ganteng dan gemesin tapi ya jangan dicubit juga kali, harusnya kamu cium aja Ras"


Clara yang nyawanya belum genap masih mengerjapkan matanya dengan polos. Kalau ini mimpi tapi kok suaranya sangat jelas?Beberapa detik kemudian mata Clara terbuka lebar....


Oooh tidak!


Tunggu dulu, .......jangan bilang ini bukan Hanya sebatas mimpi atau halusinasinya saja


"Ooh my God jadi ini bukan mimpi?!!" Teriak Clara heboh sambil menutup mulutnya shock.


"Araas...pagi-pagi jangan treak-treak, ini aku nyata, kamu gak mimpi, kalo kamu tidak percaya sini aku cium lagi biar kamu percaya kalo ini emang nyata adanya"


Mendengar hal Itu Clara refleks mendorong tubuh Dan wajah Ben yang sudah dalam pose mau nyosor.


"Euuuw...cium aja noh pantaat ayam!"


Mendengar ucapan Clara seketika Ben mengkerut dengan kesal


"Tapikan aku maunya cium bibir kamu yang manis Itu bukan pantaat ayam Ras" omel Ben Lalu kemudian menatap bibir Clara dengan penuh harap.


"Cium sekali aja Ras...aku ikhlas kok......ya itung-itung bayaran nungguin kamu semalam panas, lalu menggendong kamu bersama barangmu turun gunung"


"Saya yang gak ikhlas Meneer, lagipula menolong kok nggak tulus "


"Ya elaah Ras...hari gini gak ada yang gratis"


"Bodo amat Meneer, pokoknya bibir suci ini hanya untuk suami Saya"


"Laah kalo gitu......... saya dong yang menjadi suami kamu"


"Loo kok bisa?"


"Kemaren malam dan pagi tadi aku sudah cium bibirmu yang kememut Itu?" ujar Ben watados.


Lalu meninju Dan memukul semua tubuh Ben dan Ben berusaha mengelak sambil melompatkan badannya menjauhi tubuh Raras, sehingga mereka saling kejaran diatas ranjang seperti anak kecil sampai tiba-tiba


Craaak....craaak.....braaak.....


"Aaaaaargggh" teriak Ben dan Clara serempak saat ranjang besi kuno Clara tiba-tiba amblong, sehingga tubuh mereka oleng dan terjatuh bersama


Ketika ranjang tersebut akhirnya ambruk, tubuh Clara yang jatuh tepat diatas Ben dan secara tidak sengaja bibir mereka saling menempel


Pada saat posisi itu, tampak pak Darto dan simbok yang lari terbirit-birit untuk menolong saat mendengar majikannya teriak, tetapi malah disuguhi adegan syuur ala kedua mahluk berbeda ras tersebut membuat pasangan yang sudah berumur itu jengah dan segera mengundurkan diri


"Ya ampuun pak e...polah e mereka, sampe ranjang ambrol" ujar Simbok sambil geleng-geleng


"Wes bune...tunggu wae bulan depan bakalan ada calon sinyo dan nonik" ujar Darto sambil terkikik


^^^


"Ras....ras...aku minta cium lembut saja sok-sokan nggak mau, eeh malah nyium dan menindihku sampai ranjangnya ambrol gini, emang yah wanita itu susah dipahami"


Clara memutarkan bola matanya malas, susah dipahami apanya coba, orang ranjang ini sudah tua, mereka eeeh tepatnya si bule badannya segede gaban gitu polah dikit aja ambrol, apalagi tadi malah berlarian diatas kasur.


"Idiiih....geer siapa coba yang nyium bibir Meneer, ini tadikan gak sengaja"cibir Clara


"Hahahaha....aku suka gaya kamu, benar-benar **** dan menggairahkan" ujar Ben songong.


Clara mendelikkan matanya, Clara benar-benar gelay dan kesal bukan kepalang, kalo bunuh Ben dosa gak yah?


Clara segera berdiri dari kasurnya diikuti Ben, tiba-tiba Ben mengulurkan tangannya dan menyentuh kening Clara


"Syukurlah panasnya sudah turun, takut sama marahmu" ujar Ben sambil tersenyum lembut membuat Clara tercengang kaget karena belum pernah si burap tersenyum normal gini


"Udah...gak usah bengong menatapku, wajah ini dan tubuhmu ini sudah jadi milikmu sah sejak kamu stempel dengan bibirmu tadi" ujar Ben lalu pergi meninggalkan Clara yang shock mendengar ucapan Ben barusan


"Aaargh kenapa aku disini jadi LoLa" teriak Clara sambil mengacak rambutnya dan menghentakkan kakinya


"Ntar malam tidur di kamar ku saja, kamarmu tidak layak kamu pakai" teriak Ben dari luar kamar.


"Bomaat!!!" ujar Clara lalu kembali masuk kamar dan mengambil gantungan kunci di nakas samping ranjangnya laku menekan tombol diperut boneka itu



"Mi Reina....abang kangen...kamu dimana sayang?"


Mendengar suara Lino, menangislah Clara


"Abang adik kangeen, tolongin adik bang....adik ingin pulang" ucap Clara sambil menangis tersedu-sedu lagi.


Ben yang membawa nampan isi bubur dan teh hangat melihat Clara kembali menangis hanya menarik nafas panjang untuk menekan rasa sakit di dadanya.


Lalu kembali memasang muka tengil nya Ben masuk ke kamar


"Ras...makan dulu lalu minum obat, udah gak usah nangisin Bang-bang tut itu, ada bule ganteng gini lo kok dianggurin"


"Kok bang bang tut? apaan itu?"


"Itu looo anak-anak pribumi suka nyanyiin lagu bang...bang tut jendelo uwooo....uwooo sopo bali ngentut ditembak raja tuo" terang Ben sambil menyanyikan lagu anak-anak jawa dengan logat aneh.


"Haah apaan tuch artinya?"tanya Clara bingung karena hidup di Jakarta mana tau lagu Jawa.


"Laah gak tau...yang pribumi kan kamu, kok malah tanya" ucap Ben sewot


"Udah ayo makan, aku laper" ujar Ben lalu menyodorkan sendok kepada Clara


"Ini cuman satu mangkok meneer" ujar Clara nggak terima.


"Ini banyak Raas....emang kamu habis, peliit amat sih kamu...ayo buruan ntar kalo dingin. .....gak enak"


"Iya...iya brisik iih si Meneer" omel Clara lalu segera mereka berdua makan bubur sepiring berdua


...***...


...TBC...


...Ciee...cie....rukuun akhirnya๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚...


...Holla everybody, its a beautiful day bertemu kembali dengan Burap dan Clara ....selamat beraktivitas gaesss...


...Saranghae๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜...