
Perempuan itu pasti sangat marah ataupun merasa tersinggung tetapi itu salahnya sendiri, Clara kok dilawan
Perempuan itu kemudian menoleh dan memandang ke arah Ben
"Benny....kau dengar? kau lihatkan cewek pribumi tidak berpendidikan ini menghina tunanganmu dengan kasar" rengek manja Monica sambil mengguncang-guncang tangan Ben "Kamu harus membela aku dibanding cewek menjijikan ini"
'whatttt....dr Olivia Clara Maharani seorang dokter lulusan terbaik dari Harvard dibilang tidak berpendidikan, waaa ini kode keras untuk mengajak perang Clara ini!'
Ben segera mengibaskan tangan Monica kasar, lalu segera membersihkan lengannya dari bekas tangan Monica dengan jijik.
Kemudian Ben segera merangkul pinggang Clara dari belakang dan menyibakkan rambut Clara ke samping dan menaruh kepalanya ke ceruk leher Clara dengan manja, sedangkan Clara hanya bisa melirik kesal ke arah Ben yang memanfaatkan keadaan dengan mengambil keuntungan darinya dasar Burap tukang modus, rasakan pembalasan Clara dalam sebulan nanti
"Bukankah yang mulai menghina itu dirimu? lagipula ucapan istrinya tidak menghina kamu, tapi itu kenyataan yang adakan?"ujar Ben malah balik bertanya sambil menatap sinis "Sejak kapan juga aku ini tunanganmu!"
"Tapi...."
"Berhenti Monica...aku mohon, aku tidak akan pernah tertarik bahkan mencintaimu, jadi jangan sia-siakan waktumu untuk mengejar ku" sela Ben tegas
Clara hanya menyaksikan drama membosankan antara Ben dan Clara dengan tatapan malas, terus bertanya-tanya kapan drama mereka selesai?
Wajah Monica semakin merah menandakan dia sangat marah, terlebih melihat sikap manja Ben ke Clara
"Kalian benar-benar .....liat aja aku tidak akan tinggal diam, terutama sama kamu!!" bentak Monica sambil menunjuk ke arah Clara penuh dendam.
"Aku?!!" tanya Clara seraya menunjuk dirinya sendiri. Monica pikir ancamannya membuat seorang cewek pribumi seperti biasanya langsung bergetar ketakutan. Tapi jelas itu sangat salah besar, seorang Clara Maharani lulusan terbaik di kesatuan tentara Republik Indonesia tidak pernah gentar menghadapi musuh, terlebih hanya seorang nonik ondel-ondel gini "Ya udah, aku tunggu kalo gitu" jawab Clara santai
Monica mengepalkan tangannya, sebelum akhirnya meninggalkan mereka dengan raut penuh amarah.
"Ben orangnya dah pergi tuch"
"Aku tau"
"Ben..."
Belum sempat Clara menyelesaikan ucapannya, lagi-lagi Ben sudah memotong
"Apaan sich Cla"
Clara mendelikkan matanya jengah
"Ngomong-ngomong mau sampai kapan tanganmu dan bibirmu menempel di pinggang dan leher Clara?"sindir Clara dengan nada ketus sambil melirik tangan Ben yang masih melingkar di pinggangnya. "Betah amat ini tangan dan ini bibir nemplok di badan Clara" ( nemplok kaya cecak aja Claraπ *author POV)
Ben berdeham pelan dan dengan cepat terburu-buru melepas tangannya dari rangkulannya dari pinggang Clara
"Diiih.....baru digituin sama suaminya sendiri aja udah ngomel, padahal tadi berani bilang bisa bikin suaminya puas, manaa Clara...?"
'Skak mat.....dasar ini mulut kebiasaan banget nyrocos tanpa dipikir dulu, duuuh kenapaa disini aku jadi kaya orang bego....gini nich terlalu banyak bergaul ama si Ucup si lambe turah' monolog Clara dalam hatinya sambil memukuli bibirnya
Uhuuuuk....uhuuuk
"Har...kalau makan yang pelan kenapa, sampe tersedak gitu" omel Steffi
"Aku dah pelan Fi....pasti ini ada yang baru ngata-ngatain aku" ujar Harry sambil minum air.
Mendengar ucapan Harry Clara langsung cengar-cengir
"Udah Cla... itu bibir nggak usah dipukulin...nggak usah di kode-kode aku paham kok kalo istriku ini sudah ingin dicium" ujar Ben sambil menaik turunkan alisnya
'Kode-kode?....ingin dicium?' Clara refleks langsung menutup bibirnya dengan mata mata melotot ke arah Ben
"Hahaha....udah yuks lihat pesta kembang api disana" ujar Ben lalu mengajak lari Clara sambil tersenyum lebar
"Har....sumpaah temanmu itu aneh, untung aku cintanya ama kamu, hiiiy" ujar Steffi sambil menatap Harry
"Iya....baru tau aku, kalo Ben sedang kasmaran jadi aneh gitu, kasihan nasib Clara" jawab Harry sambil mengikuti pasangan gesrek yang sudah berlari duluan
^^^
Sementara itu tak jauh dari situ tampak sepasang mata dari seorang nonik Belanda berambut merah menatap kedekatan Ben dan Clara dengan ekspresi mengerikan.
Tak beda jauh dengan bule bermata biru yang sedari tadi melihat kejadian didepannya, aura gelap sudah melingkupi seluruh tubuhnya.
"Siallaan....udara malam hari ini sangat menyebalkan, aku butuh pelampiasan"
Matanya menatap tajam perempuan yang tadi sempat berdebat dengan Clara, bibirnya tampak menyeringai seram, lalu segera menarik kerah jasnya, lalu memakai penutup mulut dan topi yang selalu dia bawa kemana-mana. Tanpa mengatakan sesuatu segera mengikuti perempuan tersebut
"Ini ....lakukan yang aku suruh, beri pelajaran kepada j***g pribumi kotor itu, nanti setelah selesai kuberikan sisanya, pokoknya lakukan yang aku suruh" ucap perempuan itu sambil memberikan dua lembar uang, kemudian beranjak pergi menuju rumahnya.
"Baik nonik" jawab 3orang centeng berwajah sangar lalu segera beranjak pergi
Tetapi baru 4langkah, tampak didepan mereka seorang pria bule yang memberikan 2gepok uang sambil berkata
"Jangan lakukan perintah perempuan itu, dan kalian bekerja untukku....sekarang ikuti aku" ujarnya dingin
Melihat uang sebanyak itu membuat para centeng langsung matanya ijo dan tanpa pikir panjang menganggukan kepalanya lalu berjalan mengikuti pria bule tersebut.
Lama kelamaan Monica merasa ada yang mengikuti dibelakangnya, lalu segera menghentikan langkah sambil melihat ke belakang
"Siapa itu?" tetapi dibelakangnya sepi dan tidak terlihat siapa-siapa, Monica menelan ludahnya kasar dan kembali melanjutkan langkahnya menuju jalan setapak menuju rumahnya.
Saat jalanan semakin sepi, bayangan hitam mulai keluar menunjukkan dirinya, melihat itu Monica segera mempercepat langkahnya, namun baru beberapa langkah tampak di depannya sesosok tubuh berbadan tinggi besar dengan memakai topi fedora hitam dan wajah tertutup kain berwarna hitam hanya menunjukkan matanya saja, mata birunya yang menatap dirinya dengan tajam, penuh dengan aura membunuh.
"Kkk-kamu siapa?"tanyanya ketakutan dan tanpa sadar memundurkan langkahnya "Dan kamu mau apa?"
Tetapi pria tersebut, tidak menyahuti bahkan malah berjalan mendekati Monica
"K-kkamu mau uang?" tanya Monica dengan ketakutan lalu segera mengeluarkan, saking ketakutannya uang yang berada didompetnya berhamburan, membuat Monica segera berjongkok memunguti uangnya "I-nni ambil semua ya"
"Lalu kamu mau apa?"
Dengan seringaian mengerikan dibalik penutup mulutnya, pria itu semakin berjalan mendekati Monica
"Hari ini bukan hari keberuntunganmu"
"Aaapa mak.."
Belum sempat Monica menyelesaikan ucapannya, pria tersebut langsung melayangkan tinjunya ke arah muka Monica yang langsung membuat Monica jatuh pingsan seketika.
"Ciih menjijikan" umpat pria bule tersebut sambil membersihkan tangannya yang sudah dia pakai untuk memukul Monica
"Bawa tubuh wanita ini" perintah pria tersebut kepada tiga centeng bayarannya yang terlihat terkejut melihat majikan baru mereka.
"Baik Meneer..."ujar mereka serempak lalu mengangkat dan memanggul tubuh Monica seperti karung beras
"Mister....bukan Meneer"
"Bbbaik mister"
"Kalian tahu tempat atau gudang kosong terdekat dari sini yang tidak pernah didatangi orang lagi"
"Saya tahu mister, mari ikut saya" ujar salah satu centeng, lalu semua segera membawa tubuh Monica ke tempat tersebut
Ternyata bekas gudang beras yang kondisinya sudah sangat rusak dan jauh dari pemukiman penduduk
"Ikat perempuan itu lalu ambilkan air" perintah pria bule tersebut sambil melipat tangannya sambil mengawasi para centeng itu bekerja.
Setelah semua sudah dilaksanakan, air tersebut di siramkan ke kepala Monica, membuat Monica teebangun dari pingsannya lalu menatap sekitarnya bingung
"Berniat menyakiti wanitaku eeh...." ujar pria tersebut ambigu sambil menaikkan dagu Monica yang terlihat ketakutan.
"Aku tidak pernah berniat menyakiti wanitamu meneer, mana berani aku menyakiti sesama Holander Meneer"
"Lepaskan aku Meneer akan kuberikan berapapun uang yang kamu minta, ayahku seorang komandan batalyon pasukan VOC"
"Oooya??"
Mendengar bahwa pria tersebut kelihatannya mulai mengerti siapa dirinya, membuat Monica tersebut puas..." Maka dari itu, lepaskan aku dan biarkan aku hidup maka ayahku akan memberi apapun yang kamu minta" bujuk Monica
"Tapi.....sayangnya aku tidak menginginkan itu semua" jawab pria tersebut yang semakin mendekat ke arah perempuan tersebut dan tanpa aba-aba menarik rambut Monica sehingga kepala Monica mendongak ke arahnya "Yang aku inginkan hanya nyawamu"
"Tolooong jangan bunuh aku, aku janji tidak akan macam-macam, lagipula jika terjadi apa-apa maka ayahku tidak akan diam saja, kamu akan dihancurkannya"
"Hahaha bahkan ayahmu tidak akan bisa menyentuh diriku, sekarang diam dan nikmati saja rasa sakitnya" bisik pria tersebut ditelinga Monica sambil menempelkan pisaunya di pipi Monica lalu mulai mengukir sebuah bintang ke pipi Monica
"Aaargh....sakiit, aku mohooon lepaskan aku" teriak Monica sambil menangis
"Diaaaam!!!! aku paling benci melihat wanita menangis"
"Dasaar perempuan lemah, bikin aku malas bermain-main denganmu" ujar pria tersebut lalu mengeluarkan sarung tangannya lalu mengeluarkan sebuah botol kaca berwarna hijau lalu menyiramkan ke tubuh dan kepala Monica, membuat Monica berteriak kesakitan dan mati seketika karena cairan yang disiramkan itu adalah cairan campuran asam sulfat H2SO4, asam nitrat HNo3 dan asam clorida Hcl
Ketika mati tubuh Monica dalam kondisi rusak sehingga tidak bisa dikenali lagi, membuat tiga centeng langsung muntah-muntah dan ketakutan melihat kebengisan majikan barunya.
"Jika kalian berani kabur ataupun buka mulut maka kalian akan menjadi seperti ini" ucap Pria bule tersebut meski terdengar tenang tetapi membuat mereka sangat bergetar ketakutan.
"Tidak mister, kami tidak akan berani" seru mereka ketakutan.
"Pakai sarung tangan ini, lepasi perhiasannya lalu kalian buang ke sungai, lalu bakar bajunya....lakukan dengan cepat!!" perintah pria tersebut lalu melepas sarung tangannya dan membersihkan pisau kesayangannya sambil mengawasi anak buahnya bekerja.
Setelah semuanya sudah selesai, pria tersebut menutupi mayat Monica dengan sebuah kain yang berada di gudang tersebut yang biasa untuk menutup jerami supaya tidak terbang tertiup angin.
Pria tersebut memberikan dua gepok uang lagi ke para centeng tersebut "Ikut aku maka akan banyak uang lagi yang akan kalian terima" lalu meninggalkan ketiga centeng yang bingung
Pria tersebut berjalan santai sambil bersiul riang, diikuti ketiga centengnya baru yang akhirnya memutuskan ikut
Saat sampai, pria bule tersebut memandang Mamat dengan muka terkejut
"Maaat....Nyai dan rombongan belum kembali?"
"Belum mister, padahal sudah sepi ini"
Mendengar itu membuat pria tersebut yang ternyata Phil langsung pucat, tidak mungkin Raras dan rombongan pergi tanpa membawa barang-barang berharga mereka
"Heeh kalian bertiga siapa nama kalian?!"
"Saya Akri, dia Jaja dan Daus mister"
"Akri dan mamat cari Nyaiku kearah sana, Daus kamu dan aku ke arah sini dan Jaja jaga barang aku disini" perintah Phil lalu segera berlari mencari Clara
"Sialaaan....gara-gara perempuan j***g itu aku kehilangan istriku" umpat Phil yang merasakan sesuatu hal buruk akan terjadi
...***...
...TBC...
...Mianhae ya kemarin kerjaan lembur sehingga gak sempat nulis πππ£...
...Aku usahain hari ini double Up yessπ...
...Permintaan kalian untuk saling bunuh sudah kukabulkan ya, semoga suka yahππ...
... ...