Nyai Raras

Nyai Raras
Episode 98 Rayuan Yang Susah Ditolak



"Eh Papi...tante dan Raksa" ucap Clara dengan mengerjap-ngerjapkan matanya ala-ala puppy eyes dengan tersenyum dibuat seimut mungkin.


"Gak usah pasang muka memelas gitu, bisa kamu jelaskan kepada papi Olivia Clara Maharani Wiguna" ujar Sebastian sambil melipat tangannya ke dadanya menahan emosi.


"Mas....biar Lena yang bicara, mas diem dan duduk anteng saja, ngertii!!" bisik Lena dengan nada ancaman sambil mencubit pinggang kakaknya Sebastian membuat Sebastian meringis kesakitan dan dengan setengah hati kembali duduk manis.


Wanita paruh baya bernama lengkap Maghdalena Wiguna, yang merupakan adik satu-satunya, bergegas mendekati keponakan yang sudah dianggap putrinya seperti Nadia.


"Ra..kamu tidak kenapa-kenapakan sayang?" Lena menyentuh pipi Clara karena khawatir, lalu memeriksa seluruh tubuh Clara, kemudian memeluk tubuh Clara.


"Kenapa kamu gak ngabarin tante, malah Josh yang yang mengabari kepulanganmu, kamu membuat tante khawatir dan jantungan"



"Tantekan sudah pernah bilang anggaplah tante mamamu, bukankah dari kecil kamu sudah sama tante dan Nadia.......kenapa menghilang selama hampir satu bulan"


Clara pada awalnya terkejut karena dipikirnya dia akan dimarahi 3 macan keluarga Wiguna ini, ternyata tante Lena bahkan memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Maaf tante" jawab Clara diliputi oleh rasa bersalah kepada tantenya "Clara lupa memberi kabar ke tante"


Lena seketika melepaskan pelukannya sambil melototkan matanya.


"Bisa-bisanya kamu melupakan tantemu sendiri, kebiasaan banget kamu ini. Kalau kamu melupakan papimu yang kaku dan menyebalkan itu tante masih ngerti...tapi tante mu yang cantik jelita ini sampai kamu lupa!!" seru Lena sambil menyentil kening Clara dengan keras.


Sebastian dan Raksa hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan lebay si ratu drama di keluarga Wiguna, yah siapa lagi kalau bukan kanjeng putri Lena Wiguna emaknya Nadia.


"Yaa maaf tante, namanya juga sedang kalut mana inget"


"Ngejawab terus kamu ini"


"Tan, marahnya ditunda dulu yah Cla mau ganti baju ini sudah kedinginan habis kehujanan ini" ujar Clara ingin mengalihkan perhatian tantenya.


"Ooooh iya diluar hujan.....eeeh kamu kan takut hujan, gimana keadaanmu Ra? badanmu panas?kamu sudah minum obat" serbu tante, papi dan Raksa yang teringat phobia Clara.


"Semua tenang, Clara sudah tidak takut hujan kok...jangan khawatir oke!"


"Apakah karena kamu yah?....... Clara sembuh karena kamu yah?" tanya Sebastian sambil menatap Aron tajam.


Mendengar pertanyaan Sebastian tiba-tiba sontak membuat Aron terkejut dan hanya nyengir.


Lena mendengus dan tanpa aba-aba langsung menjewer telinga Clara


"Dasar anak nakal!! kamu baru ngalihin topikkan?"


"Aduuuduuh tante ampun tante, sakiit" Clara meringis, telinganya terasa perih. Jeweran tante bar-barnya tidak main-main sakitnya.


Kemana perginya tante yang mengkhawatirkannya barusan?


"Ya udah sana kalian berganti baju dulu sana!!" ujar Raksa tegas.


Mendapat peluang dari Raksa, Clara langsung menarik tangan Aron untuk segera masuk ke kamar


"Ayoo Ben!!"


"Ben?? jadi ini yang dicari si ewet" gumam Raksa lirih dengan senyuman aneh ala raksa.


"Looo.....itu bule sontoloyo ngapain ikut ke kamar Clara, jangan-jangan?!!!" seru Sebastian heboh.


"Mas udah too, biarin aja kenapa sich!!!! kita bersyukur Clara sudah bisa tertawa, gara-gara pria itu....batal menikah bagi seorang wanita itu pukulan keras loo mas terlebih mengetahui pria yang akan dia nikahi adalah pembunuh ayahnya"


"Masih untung Clara tetap waras dan tetap berdiri tegak sampai saat ini, dan kelihatannya karena pria itu, jadi mas jangan berbuat macam-macam cukup diam saja biar Lena yang menangani"


Sebastian merasa apa yang dikatakan adiknya ada benarnya, maka dia hanya menganggukan kepalanya.


"Tapi masak mereka sekamar Len, padahal disinikan ada dua kamar"


"Kan kamar satunya penuh barang, udah to percaya sama putrimu itu...... dia sudah besar, pasti sudah bisa jaga diri, sekali lagi mas protes...Lena nggak bakal mbantuin mas saat Clara memarahi mas kalo mengungkit dia kamu paksa menikahi Lino"


Skak mat.....Sebastian langsung kicep, memang niatnya selalu mengajak Lena, karena takut dan merasa bersalah kepada Clara yang memaksanya menikahi Lino dengan kekerasan dan ancaman.


Tak beberapa lama keluarlah kedua pasangan tersebut dan kembali menghadap 3 macan Wiguna yang sudah menunggu mereka dengan duduk manis di ruang tengah apartemen.


"Ayo kita ngobrol sambil duduk ya nak Ben benarkan?"


"Iya tante, tante bisa memanggil saya dengan Ben dari Benim tante" ujar Aron sambil mengulurkan tangan dan tak lupa dengan tersenyum sopan.


Tak lama kemudian Lena menyambut uluran tangan Aron.


"Nama saya Maghdalena Wiguna, ato cukup tante Lena saja, tantenya Clara" setelah itu menarik tangan Wiguna dan melototkan matanya ke Sebastian untuk memberi kode supaya memperkenalkan dirinya juga.


'Haizzz dasar adik laknat, sabar-sabar' batin Sebastian lalu mengulurkan tangannya menyambut tangan Aron


"Sebastian Wiguna, papinya Clara dan yang itu Raksa Wiguna adiknya Clara" ucap Sebastian.


"Senang berkenalan dengan keluarga Clara, maafkan saya tadi sempat memberi kesan tidak baik" ujar Aron dengan sopan.


"Tidak papa nak Ben" jawab Lena dengan tersenyum lebar.


"Saya tidak mengira tantenya Clara masih sangat muda dan sangat cantik" ujar Aron sambil tersenyum.


"Apa benar?"


Seperti yang diduga, wajah Lena terlihat langsung bersinar cerah sesat setelah mendapat pujian.


"Iya tante"


"Aah Ben bisa saja kamu, buat tante jadi malu" Lena tertawa dan langsung pindah duduk disamping Aron sambil mendorong tubuh Clara menjauh dari Aron......sampai Clara hampir saja terjengkang jatuh dari sofa yang didudukinya bersama Aron.


Clara membuka sedikit mulutnya, seraya menggeleng tidak percaya, astaga bagaimana mungkin tantenya yang barbar dengan mudahnya tergoda oleh rayuan si Laron bin ulet....sungguh Terlaluuu (Rhoma irama.com) *dasar Clara maniak dangdut selalu aja disangkut-sangkutin dengan dangdut๐Ÿ™ˆ๐Ÿ˜ณ author POV*


"Tann....apaan sih, sakiit"


"Halah lebay kamu, cuman tersenggol sedikit saja langsung jatuh, gitu kok sempat jadi prajurit karir" ujar Lena sinis sambil melotot.


Okey Clara menyerah, the power of emak-emak tidak ada lawannya. Ben yang melihat interaksi antara Clara dan tantenya didepannya, menggerakkan bibirnya halus menahan tawanya.


Sesaat Clara menatap kearah Aron membuat Aron segera membuang mukanya dengan wajah datar


"Kamu tadi ngetawain Claa kan?"


"Nggak" jawab Aron dengan tenang


"Jelas-jelas tadi..."


Lena menghela nafas, lalu menghadap ke arah Aron.


"Maafkan keponakan tante ya nak Aron" ujar Lena yang terdengar lebih lembut ketika berbicara dengan Aron.


"Dia emang sering sering keras kepala dan menyebalkan seperti papinya itu, tapi aslinya baik loo"


Sebastian yang sedari tadi diam, dirinya dijelek-jelekkan hanya bisa mendengus kesal terhadap adiknya yang pura-pura tidak melihat kakaknya yang memasang muka jutek.


"Aaah iya saya sudah tahu dan sangat paham tante" ujar Aron. Alih-alih berbasa-basi dia malah mengatakan terang-terangan, dan dengan nada sesopan mungkin.


"Halah...halah nak Ben itu sudah ganteng, sopan dan sabar banget menghadapi Clara, terimakasih ya nak Ben" puji Lena lalu menolehkan kepalanya menatap Clara.


"Bener kan Ra?"



Clara yang ingin mengatakan sesuatu mengurungkan niatnya dan akhirnya Clara hanya memasang senyum aneh, duh tante Lena pake muji dia segala, bisa besar kepala dia.


Tante tidak tahu saja, dibalik wajahnya yang good looking, menyimpan kelakuannya yang aneh bin ajaib yang another level.


"Tante bisa aja"ujar Aron berpura-pura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung



Tentu saja itu berbanding terbalik dengan batinnya, Aron merasa sangat senang. Terutama yang memuji calon mertuanya.


"Apakah nak Ben pernah berpacaran gitu?" selidik Lena kepo diikuti tatapan Clara yang juga sangat kepo.


"Belum pernah tante, papa meninggalkan perusahaan dan perkebunan disaat Ben masih kecil...jadi hidup Ben hanya untuk belajar mengurus peninggalan papa, selain tidak ada waktu untuk memikirkan wanita,...... Ben baru nemuin wanita yang cocok baru dengan Clara tante" jawab Aron sambil melirik Clara dengan senyumnya.


"Tetapi sayang Clara itu masih belum percaya niat suci saya ini tan, tapi tante tenang saja Ben tidak akan menyerah, terlebih Ben juga tahu Clara harus menyelesaikan urusannya dengan dr Lino terlebih dahulu." ucap Aron dengan ekspresi samar.


"Kali ini tante akan mendukungmu 100% nak Ben."


" Kenapa kamu masih meragukan nak Ben Ra? Nak Ben itu udah baik, sopan terhadap orang tua, setia dan ganteng lagi....masalah Lino lupakan saja, tenang saja papimu sudah tidak akan memaksamu untuk menikahi Lino, ya to mas?" tanya Lena sambil menatap tajam ke arah Sebastian yang hanya bisa pasrah menganggukkan kepalanya.


Tidak ada jawaban dari Clara, gadis yang selalu mengaku-ngaku mirip dengan Raline Shah itu tampak menggembungkan pipinya.


Dia kesal, tantenya terus memuji Aron. Duh tantenya tidak tahu aja apa yang telah dilakukan Aron kepada keponakan kesayangannya ini, dahlah semerdekanya tante Lena aja.


"Kalian ini sama-sama bekerja di bos yang sama yang sama ya? kamu pasti juga mengalami banyak kesulitan yang sama ya nak Ben?"


"Hah?" Aron membeo tidak mengerti


"Maksud tante apa ya, maaf saya tidak mengerti"


"Jadi gini nak Ben, Clara itu sering ngeluh kalo bosnya yang bernama Laron bin Uler itu aneh, banyak maunya dan susah dihadapi, menurut tante mungkin karena dia itu perjaka tua yang gak laku kali ya nak Ben" gibah Lena penuh semangat 45.


"Uhuuuk...."


Aron yang mendengar itu sontak tersedak air liurnya sendiri sampai terbatuk-batuk sambil menatap Clara tajam.


Duuhh kenapa tantenya tahu darimana perasaan dia cuman cerita sama Raksa, maka Clara langsung melotot ke arah Raksa, tetapi Raksa pura-pura sibuk bermain hp tidak berani melihat Clara.


"Lhoo Ben apakah kamu baik-baik saja?" tanya Lena penuh perhatian.


"Ooogh tidak apa-apa tante" jawab Ben sambil menutup mulutnya masih terbatuk-batuk kecil.


"Tante terlihat sangat tidak suka kenapa tan? padahal bos baik loo"


Clara hanya mencibir dalam diam, hoax itu mah....baik dari mana coba aneh bin mesum iya terutama sekarang-sekarang ini hobi banget main cium-cium seenaknya. Tapi tentu saja itu dalam pikirannya saja.


"Iya tante benci banget sama dia, gimana tidak dia buat ponakan tante yang baru mencari ketenangan di sana malah dijadikan jongos dan selalu dibuat kesal setiap hari." ujar Lena berapi-api.


"Tan...udah dong" ujar Clara yang sudah merasakan aura Thannos yang sudah mulai menguar dari tubuh Aron yang menatap Clara dengan tatapan yang susah diartikan seakan ingin mengamuk.


"Diam kamu Ra...nggak lihat apa tante baru ngomong" semprot Lena dengan galak yang membuat Clara mengatupkan bibirnya sambil mendesah. Duuh tantenya tidak sadar situasi sudah beberapa kali dikasih kode Clara.


"Haaah putriku dijadikan jongos di Amerika? putri satu-satunya dari keluarga Wiguna!!" ucap Sebastian penuh emosi.


"Kenapa kamu gak cerita papi sich Claa, awas saja kalau papi ketemu muka tuanya papi bejek-bejek.


"Piii...bukan begitu" belum selesai Clara ngomong langsung diputus sama Sebastian


"Nggak usah takut Claa, papi akan menuntut si pria tua bangkotan itu tahu, siapa kamu sebenarnya" ucap Sebastian sambil memeluk bahu Clara.


Clara yang mendengar itu refleks langsung menepuk dahinya, sementara Aron shock mendengar calon mertuanya menghujatnya, sekali lagi menghujatnya gaess.


Aron memegangi wajahnya, diam-diam dia meringis ngeri, lidahnya kelu dan tubuhnya membeku, ini buruk dia sudah dibenci keluarga mertuanya.


Saat Aron hanya terduduk lemas, tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi, membuat Raksa segera membukakan pintu


Ternyata yang datang adalah Josh bersama Isabella dan dr Emma, sekilas Josh melirik Aron yang masih terduduk tidak bergerak, lalu segera duduk disamping Clara dimana sebelumnya sudah menyapa Sebastian dan Lena.


"Dia kenapa princess?"


Lena mengerjapkan matanya.


"Kalian kenal nak Ben?"


Josh dan Isabel serentak menganggukkan kepala mereka.


"Jelas kenal Tan, diakan tuan Aron Benim Ulker bosnya Clara yang dulunya bosnya Isabel" jawab Josh


Lena dan Sebastian terkejut lalu memandang Clara, Aron, Josh dan Isabel secara bergantian meminta penjelasan


"Mana aku tahu, akukan ikan" ujar Clara sambil angkat bahu, lalu menyandarkan kepalanya yang terasa pening di bahu Josh, Clara merajuk salah sendiri sejak tadi Clara sudah ingin memberitahu tetapi selalu dipotong, jadi bukan salah dirinya dong?


Aron cuman menunduk, Sebastian dan Lena sudah memasang ekspresi yang susah diartikan lagi.


'Duuhh bakalan susah ini melamar Clara' gumam Aron dalam hati sambil berpikir keras bagaimana caranya menaklukkan kanjeng Papi dan kanjeng tante ini nantinya.


...***...


...TBC...


...Bagaimana rencana Aron yah nantinya? Berhasil tidak ya titisan Ben yang di masa modern ini tidak bisa seenak udelnya untuk mendapatkan Clara?...


...Udah panjang loo ini, so jangan pada unjuk rasa kok sedikit ya ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜œ...