Nyai Raras

Nyai Raras
Episode 81 It's Not Goodbye But I'll See You Again



New York di tahun 2021


"Tuan.....tuaaan" teriak seorang butler memakai jas hitam dan berdasi hitam yang berlarian menuju atasannya yang sedang sibuk di depan komputer



"Ada apa Sam, katakan" jawab suara bariton atasannya


"Detak jantung Miss Jane akhirnya menguat, menurut para dokter, bisa dipastikan Miss Jane sebentar lagi terbangun" terang Sam membuat atasannya segera menghentikan kegiatannya didepan layar komputer.


"Dan akhirnya bisa saya temukan keluarga Miss Jane" ujar Sam sambil memberikan berkas ke majikannya.


Segera atasannya membaca berkas yang dibawa Sam dengan teliti dan kemudian tersenyum lebar.


"My Sleeping Beauty Princess ternyata bukan wanita sembarangan Sam, memang pantas sebagai nyonya muda Ulker ....siapkan pesawat kamu dan Sean ikut aku terbang menuju Indonesia"


"Sudah saatnya suami Schatje menemui ayah mertuanya" ucap pria atasan Sam sambil tersenyum beranjak berdiri dan memakai jas yang tersampir di kursi kebesarannya.


"Sam....kabari rs untuk memberi kabar ke keluarga calon keluarga istriku keberadaan istriku"


"Tuan Ulker...tapi anda harus tahu bahwa Miss Jane banyak pria yang menyukainya, terlebih dia adalah putri dari keluarga terkaya seasia selain wajahnya yang memang sangat cantik"


"Hahaha....jangan khawatir Sam, dia tau siapa suaminya" ujarnya penuh percaya diri lalu segera menuju mobilnya menuju ke bandara untuk terbang ke Indonesia.


Sam yang melihat polah atasannya hanya bisa menggelengkan kepalanya


"Tuan muda anda berubah setelah menemukan Miss Jane, Tuan besar putra anda ternyata seorang pria normal" ujar Sam lirih sambil melihat lukisan besar tuan besar Ulker di dinding mansion keluarga, kemudian segera mengejar tuan mudanya.


.


.


.


.


.


Kembali ke tahun 1896


Ben dan Clara segera menyiapkan sebuah perbekalan yang akan dibawa mereka besok, setelah itu mereka kemudian beristirahat


"Cla...."


"Hmm...."


"Maukah kamu berjanji padaku?" tanya Ben dengan muka serius.


Clara yang sebenarnya sudah mengantuk dan capai, mendengar suaminya yang serius segera membalikkan tubuhnya menghadap Ben.


"Janji apa?"


"Jika nantinya kamu bisa pulang ke masamu, hilangkan segala rasa dendam dihatimu, hiduplah bahagia disana"


"Suatu hari,ย kita kan bertemu lagi, Itu akan jadi hari membahagiakan, Aku akan mendatangimu seperti salju pertama, itu janjiku padamu...tunggulah aku ya" ucap Ben sambil memeluk erat Clara dan mencium pucuk kepala Clara.


"Kamu mengusirku Ben? bukankah Clara sudah bilang bahwa aku tidak mau balik ke masaku...aku akan habiskan umurku disini, bersamamu, dalam suka dan duka, dalam untung dan malang akan selalu bersamamu, menua bersamamu....apakah kamu meragukan janjiku dihadapan Tuhan kemarin" ucap Clara sedih.


Sambil mengusap pipi Clara penuh perasaan, "Mana mungkin aku mengusirmu hmm....baiklah-baiklah aku tidak akan mengungkitnya lagi, kita akan menua bersama dan mempunyai anak banyak" ujar Ben sambil memeluk erat Clara.


"Ben kita disana nanti tinggal dimana?" tanya Clara


"Tenanglah selama ini aku menyisihkan uang untuk membeli sebuah rumah dan sebuah perkebunan buah disana, jadi nanti kita hidup sebagai petani"


"Apakah kamu malu memiliki suami petani?"


"Haizzz....ndaklah, setidaknya aku tidak takut kamu berperang lagi, perkebunannya sekarang dikelola siapa Ben?"


"Pastor Frans bersama beberapa anak panti yang mengurus, kata Pastor perkebunanku sangat bagus panennya, jadi kamu jangan kuatir kita tidak akan hidup susah" ujar Ben bangga


"Akukan seorang dokter, aku bisa menolongmu mencari uang, jadi aku yakin hidup kita tidak akan susah Ben" ujar Clara sambil tersenyum kemudian mulai memejamkan matanya karena sudah terlalu mengantuk.


"Terimakasih sayang, sudah mencintaiku" ujar Ben kemudian menyusul Clara menuju pulau kapuk alias tidur nyenyak.


^^^


Paginya Donald,Wisnu, Harry dan Stefi sudah bersiap untuk berangkat, Donald memecah rombongan menjadi dua, rombongan pertama Wisnu, Ben, Clara, Mamat dan beberapa bawahan Wisnu yang semua menyamar sebagai penduduk pribumi, tak terkecuali Ben yang juga memakai baju berupa jas abu-abu dengan kemeja putih, di padukan dengan celana batik (pada masa itu banyak pribumi yang diperbolehkan menaiki kereta milik kompeni harus menggunakan busana


kultur Indisch, sebagai hibrida antara budaya Eropa (Belanda) dan berbagai budaya lokal Indonesia.) sedangkan Clara menggunakan kebaya berwarna putih dan berkerudung putih untuk menutupi potongan rambut Clara, dengan sapuan bedak dan liptint tipis, supaya terlihat benar-benar wanita.


Melihat istrinya yang terlihat sangat cantik membuat Ben langsung merengkuh tubuh Clara dalam pelukannya terlebih melihat mata Wisnu dan Donald menatap Clara tidak berkedip.


"Claa....buat tompel di wajahmu dan wajahku biar tidak dikenali orang" ujar Ben dengan bibir merucut.


Clara menghela nafas panjang berusaha sabar menghadapi sikap posesif suaminya


"Baiklah....ayo sini" ujar Clara mendudukkan Ben lalu kemudian menggambar tompel didekat mulut Ben


"Ben kenapa mukamu sudah aku buat tompel masih terlihat ganteng banget sich"


(Ealaaah Claaa ternyata bisa juga loe bucin๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ฎ*Author POV sambil geleng-geleng)


Mendengar pujian dari istrinya membuat Ben yang memang sudah mempunyai penyakit narsis akut, mulai kambuh lagi.


"Suami siapa dulu...suami SAH dari Olivia Clara Maharani Mahendra gitu loh" ujar Ben sambil menekankan kata sahnya sambil melirik Donald dan Wisnu yang auto bermuka sewot.


"Ayo gantian sini aku gambarin wajahmu biar terlihat berbeda" ujar Ben sambil mengambil pensil alis Clara.


"Awas ntar kalo mukaku jadi ajrut-ajrutan" ancam Clara


"Tenanglah Clara, percaya sama Benjamin Von Trapp" ujar Ben membuat Clara semakin ketar-ketir karena suaminya ini selain aneh tingkat ketengilannya sudah susah diukur.


"Nah sudah selesai....haizzz istriku makin cantik aja sich"ujar Ben sambil mencium kening Clara gemas.



"Heleeh kalian itu pasangan aneh, itu mah bukan tompel tapi tahi lalat dasaar!!" omel Harry yang jengah melihat keuwuan pasangan gesrek yang suka tidak tahu tempat.


"Iriiiii!!!!" seru Clara dan Ben berbarengan


"Udah sana rombongan pertama berangkat naik kereta, kita rombongan kedua naik kuda menuju pelabuhan" ujar Donald dengan kesal lalu segera naik kuda bersama Harry, Stefi, Jaja, Akri dan Daus beserta beberapa pasukan VOC yang menyamar memakai baju pribumi berwarna hitam dengan celana hitam khas busana pasukan hantu bercadar untuk mengelabuhi Bill.


Perjalanan Clara dan Ben naik kereta berjalan lancar, terlebih pasukan Wisnu melaporkan kereta aman tidak menunjukkan pertanda adanya Bill.


Rute rombongan Ben memang menuju pelabuhan Banten, kemudian menaiki kapal kecil menyusul rombongan Harry menuju pelabuhan Sunda Kelapa kemudian menaiki kapal menuju negara Belanda.


Ketenangan kereta yang ditumpangi Ben hanya bertahan sementara, saat kereta itu berhenti di stasiun Halte Noordwijk, tampak beberapa orang Kompeni berwajah mencurigakan menaiki kereta.


Ketika kereta mulai berjalan tampak pasukan kompeni tersebut mulai memeriksa satu persatu para penumpangnya ketika menemukan orang yang mereka curigai, mereka tanpa banyak bicara segera menembak mati ditempat membuat para penumpang berteriak histeris.


Clara dan Ben berusaha bersikap tenang, saat melihat pasukan itu mulai masuk ke gerbong mereka



Penumpang didepan Clara ditembak karena suaminya adalah seorang pribumi, membuat Ben ingin. segera membalas perbuatan mereka, tetapi tangan Ben segera digenggam erat oleh Clara untuk tetap tenang dan jangan menarik perhatian.


Ketika Clara dan Ben diperiksa oleh mereka, mereka hanya mengejek Clara dan Ben


"Pasangan Indo eeh?! ciiuh baguslah darah kotor bersatu dengan darah kotor, masih lebih baik daripada darah pribumi yang sangat menjijikan bersatu dengan kaum Hollander" ejek mereka kemudian melewati mereka dengan tertawa keras.


Tetapi tawa tersebut berhenti tepat di belakang kursi Clara tampak satu keluarga pasangan Hollander bersama seorang Nyai bersama kedua anak mereka.


Pasukan itu segera mengarahkan senjata mereka ke keluarga tersebut, tetapi belum sempat senjata meletus Wisnu sudah melemparkan jarum beracun dan pasukan Wisnu langsung memasang kuda-kuda siap bertempur.


"Waah....waaah benar seperti perkiraanku bahwa dikereta ini gesluierde geest (hantu bercadar) berada" ujar seorang pria bertubuh tambun yang tiba-tiba masuk gerbong melewati bangku Clara Ben diikuti 5 orang tentara bawahan Bill, yah pria tambun itu adalah Bill Van der Chord.


"Habisi mereka semua" seru Bill


Clara dan Ben melihat keadaan Wisnu dan pasukannya tidak menguntungkan membuatnya mau tidak mau mereka ikut terjun.


Clara segera melemparkan jarum beracunnya ke arah kelima pasukan Bill, sedang Ben segera mengalungkan tangannya ke leher Bill sambil mengarahkan pistolnya ke kening Bill.


Tetapi Bill yang merupakan komandan pasukan berani mati milik VOC memang patut diacungi jempol meski berbadan tambun, tetapi sangat lincah, sehingga berhasil berkelit dan berhasil kabur saat pasukan di gerbong tersebut dengan nekat menyerang Wisnu, Clara dan pasukannya.


Ben mengejar Bill, membuat Clara terkejut ikut mengejar suaminya.


"Ben hati-hati jangan gegabah!!" teriak Clara saat melihat Ben melompat ke gerbong dibelakang gerbong tempat Clara.


Clara melihat Ben bertarung dengan Bill yang sanggat kuat, bahkan Bill menembak rantai penghubung antar gerbong, sehingga gerbong mereka terpisah.


Tetapi Clara melihat bahwa Ben berhasil memenangkan pertarungan dengan menembak Bill, sehingga Bill terkapar jatuh.


"Cla....tunggu disitu, Bill sudah mati!!" teriak Ben yang melihat istrinya khawatir.


Tetapi tiba-tiba terdengar dua tembakan keras menerjang tubuh Ben, membuat Clara berteriak melihat suaminya tertembak.


"Beeeen!!" teriak Clara tanpa memperdulikan teriakan Wisnu dan suara tembakan, Clara meloncat dari kereta dan berlari menuju gerbong Ben.


"Raras awassss!!!"



"ik hou zo veel van je mijn schatje (i love you so much my sweatheart) kita akan bertemu lagi" teriak Ben dengan wajah tersenyum kemudian terjatuh



...***...


...TBC...


...Mianhae baru up malam-malam yah๐Ÿ™๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜Š...


...udah gitu bikin nangis pula๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜...