
"Kagak liat apa, dokter secantik dan sejenius gue loe jadiin Gundikmu??!! Sampai tahun Kadal gue kagak mau!!" bentak Clara saat akhirnya dia inget bahwa Nyai\=Gundik alias simpanan orang Belanda untuk melayani semua urusan bule termasuk urusan ehhem...ehem (loe tahukan maksud gue)
Bentakkan Clara hanya ditanggapi bule gila yang bernama Benjamin Von Trapp dengan santai sambil menggaruk telinganya.
"Suaramu jelek sekali dan bahasa yang kamu pakai aneh, tapi saya sedikit paham maksud dari ucapanmu itu" ucap Ben dengan logat Belanda medok sambil tersenyum sinis lalu mendekat ke telinga Clara dan berbisik.
"Bukankah lebih baik hanya melayaniku seorang daripada para prajurit Belanda yang sedang menatapmu dengan lapar gadis barbar" bisik Ben dengan tenang dan jangan lupakan senyuman licik seorang Benjamin Von Traap
Gleeg.....dengan susah menelan Saliva nya sambil melihat banyak prajurit Belanda sambil mengarahkan senapannya dan menatap Clara dengan penuh nafsu.
"Gimana gadis barbar?" tanya Ben sambil menaikkan salah satu alisnya
Sambil mengumpat-umpat dalam hati Clara dengan terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Mulai sekarang jangan dibiasakan memaki-maki aku meskipun hanya dalam hatimu, ingat aku adalah TUANMU!!!" ucap Ben sambil berbisik di telinga Clara dengan seringaian khasnya.
"Iya iya BuRap (Bule Sarap)" ucap Clara dengan malas.
"Apa itu Bu...apa tadi katamu?? Mulai sekarang kamu harus panggil 'Meneer Ben...paham kamu?!" perintah Benjamin dengan tegas
"Meneer bukannya beras yaah??"tanya Clara yang tidak paham bahasa Belanda, dan hanya mengingat dulu papinya selalu bilang menir itu beras.
Pleetak.....sambil menyentil dahi Clara Benjamin menjelaskan "Meneer itu artinya tuan..."
"Awwwww...."pekik Clara sambil mengusap jidat nya yang memerah.
"Ya sudah, ayo ikut aku pulang tidak usah berisik...aku tidak suka cewek berisik" ajak Ben sambil beranjak meninggalkan rombongan prajurit Belanda dan para Holander, yang sebelumnya sudah disuruh Benjamin untuk diobati beberapa luka habis dihajar oleh Clara.
"Nonik...gimana nasib kita ini?" teriak para bule yang ketakutan ditinggal pergi Clara
"Tenang ajah, besok aku obatin oke!!" teriak Clara sambil mengacungkan ibu jari keatas dan tetap berjalan mengikuti Ben sambil cengengesan geli melihat para bule yang mukanya auto panik ditinggal Clara.
Clara hanya bisa berjalan memanggul tas dan menenteng tas mengikuti Benjamin yang naik kuda, sedangkan dia hanya berjalan kaki sambil mengumpat dan merutuki nasibnya.
"Meneer ....bantuin bawa tas Raras, berat ini" bujuk Clara sambil memasang muka memelas.
"Gak usah manja, tadi aja bisa menghajar para Holander sekarang ngeluh tidak kuat bawa tas" ujar Ben dengan nada sinis.
"Haiz....dasar burap, pria sadis gak mau membalas budi, tahu gitu kemarin gak aku obatin dan biarkan mati di hutan" gumam Clara pelan.
"Aku dengar umpatanmu Aras...kalo aku nggak balas budi tadi aku biarkan kamu menghadapi para tentara sendiri, jika kamu kalah kamu dijadikan pelacur mereka"
"Kamu mau begitu?...... udah ditolong masih ngomel, kalo kamu tidak aku jadikan Nyai aku kamu akan tinggal dimana hah?....hah???...warga pribumi tidak memiliki tempat tinggal kecuali kaum bangsawan, memangnya kamu kenal salah satu bangsawan ?? tidak kan!!" omel Ben.
"Iya...iya...terimakasih meneer Ben yang paling baik sedunia" ucap Clara lebay sambil memberi hormat dengan menundukkan kepala.
"Haaa...akhirnya pandai juga kamu" ujar Ben angkuh membuat Clara semakin pingin nimpuk bule songong itu.
"Kita jalan masih lama meneer?air minumku habis ini"
"Ini pake air minum ku, sebentar lagi sampai...nanti ganti bajumu dengan baju yang sopan dan pantas tidak memakai baju seperti itu" perintah Ben
"Baju sopan? Woooi meneer bajuku ini sopan, semua tertutup tidak menunjukkan auratku" ujar Clara sewot.
"Memang tertutup tetapi melekat ketat, sehingga bentuk tubuhmu terlihat" ucap Ben tetap tenang.
"Ingat kamu Nyaiku, maka hanya aku yang boleh memiliki dan melihatmu, bersikap sopan dan jangan membuat malu serta mencoreng namaku" ancam Ben.
"Ooo iyaah, jangan bertarung dengan para Holander ataupun tentara KNIL...kuasaku terbatas tidak bisa terus melindungi mu" ujar Ben lagi dengan muka datar.
"Ya meneer, Raras paham" ucap Clara meski dalam hati masih ingin nonjok bule songong itu.
Tak lama kemudian sampailah disebuah rumah model kolonial meskipun tidak besar seperti rumah Belanda yang lainnya, tetapi terlihat bersih
"Ini rumah dinas ku selama di Mataram ini, entah sampai kapan aku disini, ayo masuk" ajak Ben sambil membukakan pintu.
"Selamat datang meneer" sapa seorang wanita paruh baya dan pria paruh baya menyapa Ben sambil menunduk hormat
"Ini Mbok Tukinem dan pak Darto, pembantu dan tukang kebon rumah ini" jelas Ben kepada Clara
"Hallo Mbok saya Raras Maharani,....... hallo juga pak" ucap Raras sambil memegang tangan Mbok Tukinem dan pak Darto.
Tetapi hal tersebut membuat kedua orang tua itu sujud ketakutan.
"Maafkan kami meneer, kami menyentuh nyai" ujar mereka dengan suara bergetar membuat Clara melongo bingung.
"Eeeeh...memang kenapa?kan cuman bersalaman" tanya Clara tepat ditelinga Ben membuat Ben terpaku, dalam sehari ini jantung Ben berdetak sangat cepat membuat Ben memerah mukanya.
"Eheem....ehem..karena seorang pembantu tidak boleh bersentuhan dengan majikannya" terang Ben lalu segera beranjak masuk ke kamar
"Mbok belikan Nyaiku baju kebaya yang sopan dan bagus, pake uang belanja dulu....nanti aku kasih lagi untuk uang belanja" ucap Ben datar.
"Baik meneer" jawab simbok.
"Mbok ....pak kalo dibelakang meneer, kalian bisa tidak perlu sampai nunduk-nunduk gitu, akukan lebih muda dari kalian, lagipula aku juga orang pribumi juga kok sama kek kalian" ucap Raras.
"Tapi Nyai...muka anda tidak seperti muka orang pribumi seperti orang indo (blasteran)gitu" ujar simbok.
'Haiz....pokoknya gitu, kalo kalian masih ngeyel Raras marah...paham ya mbok ...pak?!" ucap Clara tegas
"Baik nyai" jawab mereka serempak.
"Arasss....ambilkan makan siangku dan jangan banyak ngobrol, biarkan simbok segera pergi beli baju" teriak Ben dari dalam kamar.
"Baik Meneer" teriak Clara tidak kalah kerasnya.
"Araaas...jangan treak-treak ini bukan hutan" teriak Ben.
"Laah yang treak duluan siapa coba?...dasar burap" omel Clara membuat simbok dan pak Darto tersenyum geli.
"Araas aku tahu kamu mengumpat, buruan aku lapar" treak Ben lagi.
"Baik tuan Ben terhormat" treak Clara kekeuh tetap dengan suara toak masjidnya.
"Rumah ini bakalan rame ya bune" ujar Darto yang geli melihat majikannya
"Iyoo pakne, Nyai rumah kita ramah dan cantik banget, mulakno meneer Ben mau yo pakne"
"Hooh Alhamdulillah ya bune, aku pikir majikan kita tidak normal, ternyata selera nya cuantik banget, nonik Belanda lewat " ujar Darto sambil tersenyum lebar
"Mbok dapurnya mana?simbok masak apa?"tanya Clara.
"Sebenarnya simbok belum masak lauk Nyai, baru nasi yang sudah matang, ini malah disuruh mener pergi" ucap simbok.
"Ya udah aku aja yang masak mbok, buruan sana pergi, ntar si bule Ngomel-ngomel" ucapan Clara menuju ke dapur setelah ditunjukkan simbok dimana tempatnya
Setelah sampai di dapur Clara bingung mencari kompornya, lalu memanggil pak Darto bagaimana menyalakan api.
Pak Darto dengan tersenyum geli membantu menyalakan tungku batunya dengan kayu bakar.
"Nanti selalu dicek kalo kayunya habis, segera dimasukin lagi ya Nyai, saya mau beberes taman" ujar Darto
"Baik pak", lalu Clara segera mencari bahan yang akan dimasak dan geli karena tidak ada lemari es maka persedian ikannya ditaruh di sebuah kendi dari tanah liat berisi air dan ikan hidup.
Clara segera mengambil ikan mujair, segera membersihkan dan mengeluarkan bumbu-bumbu dari tasnya untuk membumbui ikan (Clara terbiasa makan masakan rumahan, jadi selalu membawa berbagai macam bumbu di tas, apabila ada kesempatan bisa memasak sendiri).
Sambil menunggu bumbu merasuk, Clara melihat seikat kangkung, cabai dan berbagai bumbu dapur yang ada disitu.
"Aras lama banget, kamu baru ngapain?" ujar Ben yang langsung terdiam melihat Clara terlihat terampil memasak dan hanya duduk didepan dapur sambil mengawasi Clara, yang belum sadar bahwa diperhatiin si bule.
...***...
...TBC...
...yeay double up gaess๐๐...