Nyai Raras

Nyai Raras
Episode 96 Forgiveness or Revenge?



Karena terlalu lelah menangis, Clara tertidur dalam pelukan Aron sambil duduk di depan perapian didalam kamar.


Aron yang melihat istrinya sudah tertidur segera mengangkatnya dan membaringkannya ke tempat tidur.


Setelah memastikan Clara sudah nyaman tidurnya Aron menemui Sam dan Sean untuk mempersiapkan keberangkatan mereka ke Indonesia, dan menyuruh Sam untuk mengurus perkebunan dan masalah pengadilan ibu tirinya.


"Kamu yakin membawa istrimu pulang? bagaimana jika dia malah memilih balikan ke dr Lino, dia bukan rival yang mudah kamu taklukan, meski dialah yang melakukan operasi papanya" ucap Sean mengingatkan Aron.


"Clara harus belajar mengenali bagaimana perasaan dia sebenarnya" jawab Aron dengan ekspresi susah terbaca menatap pemandangan kebun anggurnya dimalam hari.


Setelah selesai mengurus segalanya, Aron segera menyusul istrinya untuk tidur, Aron yang melihat istrinya tertidur lelap seperti seorang bayi, membuatnya tersenyum dan mengecup kening Clara sambil berbisik


"Please remember me Schatje" kemudian memeluk tubuh istrinya dan menyusulnya untuk tidur.


.


.


.


Saat pagi harinya Clara terbangun dalam dekapan hangat Aron, Clara sangat terkejut dan kebingungan apa yang terjadi kemarin malam yah?


Clara memandang Aron yang masih tertidur lelap disisinya, harusnya Clara marah karena si tukang modus ini memanfaatkan situasi dengan seenaknya main peluk-peluk dan tidur disampingnya, tetapi entah kenapa sejak dia terbangun dari komanya baru malam ini tadi dia bisa tertidur nyenyak dalam pelukan si bos laron ini, hal ini membuatnya bingung dan dengan perlahan tangannya mengusap pelan pipi Aron takut membangunkan Aron.


Tetapi sentuhan lembut tangan Clara membuat Aron secara perlahan membuka matanya lalu tersenyum.


"Kamu sudah baikan hmm...?" tanya Aron sambil mengusap matanya yang masih mengamtuk.



"Iya sudah....apakah kita jadi pulang ke Indonesia Ben?"tanya Clara.


"Jadi penerbangan nanti malam, hari ini aku selesaikan dulu masalah perkebunan dan masalah pengadilan bersama para pengacaraku dan pengacara pakde.


"Kamu dirumah saja bantuin aku menata baju dikoper dan ajak pakde dan mbak Galuh keliling perkebunan terserah kamu" ujar Aron dan kemudian mencium bibir Clara sekilas.


"Morning kiss dulu" ujarnya lalu beranjak masuk kamar mandi.


Sedangkan Clara yang memang nyawanya belum terkumpul 100% hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya dan mengusap bibirnya.


"Perasaan ciumannya sama dengan siapa ya?" gumam Clara lalu mengacak rambutnya karena tiba-tiba ngeblank lalu berteriak.


"Dasaaar tukang modussss!!!!"


Dikamar mandi Aron tersenyum lebar, "Bibirnya masih sama tetap beraroma strawberry"


" Sabaaar....sabaaar ya Arthur, kamu sudah bersabar ratusan tahun untuk bertemu soulmatemu, ini tinggal berapa hari lagi habis itu kita bisa bebas bermain track-trackan di terowongan soulmatemu" bujuk Aron kepada adik kesayangannya yang sudah mulai bangun unjuk rasa seakan tahu bahwa Neng Guinevere soulmatenya sudah berada di dekatnya (transformasi Bentor jadi Arthur🙈😅 *Author POV sambil meringis).


^^^


Penerbangan dari Oregon-Jakarta ditempuh selama 26jam 43menit, berangkat pukul 23.50 waktu Portland dan sampai di Jakarta pukul 06.00 WIB.


Pakde Joyo dan mbak Galuh masih tinggal di Oregon karena pakde Joyo masih ada pertemuan bisnis dengan beberapa rekannya di US.


Karena sampai di Jakarta masih sangat pagi, Clara memilih pulang ke apartemen milik Josh daripada pulang ke rumah papinya, Clara belum siap menerima kehebohan tante Lena dan papinya, terlebih badannya masih mengalami jetlag sehingga mereka berdua memutuskan seharian cuman tidur di apartemen dimana makanan mereka hanya order via online.


Baru di hari selanjutnya Clara didampingi Om Hidayat pengacara papanya yang merupakan kepercayaan Clara dan Aron menuju Ruang tahanan atau penjara militer di Markas Polisi Militer Kodam Jayakarta (Mapomdam Jaya), Jakarta Selatan.


Om Hidayat sudah mengatur pertemuan antara Clara dengan keluarga Pradipta


Sesaat akan masuk, tampak Clara sangat gelisah dan ragu untuk masuk.


"Ayo masuk Cla, aku temani" ujar Aron sambil menggenggam erat tangan Clara yang sangat dingin.


"Sttt....everything is gonna be fine, apapun keputusan yang kamu ambil, aku selalu mendukungmu dan selalu disisimu" bisik Aron sambil mengecup kening Clara kemudian, mengajak Clara masuk.


Saat memasuki ruangan tampak ketiga pria dari keluarga Pradipta sudah menunggunya


Clara yang pada awalnya hanya menunduk dikejutkan oleh ucapan Aron.


"Apakah ada yang kalian ucapkan untuk Clara?" ujar Aron dengan memasang wajah datar andalannya.


"Kamu siapa?" tanya Anton sambil melihat tangan Aron yang selalu menggenggam tangan Clara.



Clara yang melihat ekspresi wajah Aron yang sudah mau mengeluarkan 1001 kata-kata julid yang sering membuat orang emosi langsung segera menahannya sambil berkata.


"Ben...biarkan Claa yang bicara yah, Ben anteng saja disini" bujuk Clara lembut membuat Aron yang belum pernah mendapatkan perlakuan lembut dari Clara hanya mengangguk-anggukan kepalanya patuh dan tersenyum senang.


Lino yang mendengar nama Ben yang disebut Clara sangat terkejut, karena beberapa kali saat Clara masih koma Clara selalu menyebut nama Ben, terlebih saat melihat dijari tangan mereka dan dipergelangan tangan mereka Lino melihat sepasang cincin dan gelang yang sama, membuat dadanya terasa nyeri.


"Bang...kenapa abang melakukan ini semua?apakah abang tahu resiko dari akan kehilangan ijin praktek abang, apakah abang sudah gila?" tanya Clara sambil meneteskan air mata.


"Ini keputusan yang terbaik yang bisa aku lakukan dik, pengakuan dan permintaan maaf buat keluarga korban memang harus kami lakukan kami bersalah, jadi biarkan kami menebusnya dengan cara yang benar" jawab Lino sambil memegang tangan Clara.


Wisnu yang melihat betapa tersakitinya putranya dan Clara, gadis yang dulu pernah dia hina tetapi ternyata sangat dicintai putranya membuatnya sangat menyesal kemudian bersimpuh di kaki Clara, semua kesombongan dan kearoganan seorang Wisnu Pradipta pada saat itu hilang tanpa bekas.


Clara yang melihat Wisnu wajah yang sangat dia benci selama ini membuatnya tersenyum pedih, jadi selama ini dia sudah mendendam selama 12tahun pada orang yang salah, ironis sekali...mengesalkan!! keluhnya.


"Huh menyebalkan setelah sekian tahun kamu bersandiwara sebagai orang terkejam dalam hidupnya. Sekarang kamu juga akan mengatakan bahwa itu pura-pura untuk menutupi kesalahan putra sulungmu. Apakah itu tidak terlalu seenaknya tuan Wisnu Pradipta yang terhormat?" ujar Clara menahan kemarahan.


Wisnu melihat mata Clara tampak masih sama seperti 12tahun yang, mata yang penuh kebencian dari seorang gadis berbadan mungil, mempunyai kulit yang sangat putih, dengan bibir kemerahan dan rambut hitam panjang, kenapa Wisnu baru menyadarinya saat ini, ternyata dia memang benar-benar sudah tua sampai tidak mengingat ini semua.


"Maafkan aku Clara, aku tidak bermaksud mempermainkan hidupmu. Aku mengakui keegoisanku yang hanya memperdulikan keluargaku tanpa memperdulikanmu dan Rizky, bukan hanya kalian berdua, tetapi aku juga mempermainkan hidup beberapa orang seperti bola pingpong yang bisa kukendalikan sesuka hatiku untuk melindungi Lino dan Anton, aku tidak bisa berpikir lain, hanya itu yang bisa terpikirkan untuk melindungi mereka, aku tidak mau masa depan kedua putraku hancur, aku sudah berjanji terhadap istriku yaitu mama Lino untuk menjamin kebahagiaan mereka yang sudah dia pertaruhkan habisan-habisan dengan nyawanya" ujar Wisnu dengan nada memohon.


"Akupun juga seorang putri kebanggaan seorang ayah, anda seharusnya tahu bagaimana seorang ayah yang melihat putri satu-satunya anda perlakukan seenak-enaknya. Aku tidak akan menuntut anda dan rumah sakit jika anda tidak memperlakukan kami seperti hama pengganggu, aku hanya menuntut penjelasan dan pengakuan bahwa terjadi kesalahan atas operasi yang dijalani ayahku, hanya itu!!! Aku dan Rizky mendendam terhadap anda selama 12tahun bukan hanya malprakteknya, tetapi perlakuan yang kami terima, kami tahu tidak ada gunanya menuntut, tetapi keputusan andalah yang membentuk dendam di hati kami!!" tutur Clara dengan nyaring tetapi sarat kepedihan, matanya berlinang air mata dengan tangan terkepal hingga kuku jarinya memutih dadanya terasa sakit dan hampa.


Sambil memegangi dadanya yang semakin sakit, nafasnya tercekat dan tubuhnya gemetaran.


Melihat itu semua Aron segera memeluk tubuh Clara menenangkan.


"Calm down schatje....take a deep breath" ujar Aron sambil mengusap punggung Clara lembut.


"Bawa aku pergi Ben, aku capek dengan rasa dendam ini tak berkesudahan" bisik Clara diantara isak tangisnya.


"Baiklah ayo kita pulang" ujar Aron kemudian membawa Clara keluar dari ruangan tanpa memperdulikan tatapan penuh luka dari Lino.


Sesaat setelah kepergian Clara, Anton yang merasa iba terhadap kakaknya lalu berkata.


'Siapakah pria itu kak?"


"Dialah sainganku yang sebenarnya seperti yang dikatakan Josh sebelumnya....dan ternyata memang sangat berat untuk mengalahkannya" gumam Lino lirih.


Saat diluar Clara berbicara dengan pengacaranya.


"Om lakukan segalanya untuk menyelamatkan karir mereka sebagai dokter, mereka dokter hebat" ujar Clara kemudian pergi bersama Aron untuk kembali ke apartemennya.


...***...


...TBC...


...Maaf ya baru malam-malam Up nya🙏😊...