Nyai Raras

Nyai Raras
Episode 77 Kenyataan Yang Harus Di Terima



Clara dan Ben akhirnya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan semut-semut disekujur tubuh mereka berdua


"Kamu sih Claa pake ngintip ucup, bentol dech badan aku"


"Yeee...tadi siapa yang pingin tahu ucup mau apa?"


"Sini Clara obatin pake salep, nanti gantian ya"


"Iya buruan, duuh gatel banget" gerutu Ben


Setelah keduanya sudah memakai salep gatal, Clara segera mengganti bajunya dengan kebaya yang dia pinjam dari Jainab, sebuah kebaya katun berwarna dusty pink dengan kutubaru warna putih dan kerudung warna hijau muda soft baju adat Betawi, Clara memoles wajahnya dengan riasan flawles natural, sehingga wajahnya terlihat cantik



Ben yang melihat penampilan istrinya yang cantik tersenyum lebar, Ben yang memakai jas dan kemeja milik dr Anton dibantu Clara memasang dasi warna senada dengan jasnya membuat penampilannya sangat tampan hari ini, Clara menyisir rambut Ben dan mencukur kumis dan jambang Ben yang sudah mulai tumbuh diwajahnya


"Naah sudah ganteng suamiku sekarang" ujar Clara sambil tersenyum memandang wajah Ben dan mengusap pipinya lembut


"Dari dulu Claa, .......kamu aja yang telat menyadarinya" ujar Ben penuh percaya diri.


"Ya....ya....Clara yang salah, Ben selalu benar ya toh?" gumam Clara sambil memasang muka cemberut


"Itu mulut di kondisikan dong, jangan kasih kode-kode yang buat Bentor bangun" ujar Ben dengan watados.


'Kode-kode?....hiiiih apa gak bisa di pikiran Ben selain mikirin si adiknya yang ya ampuun ukurannya ....omoo....omooo πŸ™ˆ'


' Fiiks otak dr Clara Maharani memang sudah terkontaminasi otak mezoemnya si burap' batin Clara teringat kegiatan panas mereka kemarin malam membuat muka Clara memerah



"Ayo Cla...kita segera menuju ke altar, pastor Henry pasti sudah bersiap, gak usah bayangin yang enak-enak dulu ....sabaar yaah." ajak Ben sambil mengulurkan tangannya ke Clara.


Clara menyambut tangan Ben sambil mukanya memerah karena ketahuan Ben berpikiran mezoem, mereka berjalan menuju altar gereja Portugis, tampak lampu gantung berisi lilin-lilin putih, bangku-bangku kuno tampak berjajar rapi



Tampak di depan altar pastor Henry sudah menunggu, ditemani beberapa anak kecil sebagai misdinar( pembantu pastur saat ibadah dimulai)


Saat Clara, tampak Hari memakai baju seragam tentara sedangkan Stefi memakai baju warna putih ditutup blazer warna coklat tua



Pastur segera mulai ibadat pemberkatan pernikahan dua pasang anak muda, sampai tiba pada janji nikah yang harus diucapkan


"Saya Benjamin Von Trapp berjanji dihadapan Tuhan dan Pastor sebagai pemimpin gereja, bahwa saya akan menjaga, melindungi dan mencintai istriku yang bernama Olivia Clara Maharani Mahendra, baik dalam suka maupun duka sampai di nafasku yang terakhir, bahkan untuk ratusan reinkarnasi yang akan terjadi saya akan selalu mencintainya" ujar Ben dengan nada pasti sambil menatap Clara dengan penuh cinta


"Saya Olivia Clara Maharani Mahendra berjanji dihadapan Tuhan dan Pastor sebagai pemimpin gereja, bahwa saya akan menjaga, mendampingi, melayani dan mencintai suamiku yang bernama Benjamin Von Trapp baik dalam suka maupun duka sampai di nafasku yang terakhir, bahkan untuk ratusan reinkarnasi yang akan terjadi saya akan selalu mencintainya" janji Clara dengan suara pasti.


Janji nikah itu diucapkan juga pasangan Harry dan Stefi.


Setelah mengucapkan janji pernikahan, dilanjut kan pemberkatan cincin pernikahan


"Cincin loe mana Cup?" tanya Clara melihat si Harry kebingungan mencari cincin


"Pastor saya hanya punya cincin dari ibu saya dan cincin ketentaraan ini, tidak apa ya Pastur" ujar Harry sambil tersenyum malu


"Cla...tuuch cowok yang kamu bilang romantis?!! diiih jelas romantis aku Cla sudah nyiapin cincin couple ini buat kita berdua, ya kan?" ujar Ben sambil tersenyum jumawa dan tidak lupa menaik turunkan alisnya menggoda Clara.


"Iya dech iya....suami Clara is the best dah" ujar Clara mengalah


Hanya suamiku si Ben burap ini yang tingkahnya super duper tengil, temannya kebingungan malah diolok-olok, untung Clara saya coba kagak beuuuh si Ben sudah di sliding ama Clara


Akhirnya upacara pemberkatan pernikahan selesai dan cincin sudah dipakai masing-masing pasangan, kemudian Clara dibantu Ben mulai memeriksa kondisi kesehatan anak-anak panti, sedangkan Harry dan Stefi membantu menyiapkan makanan di dapur


Kegiatan mereka selama mengungsi di gereja adalah membantu semua urusan Pastur Henry, dan ketika malam tiba Ben dan Harry sudah dijemput Phil dan pasukannya mencegah pasukan Bill yang menyerang pasukan hantu bercadar, Clara hanya diterjunkan sebagai perawat para korban setelah pertempuran.


Sampai suatu malam, Wisnu berlari menuju gereja


"Ben....markas kita mau diserbu, tolong kita....dimana Phil dan pasukannya?" tanya Wisnu panik


"Phil belum datang pangeran, kemarin katanya mau patroli dulu ke daerah sungai Ciliwung baru kemari"jawab Ben


"Itu Phil dan Clift....kalo begitu ayo bersiap Har" ajak Ben


Clara segera bersiap untuk ikut sambil memanggul tas peralatan obat-obatan.


Akhirnya Clara bersama rombongannya segera berangkat menuju rumah babe Sabeni yang sekarang biasa kita sebut daerah Rawa Belong, tidak terlalu jauh dari lokasi gereja Portugis.


Saat mulai mendekati rumah babe Sabeni tampak cahaya terang seperti ada yang terbakar, membuat perasaan Clara dan pasukannya tidak nyaman segera memacu kudanya semakin cepat


"Kita terlambat....." gumam lirik Wisnu


Clara melihat rumah babe Sabeni sudah di lalap api besar, membuat Clara panik segera turun dari kuda dan berlari mencari keberadaan keluarga Babe Sabeni sampai kemudian Clara menemukan beberapa mayat bersimbah darah


"Babeee!!" teriak Clara segera memeriksa keadaan Babe Sabeni yang ternyata sudah meninggal, kemudian beralih ke arah tubuh nyak Siti, anak-anak Jaenab dan kemudian ke tubuh Boim dan Jaenab.


"Nab....maafin Raras yaah, Raras terlambat" ujar Clara sambil memeluk tubuh Jaenab sambil menangis melihat keluarga barunya Clara disini semua meninggal dibantai secara sadis, bahkan anak-anak jaenab pun ikut dibunuh.


"Nyai....segeralah pergi, pasukan kompeni datang kembali" ujar para penduduk kampung Rawa Belong, yang selama Clara tinggal di rumah babe Sabeni selalu setiap pagi merawat kesehatan mereka


"Tidak Nyak, ayo bersama-sama kita berjuang bersama"


"Perjuangan Nyai masih panjang, pergilah Nyai biarkan kami membantu perjuangan bangsa kita mengusir para kumpeni" ujar Nyak Aroh


"Buruan Nyai....Meneer bawa istrinya untuk meninggalkan daerah sini"


"Selamat berjuang Nyai kesayangan kami....Merdeka!!!!!!" teriak para penduduk yang sudah membuat barikade berlapis dengan tubuh mereka yang saling bergandengan tangan erat


'Ras....ayoo!!" teriak Phil


"Ayoo sayang!!" ujar Ben sambil menggendong tubuh Clara lalu menaikkan ke kuda.


Clara akhirnya mengalah dan segera memacu kudanya sekencang mungkin mengikuti kuda Phil dan pasukannya, diikuti kuda Ben, Harry dan Wisnu meninggalkan kampung Rawa Belong


Dari kejauhan terdengar tembakan bertubi-tubi dan teriakan para penduduk, dan terdengar beberapa ledakan untuk meluluh lantakan perkampungan tersebut.


Clara yang mendengar itu semua membuatnya menangis sambil tetap memacu kudanya sekencang mungkin menjauh dari kampung Betawi yang sudah sangat disayanginya, tanpa bisa melihat ke belakang.


Betapa kejamnya sebuah peperangan, baru ini Clara melihat dengan mata kepalanya sendiri, hanya dalam hitungan detik kita bisa kehilangan orang yang kita kasihani tanpa bisa kita mencegahnya.


Di jaman ini Clara belajar untuk menghargai dan menjaga apa yang dimilikinya karena kita tidak akan tahu berapa lama kita bisa tetap bisa bertahan hidup.


...***...


...TBC...


...Mian ya baru pagi ini sempat Up, karena semalam rencana up cerita ini malah ada panggilan daruratπŸ™πŸ™πŸ™ˆ mohon dimaklumi ya kesayangan thoor...