
Philip, Harry dan Steffi memandang takjub keabsurban Ben yang diluar batas normal.
"Ayo pulang sudah malam!" ujar Ben lalu menyamirkan jasnya ke tubuh Clara
"Cla pakai sarungmu kembali....Cup ayoo pulang"
"Kamu bisa nyopir Cup?"
"Bisalah...luka kecil ini" jawab Ucup sambil menepuk dadanya sok kuat
"Phil kamu tadi naik apa tadi?" tanya Clara
"Itu naik kuda Nyai....silahkan kalian pulang terlebih dahulu, aku akan mengikat mereka dan membawanya ke inspekteur van politie" jawab Philip sambil tersenyum
"Oooo ya sudah, terimakasih ya atas bantuannya tadi...hati-hatilah y...." belum selesai Clara ngomong, sudah digeret Ben dan diangkat masuk mobil
Clara menatap tajam Ben, tetapi mau mengumpat marahpun rasanya Clara sudah malas.
"Iya...iya dingin yah, sini aku peluk"ujar Ben lalu memeluk Clara posesif membuat Clara memutarkan bola matanya malas
Sepeninggal rombongan Clara, Philip menyeringai mengerikan menatap para Centeng yang sudah terkapar tak berdaya, lalu mendekati salah satu Centeng yang tadi menguasai ilmu beladiri dan yang memberi tahu otak kejahatan ini
Sambil berjongkok Philip menatap tajam pria tersebut
"Siapa namamu?"
"M-mmamat Meneer"jawab Mamat Ketakutan
"Aku bukan orang Hollander, panggil aku mister paham!"
"Paham Mister" jawab Mamat
"Bagus...dari para centeng aku lihat hanya kamu yang mempunyai otak dan pandai beladiri, maukah kamu bekerja untukku?"
"M-mmau Mister" jawab Mamat pasti, kemudian Philip membalut luka di kaki Mamat sehingga darah tidak mengucur
"Bagus, bangunlah bantu aku mengikat itu..itu...dan itu" ujar Philip menunjuk pria-pria yang tadi duel dengan Clara
Dengan tertatih-tatih Mamat mengambil tali di kudanya dan mulai mengikat sesuai perintah Philip
"Mister yang lainnya bagaimana ini?"
"Tinggalkan saja mereka, mereka yang kamu ikat yang berani menyerang calon istriku, maka mereka harus dihukum" jawab Philip dingin
Setelah semua diikat dan dijadikan satu berbaris kebelakang.
"Kalian lihat ini....jika kalian berani mengusik calon istriku dan aku maka kalian akan seperti ini" ujar Philip dengan tetap tersenyum lalu mengeluarkan sebuah Belati lalu menusuk paha salah satu centeng berkali-kali.
"Aaargh .........ampun Mister"teriak centeng tersebut, sedangkan yang lain bergetar ketakutan bahkan sampai terkencing di celana nya. Mamat hanya memalingkan kepalanya karena tidak tega.
"Mat biasakan kamu melihat ini!!" bentak Philip membuat Mamat mengangguk ketakutan.
"Kamu bisa naik kuda Mat? nanti setelah ini selesai kita ke dokter untuk mengobati luka kakimu...kamu mengerti?"
"Bisa Mistee, ........mengerti Mister, terimakasih " jawab Mamat sambil mengangguk lalu segera naik ke kuda mengikuti Philip yang sudah terkebih dahulu diatas kuda.
"Ingat Mat...aku tidak suka anak buah banyak ngomong, jadi cukup menurut dan diam...paham?!!" ujar Philip meski lembut suaranya tetapi aura intimidasinya sangat kuat. Philip lalu segera memacu kudanya cepat sambil menyeret para centeng yang terikat tadi.
Sampai disebuah rumah Loji Belanda yang sangat besar, Philip menghentikan kudanya lalu memanjat pohon untuk mengawasi kondisi sekitar rumah tersebut, lalu melihat di sisi sebelah timur tidak ada penjaga sama sekali membuat Philip tersenyum lebar dan dengan segera turun dari pohon.
"Mister banyak tentara penjaganya, kita mau ngapain disini?lalu bagaimana mayat-mayat ini?" tanya Mamat bergidik ngeri melihat teman-temannya telah mati mengenaskan.
"Ayo kita ke arah timur ada pintu tanpa penjaga Mat"
Meski masih bingung tapi Mamat menuruti perintah Philip sambil berjalan mengendap- endap menggiring para kuda menuju pintu sebelah timur.
Saat di depan pintu, tampak pintu di sisi timur itu tertutup pohon perdu sehingga tidak terlihat dari luar dan pintunya sudah rapuh karena usia.
Dengan sekali hentakan pintu tersebut mudah terbuka
" Bawa mayat-mayat itu masuk dan ditaruh di disini" perintah Philip sambil berbisik ke Mamat
"Baik Mister" Mamat dibantu Philip segera menata mayat berjajar di tembok pagar rumah tersebut
"Tunggu aku disini, jika kondisi tidak aman segeralah pergi ke dokter Winston di penginapan Mawar di jalan Menduran, besok datanglah kembali di penginapan mawar kamar no 15, akan kuberi tugas baru"
"Baik mister"
Philip segera mengendap-ngendap masuk ke dalam rumah melalui jendela sebuah kamar yang tidak terkunci.
Setelah sampai didalam rumah Philip mencari kamar tempat targetnya, dengan menyeret dan membungkam salah satu pelayan yang baru berjalan di lorong.
"Katakan dimana kamar nona Elenor, berani berteriak dan berbohong lehermu aku gorok" ancam Philip yang saat ini sudah menutup setengah wajahnya dengan kain hitam dan memakai topi hitam.
"K-kkamar nona beeada disebelah kiri paling pojok di lorong ini tuan" ucap pelayan itu dengan suara bergetar, yang kemudian dipukul tengkuknya sehingga pingsan
Philip dengan berjalan mengendap-endap menuju kamar Elenor yang ternyata tidak dikunci, ... Philip segera masuk kamar secara perlahan.
Melihat Elenor sedang terlelap tidur, segera membungkam dan mencekik leher Elonor, membuat Elenor terkejut dan terbangun dan berusaha memberontak tetapi tidak bisa bergerak karena tubuhnya ditindih tubuh besar Philip.
"Ini peringatan buatmu supaya tidak menyentuh calon istriku,..... karena kali ini istriku tidak tergores sedikitpun maka aku tidak membunuh mu, tetapi......jika lain kali sampai tergores sedikit saja, maka kupastikan rasanya lebih menyakitkan dari ini" ucap Philip menggunakan bahasa Belanda sambil mencekik leher Elenor sampai matanya melotot.
Saat Philip merasa Elenor sudah mulai kehilangan nafasnya, dengan segera melepaskan cekikkannya.
Elenor segera terbatuk-batuk dan berusaha menarik nafas dengan rakusnya
"Kamu paham bukan Nona?" tanya Philip tetap dengan suara lembut tetapi menatap Elenor datar, membuat Elenor yang sangat ketakutan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Bagus.....gadis pandai, sekarang silahkan kamu tidur kembali" ucapan Philip kemudian memukul Elenor sehingga pingsan.
"Ciiih...gadis menjijikan" umpat Philip lalu segera membersihkan tangannya yang dia pakai untuk memukul dan mencekik Elenor, lalu mencari secarik kertas yang kemudian entah apa yang ditulis Philip dan mengambil sesuatu di meja rias Elenor, kemudian dengan tenang keluar dari kamar Elenor dan segera menuju ke tempat Mamat yang masih setia menunggu Philip sambil mengawasi keadaan
"Mat masukan ini di kantong Karto dan para centeng lainnya" perintah Philip sambil memberikan beberapa barang ke Mamat, lalu meletakkan kertas ditubuh Karto lalu dengan seringai mengerikan Philip segera beranjak pergi bersama Mamat meninggalkan rumah Elenor.
...***...
...TBC...
...Happy Weekend Gaess🙏😘...
...Besok Minggu no Update ya kesayangan, sambung lagi hari Senin Yess😊😊jadi jangan unjuk rasa ya🙈...
...Gumawo 🙏...