Nyai Raras

Nyai Raras
Episode 88 Kehancuran dr Wisnu Pradipta



Flashback on


"Pi....apa yang papi lakukan? bukankah Clara sudah selalu menuruti semua perintah papi selama ini?"


"Lagipula apa jeleknya Josh Pi? yah selain psiko tapi kita sudah mengenalnya sejak Clara SMA pi, 11 tahun pi....kita sangat tahu kualitas dia, sangat tahu besarnya cinta dia ke Clara sampai kemarin saat Clara terbaring koma kita bisa lihat dia bagaimana dia dengan setia mendampingi Clara meski papi usir berkali-kali"


"Sedangkan kak Lino masih mentingin kerjaannya di Yogya meski dengan alasan tanggung jawab dia sebagai dokter" ujar Raksa.


"Sudah selesai kamu ngomongnya? ....dengarkan ini untuk yang terakhir kalinya Diego Raksa Wiguna, papi tidak mau keturunan saudara papa... Abraham Mahendra dikotori adanya bibit psikopat, meski sehebat apapun seorang Joshua Seyfried"


"Hanya cuman alasan bibit bebet bobot lagi Pi? hallo... kita hidup di jaman milenial Pi, ayolah pi rubahlah cara pandang papi yang kuno itu!" ujar Raksa yang langsung mendapatkan tamparan keras dari Sebastian


"Tampar saja terus pi, tapi perlu papi tahu kemarin saat ada yang mau membunuh Raksa, Joshlah yang berhasil menyelamatkan Raksa sehingga dirinya yang ditabrak....padahal seharusnya tubuh Raksa yang berada di rs saat itu"


"Yang mendampingi Clara itu harus seorang pria kuat pi, kak Lino itu terlalu lembut ..." ujar Raksa kemudian berbalik meninggalkan Sebastian yang tercenung mendengar ucapan Raksa


Saat Raksa tepat di depan pintu "Jika sampai Kak Lino membuat kakak kesayanganku menangis, bahkan papi pun tidak bisa mencegah Raksa untuk menghancurkannya" ujar Raksa penuh penekanan lalu meninggalkan Sebastian.


Flashback off


Sejak saat itu Raksa selalu mengawal Clara kemanapun dia pergi termasuk merawat Josh dan membawa Josh pulang ke apartemen Raksa, Sebastian akhirnya mengijinkan Clara merawat Josh selama dalam pengawalan Raksa, Clara dibantu Isabel adik Josh yang datang ke Indonesia.


Lino sudah dipingit tidak boleh bertemu Clara sampai pernikahannya besok, sampai tiga hari sebelum pernikahan Clara harus ke rs untuk menemui Lino karena untuk fitting baju terakhir dan pengambilan foto prewed.


"Adik sudah lama?"ujar Lino kemudian mencium kening Clara


"Belum kok bang, barusan aja...abang habis operasi ya?"


"Iya...operasi ringan saja kali ini, yang berat-berat dialihkan ke papa dan Anton"


"Oooh, makan dulu yuuk bang...adik tadi masak di apartemen Raksa soto Bandung" ujar Clara sambil mengeluarkan rantang berisi nasi, soto, kecap dan sambal.



"Ini lobak dik?"


"Hemm....biar ngurangin negh bang, di ruang abang ndak ada sendok ya?"


"Hahaha mana pernah ada dik, kalau peralatan kedokteran banyak ntuh" ujar Lino sambil nyengir membuat Clara merucutkan bibirnya sambil mencubit pinggang Lino sebal membuat Lino tertawa.


Clara membantu menyiapkan makanan buat Lino, dan menuangkan minuman


"Abang mau jus jambu atau air putih?"tanya Clara.


"Air putih aja dik, abang gak begitu suka jus jambu" jawab Lino lalu segera makan soto buatan Clara


'Ben padahal suka banget jus jambu, aaah...kenapa sich susah banget ngelupain kamu Ben' monolog Clara dalam hati sambil menatap kosong


"Adik gak makan?kok cuman ngliatin abang makan aja?" ucap Lino


"Orang sendok dan tempatnya cuman satu..gimana adik makannya bang" gerutu Clara kesal.


"Hahaha maaf....maaf, sini abang suapin...gak usah ngomel-ngomel gitu kali dik, ntar pas nikah ada kriputnya loo" goda Lino sambil mengedipkan matanya genit.


"Abang iiiih genit" ujar Clara sambil memukul lengan Lino.


"Genit sama calon istrinya sendiri gak salah dik" ucap Lino sok wise.


Saat Lino memiringkan kepalanya dan terlihat lehernya.


"Bang....adik boleh lihat lehernya?" tanya Clara kemudian mendekati Lino.


Dasar Clara meski seorang dokter, tapi sering gak peka bahwa tindakan dan ucapannya yang ambigu bisa membahayakan..... lebih tepatnya membahayakan jantung orang yang mencintai dirinya.


Seperti saat ini belum sampai Lino menjawab pertanyaan Clara karena pikiran Lino yang sudah ingin segera menikahi gadis cantik didepannya jadi sudah 85% otak Lino menjurus ke arah permezoeman, Clara langsung mendekat lalu membuka kerah baju Lino dan meneliti leher Lino, membuat Lino panas dingin dadakan.


"Bang...leher abang tidak ada tahi lalatnya ya?"tanya Clara sedih dengan muka polos menatap Lino


"Hah?!! memang kenapa dik?!" tanya Lino serak menahan sesuatu yang terpendam yang terbangunkan saat tercium aroma vanilla dari tubuh Clara sangat dekat dirinya.


"Apa kalian tidak sabar menunggu tiga hari lagi, sampai berbuat hal tidak senonoh di rs" ujar suara bass yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Lino.


Hah...berbuat tidak senonoh?....waaah ini orang minta dipaketin ke negara afrika biar bisa bermain dengan Simba


"Apa maumu Nton? kalau bicara pake filter dikit kenapa, kamu itu seorang dokter lulusan Stanford tapi kalo ngomong tidak ada bedanya dengan centeng pasar" ujar Lino meski dengan nada tenang tetapi penuh nada ejekan di setiap katanya.


"Apakah kakak tahu siapa nama dr Raras eeh tepatnya dr Olivia Clara Maharani?"


"Ya jelas tahu, memangnya kenapa?" tanya Lino tenang


"Ooooh jadi kakak tahu bahwa dr Clara ini mendekati kakak untuk mencari informasi mengenai kematian papanya, ooo iya dr Clara ini bukan putri kandung keluarga Wiguna!!"


"Aku sudah mengatakan segalanya ke abang kok" ujar Clara


"Kenapa kamu tidak datang kepadaku, padahal saat kamu menangis menunggu jenasah papamu, saat kamu kebingungan di Harvard dulu itu, akulah yang ada untukmu bukan kakakku yang bodoh ini, kamu menginginkan berkas inikan dokter Clara? ini kuberikan kepadamu" ujar Anton dengan nada tinggi, dan menyorongkan satu map berkas kepada Clara


"Aku sudah tahu siapa yang mengoperasi papa, dan aku sudah berjanji untuk membuang dendam di dalam hatiku, terlebih abang di sini bukan pihak yang bersalah dan berhubungan dengan kematian papa" ujar Clara sambil menggenggam tangan Lino erat.


Anton menatap Clara tidak percaya, bahkan berkas yang dia yakini membuat Clara penasaran dan tertarik untuk membacanya ternyata sama sekali tidak Clara sentuh, boro-boro disentuh, dipandang saja tidak.


"Apakah kamu yakin dr Clara meskipun tahu bahwa kakak pernah melakukan malpraktek sampai pasiennya meninggal?"


"Aku sudah bercerita semuanya ke adik Nton, apa maksudmu dengan semua ini?" tanya Lino masih nggak habis pikir dengan jalan pikiran Anton"


Anton semakin tidak mengira bahwa usaha dirinya dan mamanya untuk memisahkan mereka berdua ternyata gagal total


"Bagaimana mungkin kamu memaafkan dan menikahi pembunuh ayahmu dr Clara" ucap Anton dengan nada tidak percaya.


"Apa maksudmu?!!" seru Clara dan Lino secara bersamaan


"Hahahaha ternyata kakak belum mengatakan bahwa korban malprakteknya bernama tuan Abraham Mahendra yaitu papa dari dr Olivia Clara Maharani Mahendra" ujar Anton dengan tersenyum puas saat melihat pasangan itu terlihat pucat pasi dan saling berpandangan


"Abang katakan bahwa yang dikatakan bajingan itu bohong kan?iyakan?" tanya Clara sambil menggoyang-goyangkan tubuh Lino yang terdiam kaku.


Melihat keterdiaman Lino, Clara langsung membuka berkas yang tergeletak dimeja dan membaca semua yang tertulis kemudian berteriak histeris sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sakit.


"Kita tinggal 3hari lagi menikah, disaat Clara ingin hidup tenang dengan abang, kenapa bang??!!!"


"Maafkan abang dik, saat itu abang sudah mencari putri tuan Abraham tetapi pada saat itu mama meninggal dik.....saat selesai pemakaman mama, abang mencari keberadaan adik bahkan sampai sekarang abang menyewa detektif swasta mencari adik, tetapi semua info tentang adik sama sekali tidak ada" ujar Lino sambil memeluk Clara yang masih berteriak histeris


"Lepas bang....aku mohon" ujar Clara sambil terisak sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"Lepaskan dia kak, dia tidak mau disentuh tangan seorang pembunuh ayahnya" bentak Anton.


Mendengar bentakan Anton, membuat Clara menatap tajam Anton dengan tatapan membunuh, terlebih saat tangan Lino terlepas dari tubuh Clara.


Clara bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, segera menerjang Anton dengan melepaskan kombinasi gerakan tinju jab kanan dan kiri, cross, hook, dan uppercut, tanpa memberi kesempatan Anton tersadar, Anton hanya bisa pasrah dijadikan samsak hidup Clara, bahkan tubuhnya yang tinggi besar dibanting Clara, belum cukup itu Clara menduduki tubuh Anton dan tetap memukuli wajah Anton, Lino dibantu Wisnu memisahkan tubuh Clara dari Anton.


"Berhenti dik, jangan pukuli orang lain ... pukuli abang saja yah" ucap Lino sambil memeluk tubuh Clara yang dia angkat dari tubuh Anton


"Bagaimana Clara memukul abang, sakiit banget bang di sini" bisik lirih Clara sambil menunjuk dadanya.


"Maafkan putraku nak Clara, ini bukan salah Lino, aku yang bertanggung jawab atas segalanya, Lino sudah melakukan yang terbaik"


"Hukumlah aku nak, jangan anakku ....aku mohon" ujar Wisnu sambil bersujud di kaki Clara.


"Hahahaha......." tiba-tiba Clara tertawa terbahak-bahak membuat semua yang berada disitu merasakan apa yang dirasakan Clara sangatlah mengguncang dirinya.


"Dokter Wisnu yang terhormat....apakah anda ingat akan sumpahku dulu? bahwa aku akan kembali dan akan menjungkir balikkan duniamu?maka sekaranglah saatnya kamu melihat siapakah Clara Maharani sesungguhnya......hahahahaha!!!" ujar Clara sambil meninggalkan ruang Lino masih dengan tertawa yang siapapun mendengar tawanya ada kesedihan dan kesakitan didalamnya.


"Diiik...." ujar Lino berusaha menahan Clara.


"Harusnya Clara bahagia ya bang sudah tahu kebenaran dan membalaskan dendam Clara selama 12 tahun ini ke dr Wisnu....tetapi kenapa sangat sakit disini!" ujar Clara kembali melangkahkan kakinya kembali, saat melalui tubuh Anton, Clara berhenti dan memandang Anton dengan tatapan meremehkan.


"Selamat kamu sudah berhasil menghancurkan pernikahanku dan hidupku dr Anton Pradipta!!" ujar Clara.


"Seorang pecundang selamanya akan tetap menjadi pecundang" ucap Clara ketus lalu segera berlari meninggalkan ruang Lino


Tampak diluar kerumunan para suster dan dokter yang penasaran apa yang terjadi


"Bantu calon istriku keluar dari kerumunan itu!" ujar suara bariton dengan nada dingin.


"Baik tuan!!" jawab asisten setianya si tuan muda.


^^^


Jeduaaaar......duuuaaar.....


Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar diiringi suara angin yang menandakan sebentar lagi hujan.


"Claaara!!! dia punya phobia!!" seru Lino.


"Dan tasnya tertinggal kak, buruan kejaar!!" teriak Anton ikut panik.


Lino segera menyambar tas Clara dan berlari menyusul Clara.


Clara yang terus berlari menerjang hujan pergi meninggalkan rs tanpa tahu arah mau kemana, sampai pada suatu titik Clara terduduk di pinggir jalan karena terlalu lelah berlari.


Saat Clara menatap ke langit dia tersenyum dan kembali menundukkan kepalanya.


"Aku sudah tidak takut hujan" gumamnya lirih, tetapi kemudian tubuhnya tidak terkena air hujan, membuatnya bingung dan menengadahkan kepalanya keatas, ternyata ada sebuah payung yang terulur menutupinya.


"Scathje....ayo pulang, nanti sakit!" ujar suara bariton yang membawa payung tersebut.


Clara yang mendengar nama panggilan yang sering Ben ucapkan untuk dirinya langsung tersenyum lebar dan memeluk tubuh pria tersebut sambil menangis.


"Benku sayang, akhirnya kamu datang....bawa aku pergi jauh dari sini Ben, aku sudah tidak kuat hidup tanpa dirimu" ujar Clara sambil menangis kemudian tubuh Clara tiba-tiba meluruh jatuh, untung masih tertangkap tangan pria tersebut.


Tubuh Clara segera diangkat ala bridal style oleh pria tampan tersebut dan membawanya ke mobil mewah miliknya.


"Your Wish is my command Scathje"ujarnya sambil mengecup kening Clara lembut.


"Sam....urus masalah pernikahan Claa, tetap dilanjutkan tetapi ganti nama pengantin pria dengan namaku, dan urus masalah media supaya tidak menimbulkan masalah di keluarga istriku"


"Siapkan pesawat kita pulang balik ke New York" perintah pria tersebut ke asistennya.


"Bagaimana dengan nona Clara, apa kita anter ke rumah keluarga Wiguna tuan?"


"Dasar bodoh...jelas saja istriku harus selalu disisiku, berikan berkas-berkas ini ke pengacara keluarga Wiguna untuk mereka proses secara hukum"


"Baik tuan....maafkan saya!"


Sambil memeluk tubuh Clara dan mencium kening Clara dengan lembut "Kali ini kita tidak akan berpisah lagi Claa, aku janji"


...***...


...The End...


.


.


.


...Tapi boong πŸ˜œπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚...


...Bisa-bisa nanti rumahku dilempari bom atau santet sama para pembacaku kalo cerita ini sudah berakhir nggantung gini ya tohπŸ™ˆπŸ˜±πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’...


...Naah bagi pasukan garis keras si Ben, bersiap-siap yaa... di next episode kita start melihat polah Ben di dunia milenial ini, masih tengil, aneh dan nekat tidak ya?...


...Kalau ada ide langsung ditulis di comment yah, karena ide-ide tengil kalian itu bener-bener sesuatu loo Gumapta yaahπŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ’–...